Saturday, 10 March 2018



                                                                                    Paradoks 1
                         Mimpi


Bumi Allah memancarkan aroma harum kasturi. Semerbak harumnya merambat se antero penjuru labirin-labirin di dunia. Luar biasa. Lapisan atmosfir membentuk lekukan yang tiada disangka-sangka, indah , mempesona turut merangkai wajah perawakan bumi ini. Senyuman. Bak simpul kebahagiaan dari pancaran sebuah ketakjuban alunan demi alunan setiap huruf Al-Quran yang keluar dari setiap hati yang ikhlas membaca dan memahami kumpulan hijaiyah bermakna mengubah peradaban islam. Syahdu. Deretan kata syukur senantiasa mengalir begitu derasnya. Mengalir bersama bisikan kalimat “Subhanallah, alhamdulillah, allahu akbar!!!!!!”.
Manusia adalah khalifah terbaik di atas bumi Allah ini. Pemimpin untuk dirinya sendiri. Hati yang mengkordinir segala macam nafsu. Hati adalah raja diantara anggota-anggota tubuh . Begitu juga hati adalah sarang mewabah nya berbagai ragam penyakit yang paling menyakitkan. Penyakit dengki dengan bahasa gaul anak muda zaman sekarang , penyakit SMS ( senang melihat orang susah,susah melihat orang senang).
MasyaAllah. Penyakit sombong,  ria , dan lainnya adalah sesuatu yang mengerikan. Namun , jika hati kita bersih, nikmatnya itu tak terkalahkan sekalipun di adu dengan Chrissh John, Sang Petinju rekor dunia itu.  Taat adalah nikmat. Lukisan balutan-balutan asa sudah mulai terlihat jelas mengambang di depan mata. Bak Khadijah bin khuwalid,  istri Rosulullah yang paling Baginda cintai yang setia bersamanya dalam suka dan duka, seorang muslimah yang patuh,cerdas dan tekun, Humaira menyebut dirinya “Sang Pemimpi”. 
Humaira Zafratunnisa seorang anak asli kelahiran Tanah Bumi Gordang Sambilan. Anak pertama dari 2 bersaudara. Terkadang ia di panggil Ira. Dia sangat suka sekali membaca novel. Salah satunya novel-novel karya Andrea Hirata dan juga Asma Nadia. Setiap dia punya uang lebih ia selalu saja menyisihkan uangnya untuk membeli novel. Tak tau bermula dari mana ia menyukai novel dan sering membaca nya yang jelasnya semenjak gurunya memberinya sebuah novel yang berjudul “Surat Kecil untuk Tuhan”,  itu novel yang pertama ia miliki waktu smp dulu. Humaira sangat suka sekali membaca kata demi kata yang terhimpun dalam lembaran-lembarannya. Keke adalah sosok gadis remaja yang sangat tangguh berusaha melawan ribuan penyakit yang menggerogoti sekujur tubuhnya. Setiap orang pasti kagum melihat ketulusan hatinya begitu juga dengan Humaira.
 Keke menjadi salah satu motivatornya. “Keke  menderita penyakit kanker  yang divonis dokter hidupnya tidak akan lama lagi karena penyakitnya kian merambat di sel-sel tubuhnya masih semangat menjalani hidup dengan berbagai kemungkinan-kemungkinannya, kenapa aku tidak bisa seperti nya, mencontoh semangat hidupnya, aku sudah diberi kesempurnaan fisik masih saja bermalas-malasan, apa aku tak malu akan itu??, Aku malu kepada diriku sendiri,harusnya kamu bersyukur Humaira, bersyukurr…”, jeritnya penuh renungan dalam hati.
Waktu laksana kuda liar jika sang majikan mencambuk nya , ia berlari terengah –engah maju melewati padang pasir yang panas dan gersang. Kuda adalah hewan yang mulia , itu kata burung bayan. Ekornya yang panjang yang akan bergerak-gerak sejalan dengan nada langkah kakinya, mata penglihatannya yang tajam, kaki yang memiliki tapal yang kokoh ia pergunakan dengan sangat-sangat baik sekali. Ia sudah banyak membantu Rosulullah, para sahabat dan syuhada yang berjihad di jalan Allah maupun para penentang Islam dan kaum kafir Quraish dulu ketika masa peperangan sedang berkobar di daerah Mekkah.
Kuda adalah saksi bisu berlumur nya jutaan deras nya darah yang tumpah ruah di padang pasir yang gersang. Jarang dijumpai sebatang pohon yang ditetesi air embun diatas daunnya, hanya pohon kurma yang menjadi pelanggan sejati tempat itu.  Kisah yang tak pernah terlupakan sepanjang abad sejarah islam dan kuda ada bersama tirani kisah beribu tahun silam tersebut.
Hidup terus berlari kedepan , cepat ataupun lambat tetap saja ia tidak akan pernah mundur ke belakang. Supaya bisa berguna, harus belajar untuk mengendalikannya. Jika bisa mengendalikan waktu , kemungkinan besar stress akan hilang. Memang bakalan banyak tantangan, tapi harus yakin bisa untuk melakukannya.
Novel “Sang Pemimpi” adalah salah satu novel favorit Humaira. Mimpi serupa alur yang terus menghantuinya, merangkai detik per detik waktu dalam hidupnya. Ia sangat percaya sekali akan kekuatan mimpi. Menurutnya, sukses bukan bayangan tapi pilihan yang bisa diraih siapa pun dan kapan pun. Logika yang bermain main bersama angan dan imajinasi,  pena yang tak jemu selalu menulis mimpi  hanya akan tertuang dengan adanya ikhtiar dan doa.
Mimpi tak ubahnya udara, udara akan di hirup oleh setiap makhlup hidup untuk bisa melakukan sebuah siklus pernafasan. Mimpi harus di tanam dan di realisasikan mulai dari sekarang. Saat kapas putih berjalan beriringan, mimpi berlari dan berkejar-kejaran dengan semangat yang menggebu-gebu.
                           

Paradoks 2
Senandung sopran

      

“Hey, Humaira ... bangun!!!”
“Bangun, bangun , bangun......!!!” ucap Zulaikha letih.
“Sudah subuh , sholat dulu sana..., ini anak gadis susah sekali dibangunin nya!”
 “Iya , iya .. aku bangun” .
“ Makasi ya sudah membangunkan aku, maaf aku bangun nya susah ya? Hehehehehe..”, tawanya kecil.
Zulaikha adalah sahabat baru Humaira. Mereka satu tempat kos di salah satu area rumah susun di Jakarta. Zulaikha  dan Humaira sekolah di Universitas yang berbeda. Humaira sekolah di Universitas Negeri berbasis islam. Sementara Zulaikha adalah mahasiswa matematika di salah satu Universitas Swasta Jakarta. Mereka bertemu di pusat perbelanjaan , Tanah Abang. Pada waktu itu, dompet Zulaika di copet, kebetulan Humaira ada disana . Humaira lihai dalam bermain karate. Ia pernah belajar kepada kakek yang baik hati yang pernah di temuinya dulu di jalan sewaktu ia asyik memunguti sampah bersama anak jalanan untuk modal hidupnya di Ibukota .
Karena kebaikan Humaira, Zulaika mengajak Humaira untuk tinggal bersamanya di rumah kos nya. Rumah susun bertingkat 10 yang sudah tidak jarang lagi di temukan di pinggiran kota Jakarta. Pada waktu itu Humaira kebingungan dan tak tau sepasang kakinya dilangkahkan kemana. Hidup di dunia menanggung duka, habis duka suka pun tiba.  “Perumpamaan (nafkah yang di keluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir,pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha-luas (karunia-Nya)lagi maha mengetahui”.1
Zulaikha pemeluk agama Kristen. Namun Ia mempunyai jiwa toleransi yang tinggi. Jika Humaira terlambat bangun untuk sholat atau lupa waktu solat karena aktivitas perkuliahan yang begitu padat, Zulaikha yang selalu mengingatkan Humaira untuk sholat.
Zulaikha sering Humaira panggil Ika biar agak gaul sedikit katanya.Walaupun tak beragama islam, Ika sedikit banyak tahu tentang Islam.
Memang seharusnya antar umat beragama begitu , saling menghargai segala  perbedaan-perbedaan yang ada. Ketika dulu waktu zaman kafir Quraish karena kehabisan cara untuk bertipu daya dengan Rosulullah Saw.  mereka memberikan beberapa tawaran kepadanya.
 “Wahai Muhammad!, kami beri kepadamu kekayaan yang banyak meliputi semua kekayaan yang kami miliki dan akan kami kawinkan engkau dengan yang engkau kehendaki, tapi kau harus mau menyembah tuhan kami selama setahun lamanya!”,
“Aku akan menunggu wahyu dari Tuhanku”, Rosulullah menjawab dengan sangat penuh keyakinan, tak ada sedikit pun keinginannya untuk  musyrik 2.  Katakanlah Muhammad: "Hai orang-orang kafir!”.Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”.3  Toleransi bukan saja terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap alam semesta, binatang, dan lingkungan hidup. 
    “Selesai sholat subuh nanti, bantuin aku menyusun baju ke koper ya, Ika”, kata Humaira dengan mata berkaca-kaca.
         “ Cieeeeee......... yang mau siap-siap ke Kairo!!” rayu Ika penuh canda.
         “Issh,, apaan sih.. kamu mau atau tidak?”
         “Iya, iya... apa sih yang enggak buat sahabatku yang manis inii...” Ika merangkul Humaira dengan  senang sambil mencubit pipi kanan Humaira yang merah menyala.
Matahari mulai bangun dari tidurnya dan sudah tak sabar menerangi alam semesta.  Tetasan embun  sudah menguap menjadi butiran air ,di atas pori- pori daun ia berhenti. Embusan angin meraung-raung gembira mendengar kabar keberangkatan Humaira. Hari itu  adalah jadwal keberangkatan Humaira ke Kairo. Ia mendapat beasiswa S2 di Universitas Al Azhar. Humaira memang sangat terkenal rajin , ulet dan tekun oleh teman-temannya. Pembawaannya yang santai namun terarah mempermudah ia untuk bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya.
Burung-burung bersenandung sopran disekeliling Humaira seolah ikut merasakan apa yang dia rasakan.            
“ Terimakasih ya Allah”, gumamnya dalam hati.



                         

  Paradoks 3
    Berkelana


Jantung yang berayun-ayun gembira , tak dapat terlukis kata. Kupu-kupu berwarna – warni selang seling  bermain berputar di sekeliling Humaira. Hati yang senantiasa tak kunjung lelah bertasbih. Jiwa yang senantiasa bersyukur. Seumpama kereta api yang sudah berjalan dari stasiun pertama tidak bisa berhenti sebelum sampai di stasiun kedua. Begitu juga dengan Humaira , wanita berkulit sawo matang dan hidung pesek dan agak sedikit cerewet yang  begitu identik dengan ciri orang Mandailing karena ia sangat tidak suka ketidak disiplinan. Sudah menancapkan tajam dalam dirinya tak akan menyerah sebelum sampai kepada tujuan, mengejar matahari. Disiplin menurutnya adalah ketika ia konsisten terhadap apa yang ia inginkan. Dan tidak berhenti sebelum keinginan yang sudah tergenggam erat di kepalan tangannya terwujud terpampang di depan matanya.
Deretan ubin-ubin berbentuk persegi putih yang tampak berkilau dan bersih. Ruangan yang luas terlihat jejeran bangku hitam yang berdampingan dengan eloknya. Para pegawai piawai cleaning service ,  pria maupun wanita sudah siap mengemban tugasnya masing-masing, ada yang sudah menggenggam sapu , kain pel maupun pembersih kaca, beragam sekali macam pekerjaannya . Mereka begitu bersemangat dalam bekerja. Ornamen – ornamen yang terletak disetiap sudut ruangan tertata dalam tatanannya. Dengan kehangatan pendingin ruangan yang membuat suasana menjadi asri.
Humaira datang terlalu cepat.  Walaupun para pengunjung yang hendak bepergian ataupun juga yang hanya sekedar jalan-jalan dan mengantarkan kerabat sudah mulai memadati bandara itu. Kaki berjalan langkah demi langkah menyusuri tiap jengkal ruangan, koper-koper yang Humaira bawa sudah penuh dengan pengharapan yang hendak ia isi dengan ilmu , baik ilmu dunia maupun akhirat . “Jika kamu ingin bahagia di dunia maka hendaklah dengan ilmu, jika kamu ingin bahagia di akhirat , hendak lah dengan ilmu dan jika kamu ingin bahagia di dunia dan akhirat hendaklah juga dengan ilmu”.4
“Ya Allah, aku berkelana di negeri asing , haribaan jiwaku , untukmu, Indonesiaku..” bisiknya dengan hati sambil melakukan proses inspirasi dan dilanjutkan dengan ekspirasi. “Bismillah tawakkaltu alallah, lahawla wala quata illa billahil aliyyil adzim”.5

Balutan jilbab panjang yang menutupi seluruh tubuh Humaira itu di jadikannya menjadi identitas mutlak . Sebagaimana pesan umak 6nya.Yang dapat membedakannya dengan orang lain . Jilbab panjang berwarna hijau teduh bermotif bunga polos yang dipakainya itu adalah hadiah kado dari umaknya di hari ulang tahun nya waktu kelas V esde 7 dulu. Dan sampai sekarang masih saja ia simpan dan ia bawa kemanapun ia pergi.
 “Umak e malungun doma au ji umak dah”8, peliknya dalam hati dengan menggunakan bahasa daerahnya, Bahasa Mandailing. Hidup di perantauan memang seperti itu penuh dengan cercaan kerinduan semu.

***

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, ukhti...”, seorang wanita yang memakai kerudung lembut motif garis-garis hitam itu memulai percakapan.
“Walaikum salam warahmatullah , ukhti..”, jawab Humaira agak sedikit kaget karena ia tidak mengenal sama sekali wanita bertubuh tinggi, kulitnya putih alami,hidung bak perosotan anak teka9 seperti bule.
What is your name?”
“My name is Humaira, Humaira Zafratunnisa.. and you?”
           “ The good name,ukhti.. my name is Sahara Jamilah.. J
            “Dari mana kamu berasal?”  ucap Humaira  dengan santai.
             “Saya dari Palestina, Humaira!”balas Sahara. Ternyata Sahara bisa berbahasa indonesia.
“Jadi kamu datang ke Indonesia untuk apa?”
           “Ibuku sakit., dan Aku tidak mempunyai uang untuk membeli obat untuk Ibu”
“Aku tidak tega membiarkannya di rumah, tiada memiliki teman di sisinya untuk memotivasinya  melawan ribuan penyakit yang semakin menggerogoti sel- sel  tubuhnya yang mulai mengalami penuaan demi penuaan dan  renta. Umurnya kini sudah mencapai 80 tahun.  Aku sangat menyayangi Ibuku, melebihi segalanya dalam hidupku , dia matahariku ”, lanjut Sahara menjawab pertanyaan Humaira dengan air mata yang berlinang-linang.
“Jangan menangis, sahara.., ia pasti akan baik-baik saja.., pergilah sudah siang..” jawab Humaira berusaha menberikan solusi kepadanya.



Pertemuannya dengan sahara semakin mengingatkan Humaira dengan sosok seorang Ibu. Umak? Apa kabarmu disana?
           Kalau Humaira ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan,
Namamu Ibu, yang kan ku sebut paling dahulu,
Karena kau adalah bidadari yang mengajariku menulis langit biru dengan sajak mimpiku.
Nadir qalbu sunyi. Elegi bermuara dalam tetesan yang membanjiri pipi Humaira, wanita 24 tahun itu duduk menyendiri di bangku belakang diantara halu balang ribuan manusia yang memenuhi dimensi ruang bandara. Melintas sejenak di pikiran Humaira lagi tentang gadis palestina tadi, Sahara.
“Bagaimana keadaan masyarakat muslim di Palestina sekarang?”,pertanyaan itu berkalut dalam hati kecil Ira.
“DOORRRRR..... DOORRRRR.... DORRRR ....!!!!”.
 Khayal Humaira mulai berkelana . Peperangan masih bungkam di setiap sudut Gaza , Palestina . Ribuan rakyat Palestina di boikot oleh Israel , nyawa melayang di telan perantara udara yang bergerak lurus dan bebas dengan peluru-peluru hitam nurjana, begitu cepat menembus diberbagai jaringan tubuh mereka. Terlayang kabar di angin selayang berita tabahmu Baitulmaqdis, kami disini rakyat Indonesia cemas dan bimbang , hati dalam kembang kempis. Tampak dengan nyata bayangan nasibmu , Palestina. Kami memandang hiba dan sayang. Kami merasakan apa yang kalian rasakan. Kita sahabat lebih dari ikatan satu agama.
Dan masih terpintas jelas sekali ketika Humaira menonton televisi yang mini yang memiliki banyak penggemar, layar nya hitam putih,jika ia di mulai menyala, warga pasti berhamburan mendekatinya. Di rumah mereka hanya memiliki tv semacam itu, itupun dibeli di toko barang-barang bekas waktu umurnya 8 tahun. Ia beserta Abdullah, adiknya,melompat-lompat girang ketika ayah nya turun dari becak dan mengangkat tv tersebut. Selama ini mereka hanya menumpang ke rumah tetangga jika sewaktu-waktu ingin menonton kartun kesukaan mereka, Upin-Ipin. Ketika beberapa bulan lalu tepatnya tanggal 31 juli ia merayakan hari ulang tahunnya dengan Ika walaupun hanya dengan memasak beberapa kilogram mie kuning dan membagikannya kepada anak-anak yatim di sekitar susun.
Humaira menatap tajam berita yang disiarkan tersebut, Ibunda dari bayi Ali Dawabsheh yang baru menginjak 18 bulan tewas terpanggang dalam serangan pembakaran di Tepi Barat akhirnya meninggal dunia. Riham Dawabsheh demikian Ibundanya disebut meninggal dunia Ahad  tertanggal 6 September malam di sebuah rumah sakit ‘Israel’ akibat menderita luka bakar tingkat tiga karena sekitar 80 persen tubuhnya terbakar.


Ribuan warga Palestina menghadiri pemakaman Riham. Ia dimakamkan di desa Duma, berdampingan dengan anak dan suaminya yang meninggal dunia bulan lalu. Riham meninggal dunia hanya beberapa jam sebelum hari kelahirannya, 6 September. Sementara suaminya, Saat Dawabsheh meninggal pada 8 Agustus, di hari perayaan ulang tahun pernikahan kedua mereka.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun”10.
            Di Palestina anak- anak kecil menangis tiada hentinya , meratapi nasib yang tiada kunjung berhenti. Tapi berbahagialah Palestina, kemenangan sejati akan menjelma , bersabarlah.. Kami disini senantiasa mendoakanmu. Humaira adalah seorang yang sangat peduli dengan segala yang berhubungan dengan agama nya. Islam adalah agama yang paling mulia di sisi-Nya. Berkelana dengan berorientasikan islam.























               Paradoks 4
                  Takjub


“Di mohon perhatiannya! Untuk semua penumpang Saudi Arabian Airline maskapai penerbangan Arab Saudi. Dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara King Abdul Azi di Jeddah. Pesawat akan berangkat pukul 14.00 WIB”,  terdengar dengan jelas suara dari mikropon kecil di meja resepsionis.
Dilihatnya jam tangan biru tua berbentuk bulat yang melingkar di tangan kiri. Jam tangan pertama yang dimilikinya dengan uang tabungannya sendiri ketika dulu waktu masih smp, sudah lama sekali.
 12.30 WIB.
Waktu sholat zuhur sudah masuk. Humaira bergegas ke mesjid yang tak jauh dari ruang tunggu. Humaira merebahkan tubuh nya disalah satu jejeran shaf-shaf barisan sholat berjamaah.
    “Ya Allah...
Dikala ku senang ,
Dikala ku sedih ,
Di saat nestapa maupun gembira menghampiri..
Ku mohon padamu, Rabb..
Selalu ada bersama ku..
Di atas sajadah berjahitkan mesjid yang mulia
Di atas kertas putih bergaris ini,
Penaku melambai-lambai,,
Memanggil nama-Mu yang menari bersama doaku
Ajari aku mencintai Mu ..
Ajari aku untuk selalu mengingatmu dimana pun hatiku..
InsyaAllah aku akan menjelajah, mengejar ilmu,
Ridho-Mu ku damba mengalir bersama derap langkahku
Langkah ku menuju tanah haram ,,” Humaira menulis beberapa kalimat di buku hariannya.

            
Setelah selesai sholat zuhur, Humaira keluar dan menjauh pergi meninggalkan mesjid.Lega rasanya.. Ingin berkawan akrab denganNya sepanjang desisan nafas yang berhembus. Waktu terus berlalu, ketika Humaira berjalan menuju  lobby11   keberangkatan, Humaira bertemu dengan teman lamanya. Humaira sudah lama sekali tidak bertemu dengan Marwah teman sebangku nya dulu waktu smp di Jakarta. Giginya  kecil-kecil berbaris rapi , ia memiliki lesung pipi. Jika ia tersenyum laki-laki akan terpesona , rambutnya yang terurai setiap datang ke sekolah menghumbar nafsu kaum adam. Alhamdulillah, Humaira sudah istiqomah menutup auratnya sejak ia kecil.
Namun hari ini Marwah terlihat begitu berbeda, rambut hitam nya yang wangi sudah tertutup oleh balutan jilbab panjang . Ia cantik sekali hari itu dengan jilbab bergambar bunga mewah dengan hiasan bross nya. Dia semakin anggun . Subhanallah!! Perubahan yang drastis.
“ Marwah? Hal apa yang membuat mu untuk mengenakan jilbab sekarang?”, tanya Humaira penuh antusias.
“Begini Humaira,..” Marwah mulai bercerita.
Setelah tamat smp dulu , ayahku mendapat tawaran kerja di Jakarta untuk bekerja di sebuah toko yang sedang membuka lowongan pekerjaan , gajinya sangat lumayan di bandingkan gaji ayahku yang sekarang.Aku pun tidak tau jelasnya.Ibu juga sibuk dengan urusan nya sendiri, dengan belanja barang mahal bersama teman arisannya. Ibu juga ingin ikut dengan ayah aku tidak terlalu mementingkan tentang itu. Kamu tau sendirikan? Aku jarang sekali di perhatikan ayah,ibuku, aku hidup dengan diriku sendiri, dan mereka juga hidup dengan urusannya masing-masing. Aku hidup dibawah asuhan pembantu. Sebenarnya, walaupun aku tidak pernah bercerita bahwa aku sangat kesepian, karena setiap pulang sekolah rumah selalu saja sepi. Seperti rumah tak berpenghuni. Di rumah hanya ada aku dan bibi Halimah.
Kalau boleh memohon , aku selalu memohon kepada Allah supaya bisa berkumpul , duduk bersama di ruang makan. Menurutku , apa gunanya  kekayaan yang berlimpah ruah, itu hanya kesenangan semata. Tak ada artinya di mata Allah SWT. Seharusnya setiap orang tua itu bisa mengatur dan membagi waktu bekerja dan berkumpul bersama dengan keluarga.
Awalnya aku juga di minta untuk ikut kesana. Tapi aku tidak mau, aku lebih memilih untuk hidup ber-asrama saja di sebuah sma negeri di Jakarta. Walaupun sekolah negeri tapi aku banyak sekali mendapat pengalaman baru dan pelajaran yang mengubah hidupku. Hijrahku ini , insyaAllah karena Allah Swt”, Marwah berhenti menghela nafas, Humaira hanya diam dan mendengar cerita Marwah.


“ Terus, terus... gimana lagi?” potong Humaira.
“Sebagai seorang muslimah kita sudah di wajibkan untuk menutup aurat, sebagaimana yang di firman kan Allah dalam Q.S: Al-Ahzab/33,59 : Wahai Nabi! Katakanlah kepada isteri-isteri mu, anak-anak perempuanmu da  isteri-isteri orang mukmin,hendaklah mereka menutup kan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka .Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak di ganggu. Dan Allah Swt. Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang”,Marwah membacakan salah satu ayat Alquran.
“Subhanalllah....,Marwah!” kata Humaira senang.
“Semoga kau tetap istiqomah yah,..”
           “Aamiin..”
    Marwah mengingatkanku akan sosok Ririn dan bu Zainab.
“Eh, kamu mau kemana ,Humaira ?”
“Alhamdulillah aku dapat beasiswa S2 ke Kairo, kamu sendiri mau kemana?”
“Aku hanya mengantar adikku, Muazd, dia mau mengikuti lomba di Yogyakarta”.
“Ooohh... ya sudah, aku pergi yah, mohon doanya”.
“Oke , hati-hati di jalan, sukses belajarnya...”
“Assalamualaikum Humaira,.”
“Walaikum salam, Marwah..”,Humaira pergi meninggalkan Marwah.

