Saturday, 10 March 2018



KUNTUM BUNGA



Bumi tak kunjung mengeluh
Mendayung dan terus mendayung
Mengitari poros pada orbitnya
Angin tak jua letih
Merayapi sekujur tubuhku
Tanah permadani tempatku berpijak
Seakan muak melihatku berjalan
Dengan seiring bergantinya kenangan
Mengapa dingin berganti panas?
Mengapa es perlahan meleleh ?
Mengapa embun juga menjelma menjadi uap?
Kenapa kau memilih tak berucap?
Kenapa kau semakin angkuh, kawan?
Tak mau mengorek sedikit kasihmu
Kini airmata susah dicari
Insan tak layak nya membalikkan tangan
Dunia tak berkata
Aku sebatang kara
Duduk terpaku , mengiba kemurahan-Nya
Tiada yang  mau menopang bahu ini
Tiada ingin menyulap peradaban
Generasi muda,
Mengapa bertopang dagu?
Kuntum bunga indah menanti
Aku terhanyut dalam tetesan airmata
Tenggelam bersama arus detik zaman
Jikalau sebatang lidi
Manalah mungkin gunung asri
Mana bisa sungai berayun murni
Dimana kita yang dulu, kawan?
Tujuh puluh tahun berlalu kita merdeka
Tujuh dasarwarsa laksana titik di lautan
Bilamana tak mau bangun asa
Hanya kita yang bisa beri makna
Untuk apa pahlawan pejuang kemerdekaan
Telah pulang ke kandungan ibu pertiwi, Indonesia

Ya ,
Waktu silam hanya tertutup
Dibungkus awan hitam pada bulan purnama
Ya,
Ribuan tahun lalu dulu mereka terikat satu
Sejarah telah melibat kepulauan ini
Dalam berbagai latar beragam
Perlawanan mencuat dimana-mana
Menaburkan benih-benih patriotik
Di sepanjang lintasan persada nusantara
Diponegoro, Pattimura, Imam Bonjol, Hasanuddin
Yang tak terbilang warnanya

Betapapun gelap era penjajahan
Alam cerah bermandi surya senantiasa
Gelombang lautannya bergulung asyik
Membuih membasuh pasitr pantai pulau-pulaunya
Sawah, ladang hijau membentang
Sejauh mata ini memandang

Puji dengan berjalannya syukur kepada Rabb..
Allahu Akbar
17 Agustus 1945
Mandala peperangan di laut teduh
Sampai pada babak akhir
Segenap mesiu membeku seakan mengambang

Bom atom yang membuat Hiroshima
Di payungi jamur raksasa yang tiada taranya
Tamatlah sebuah peperangan dahsyat
Bermulalah satu babak:
Proklamasi kemerdekaan indonesia
Merdeka sekarang juga
Sekali merdeka tetap merdeka..

Globalisasi  kini dijabat oleh Indonesia
Facebook, twitter , youtube
Mulai jadi santapan lezat anak muda
Sinar cinta dan pacaran di prioritaskan
Negara sudah diurutan sekian
Pergaulan sembraut mewabah bak virus
Terjun bebas bersama arus hedonisme
 Hei kawan,
Jangan kita patahkan
Kuntum bunga patriot berhati emas
Sekali lagi , jangan  kawan!
Saat ini, terpikul pada punggung kita
Singsingkan lengan baju
Terikat dalam derap langkah satu
Hentakan indah dan merona
Menuju pencapaian sebuah kuntum bunga

Silahkan tinggalkan komentar dan terimakasih sudah meninggalkan komentar.

NANDA SRI WAHYUNI PULUNGAN . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates