Saturday, 10 March 2018



Suara hati

Kulihat angka-angka hari
Berjejer memegang pundak
Kemudian berjalan bergantian
Kambium batang pokok pohon mangga
Merangkai panjang hidupnya sendiri

 Ku berjumpa rama-rama di hutan rimba
Sedang berusaha keluar dari kepompong
Sesegera mungkin ingin lahir
Dan menghirup keserakahan alam
Bersama tumbuh-tumbuhan yang ramah
Embun pagi menguap
Menjelma menjadi tetesan butir air
Bersama awan yang menangis
Pelangi membujur diangkasa menawan
Seolah memberi pesan hidup
Hidup bak sebuah roda
Kadang berhenti di halte kesedihan
Kemudian berlabuh di tengah kebahagiaan

Pelangi melangkah menghampiriku
“sobat, kapan kau akan menggenggamku?”
Menggenggammu dengan siraman kesabaranku
“sobat , kapan kau akan bercanda denganmu?
Bercanda dengan kicauan ketulusan jiwaku
Ia mengatakan , kami termat menanti
Sebuah kelapangan dadamu, sobat
 Aku tergesa-gesa berlari
Menyusuri tapak demi tapak jalanan
Menuju ke bait Allah, mesjid
Diatas sajadah hijau itu
Aku merendah dihadap-Nya
Sujudku khidmat
Air mataku menenggelamkanku
Bersama imaji diluar khayalku
Bulu romaku rasanya asing
Dia berdiri , menggigil dan ketakutan
Hatiku bergetar , dag dig dug!
Duh, hampir tak mengenal siapa diriku?

Resah menggeliat di batinku, Ya Rahim
Terbentur ribuan kali
Selama berpuluh tahun
Mengarungi keliling samudera
Yang tak bertepi

Menyusuri  hamparan kerendahan hati padi
Memandang jangkalan jarak begitu jauh
Yang menyelangi langit dan bumi

Aneh...
Dimana aku sekarang, Rabb?
Kapan aku kembali?
Aku rindu ketika udara pagi
Mengelilingi dengan kegirangan
Aku rindu perhatian air
Yang tak jemunya deras melaju
Aku rindu ketika kutatap angkasa
Disana awan membentuk mimpi
Tersenyum manis denganku setiap hari

Ya Allah..
Aku masih mencari kaki langit
Yang di telan perut bumi
Seribu tahun silam
Bangun, bangun, bangun..
Teriak pelangi dari kejauhan
Bergegaslah, rapikan tekadmu
Bentuk bungkusan semangat
Injak kata berputus asa

Berkelana menyelami labirin
Lika liku hidup yang tak berujung
Sampai tulanhmu remuk
Ditelan detikan sang waktu

 Senyum simpulku menyingsing
Kini, dia merubah rona wajahku
Yang semula pilu jadi haru
Tak ingin menanti keibaan hati
Si hujan lagi

Warna-warni ceria masa SMA-ku
Telah berdiri disana, menantiku
Duka , duri nestapa sudah terlempar
Menjauh terkubur masa

Wahai alam,
Kupinjam kicauan kenari
Sebagai pengingatku
Kupinjam dedaunan
Sebagai energiku
Kupinjam akar tumbuhan
Sebagai penopang ku
Kupinjam batang beringin
Untuk menghantarkanku ke puncak kebahagiaan
Wahai langit,
Kutitip airmataku pada gumpalan awan
Kuambil fajar sebagai penerangku
Kuminta bintang untuk penghias sedihku

Tanah airku,
Tumpah darah dan jiwa ini
Indonesia
Bumi pertiwi yang gemah ripah
Biarkan kakiku menapakimu
Menuju cahaya kebahagiaanku
Ya gusti semesta ini
Bangunkan aku dari tidur panjangku
Ubahlah suara hatiku..



Silahkan tinggalkan komentar dan terimakasih sudah meninggalkan komentar.

NANDA SRI WAHYUNI PULUNGAN . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates