Kulihat angka-angka hari Berjejer memegang pundak Kemudian berjalan bergantian Kambium batang pokok pohon mangga Merangkai panjang hidupnya sendiri
Ku berjumpa rama-rama di hutan rimba Sedang berusaha keluar dari kepompong Sesegera mungkin ingin lahir Dan menghirup keserakahan alam Bersama tumbuh-tumbuhan yang ramah Embun pagi menguap Menjelma menjadi tetesan butir air Bersama awan yang menangis Pelangi membujur diangkasa menawan Seolah memberi pesan hidup Hidup bak sebuah roda Kadang berhenti di halte kesedihan Kemudian berlabuh di tengah kebahagiaan
Pelangi melangkah menghampiriku “sobat, kapan kau akan menggenggamku?” Menggenggammu dengan siraman kesabaranku “sobat , kapan kau akan bercanda denganmu? Bercanda dengan kicauan ketulusan jiwaku Ia mengatakan , kami termat menanti Sebuah kelapangan dadamu, sobat Aku tergesa-gesa berlari Menyusuri tapak demi tapak jalanan Menuju ke bait Allah, mesjid Diatas sajadah hijau itu Aku merendah dihadap-Nya Sujudku khidmat Air mataku menenggelamkanku Bersama imaji diluar khayalku Bulu romaku rasanya asing Dia berdiri , menggigil dan ketakutan Hatiku bergetar , dag dig dug! Duh, hampir tak mengenal siapa diriku?
Resah menggeliat di batinku, Ya Rahim Terbentur ribuan kali Selama berpuluh tahun Mengarungi keliling samudera Yang tak bertepi
Menyusuri hamparan kerendahan hati padi Memandang jangkalan jarak begitu jauh Yang menyelangi langit dan bumi
Aneh... Dimana aku sekarang, Rabb? Kapan aku kembali? Aku rindu ketika udara pagi Mengelilingi dengan kegirangan Aku rindu perhatian air Yang tak jemunya deras melaju Aku rindu ketika kutatap angkasa Disana awan membentuk mimpi Tersenyum manis denganku setiap hari
Ya Allah.. Aku masih mencari kaki langit Yang di telan perut bumi Seribu tahun silam Bangun, bangun, bangun.. Teriak pelangi dari kejauhan Bergegaslah, rapikan tekadmu Bentuk bungkusan semangat Injak kata berputus asa
Berkelana menyelami labirin Lika liku hidup yang tak berujung Sampai tulanhmu remuk Ditelan detikan sang waktu
Senyum simpulku menyingsing Kini, dia merubah rona wajahku Yang semula pilu jadi haru Tak ingin menanti keibaan hati Si hujan lagi
Warna-warni ceria masa SMA-ku Telah berdiri disana, menantiku Duka , duri nestapa sudah terlempar Menjauh terkubur masa
Wahai alam, Kupinjam kicauan kenari Sebagai pengingatku Kupinjam dedaunan Sebagai energiku Kupinjam akar tumbuhan Sebagai penopang ku Kupinjam batang beringin Untuk menghantarkanku ke puncak kebahagiaan Wahai langit, Kutitip airmataku pada gumpalan awan Kuambil fajar sebagai penerangku Kuminta bintang untuk penghias sedihku
Tanah airku, Tumpah darah dan jiwa ini Indonesia Bumi pertiwi yang gemah ripah Biarkan kakiku menapakimu Menuju cahaya kebahagiaanku Ya gusti semesta ini Bangunkan aku dari tidur panjangku Ubahlah suara hatiku..
|
Silahkan tinggalkan komentar dan terimakasih sudah meninggalkan komentar.