Aku
Loncat-loncatan pikiranku membingungkan
Tarik-tarikan nafasku mengharukan
Meronta tak kuasa orbital sel darahku
Menyimak momen yang mengalir mendesah
Menuju akhir zaman kenistaan
Berlari mengejar hologram, gelombang fatamorgana dunia
Menggali beton dengan tangan kosong
Sungguh, itu hanya senandung kesia-sian belaka
Ada kesedihan yang aneh hari ini
Ini bukan jenis yang membuatku kosong atau kesepian
Atau bahkan mendamba
Ini bentuk kesedihan yang hening
Teka-teki silang ini terlalu mudah di isi
Juga determinasi toksikologi over
Mencucuki etalase kening menembus otak
Menggerungkan bahana pekak gendang telinga
Hidup ini
Bukan hanya sekedar memasukkan bola ke gawang lawan
Mendapat poin seperti layaknya mendapatkan hati Tuhan
Bukan!
Namun,
Kita harus menguras otak, perbaiki niat dan bermunajat!
Kita mau memasukkan bola ke gawang,
Untuk apa? Dan untuk siapa?
Prosesnya rumit, estetika menentang problema dinamika naik turun,
Satu gawang diperebutkan banyak nyawa,
Namun, satu hatiNya untuk semua orang yang beriman
Aku berdiri di tepi sebuah jalan raya
Debu dikipasa dalam campuran asam arang yang tajam
Dan matahari memandang ku dengan gamang
Cahaya menyembur seperti logam yang terpanggang
Rentetan kejadian memanjakan mata
Anak murid menunduk
Dan mengucapkan salam kepada gurunya
Anak murid mematuhi aturan sekolahnya
Anak murid rajin dan semangat belajarnya
Anak murid punya mimpi dan cita-cita
Karena,
Anak murid adalah serdadu warna-warni tulipa
Kirimkan sinyal tegaknya masa depan
Karena kita adalah lukisan Indonesia yang akan berlari di masa mendatang
Dan aku,
Aku rindu pada zaman yang ikhlas dan bersahaja itu...