***

Kaki langit menopang beban berat bumi ini, bintang merangkai setiap malam untuk terus berganti menjadi siang, seiring dengan berjalannya waktu, perubahan bisa terjadi kepada siapa pun dan kapan pun itu. Peluangnya itu satu bukan nol.
Inna mal aqmalu bin niat, wa inna ma li kullim ri im manawa”, semua amal tergantung pada niat, dan seseorang akan mendapatkan hasil dari sesuatu yang di niatkannya. Seharusnya setiap pelajar dalam proses menuntut ilmu memiliki niat dan tujuan untuk melaksanakan perintah Allah Swt. dan Rosulullah Saw, memerangi kebodohan agar tidak dibodohi orang lain, mempersiapkan masa depan yang lebih cerah dan terarah dan membekali kehidupan akhirat agar bisa selamat dan khusnul khotimah.

Bayangan setiap manusia hampir tinggal setengah, mentari juga mulai berjalan perlahan. Ini adalah waktu keberangkatan Humaira, sudah jam 14.00. Di tengah lapangan bandara yang luas sudah berjejer barisan pesawat yang sudah siap terbang untuk lepas landas.
Pilot yang berseragam putih dengan pin yang melekat dengan ribuan perjuangan dan tergantung padanya akan keselamatan ribuan jiwa. Langkah nya perlahan menaiki tangga. Mata nya menyapu  dengan cepat seluruh kursi yang  tertata sedemikian rupanya. Ia disambut oleh pramugari yang menegurnya sopan dan ramah sekali. Pramugara yang tampan , rambut nya bekas baru saja disisir dengan minyak rambut yang mungkin mahal , dia harum sekali. Mereka semua melayani para penumpang dengan senyuman simpul , sangat bersahabat. Humaira sangat suka melihat mereka.
Bola matanya mulai berkaca-kaca , tangan pun sudah mengalami perubahan suhu. Khayalnya pun berkata , “apakah ini mimpi ya Allah?” ,dada yang agak sesak dan airmata pun sudah terlanjur menenggelamkan nya dalam sebuah sujud syukur kepadaNya. Dulu waktu esde, masih terlintas dengan jelas setiap kali ada pesawat lewat di angkasa, suara gemuruhnya pasti mengundang semangat para pelajar yang sedang belajar dikelas berhamburan keluar kelas menuju ke lapangan  bahkan bu guru yang sedang mengajar pun sudah tak di pedulikan lagi. Jeritan histeris pun mengiringi suasana itu,,
 “Heii,heii,heiii... ada pesawat, ada pesawatttt!!”, seluruh wajah pelajar pasti mendongak ke atas dan setiap pasang mata mengikuti lintasan yang dilalui pesawat itu.
Humaira menelusuri tatanan  di pesawat itu dan melihat nomor-nomor yang sudah tertempel di masing-masing kursi. Kursi 31 adalah kursi Humaira. Disamping nya sudah duduk terlebih dahulu seorang pria ganteng , bermata sipit, rambutnya ikal yang dipoles dengan warna merah ke kuning-kuningan dan kulit nya putih agak kemerah-merahan. Sepertinya dia orang China atau Korea. Dan kelihatannya ia orang yang baik. Humaira pun mengambil posisi dan mendengarkan ketentuan-ketentuan sebelum penerbangan.

***

 “Marwah ? ?”  Yusuf dengan tiba-tiba menghentikan langkah Marwah..
“Eh, Yusuf.. kenapa?  Ngapain di bandara ?” , balas Marwah kaget.
“Kata teman-teman , Humaira disini yah ? aku ingin bertemu dengannya”,
“Yusuf , Humaira sudah berangkat baru aja sekitar 20 menit yang lalu, kamu terlambat    kawan”,

“Yasudahlah yusuf mungkin belum waktunya kamu bisa ketemu sama dia. Ayo kita pulang?”
“Ia... mari”, dengan sedikit kesal langkah yusuf berjalan dengan layu seperti tumbuhan satu bulan tak pernah diberi minum.

Yusuf adalah pria yang alim. Dia anak semata wayang ustazd Habiburrahman, ustazd pemilik Pesantren Mustafawiyah, Purba baru. Dia seorang hafizd , ia sudah hapal 30 juz. Ia sudah mulai menghapal sejak sd dan ia mantapkan setelah tamat sd. Semua keluarga nya adalah penghafal Al-Qur’an. Mereka adalah keluarga yang sangat di hormati di sana.  Pesantren  Mustafawiyah lebih dikenal dengan Pesantren Purba. Dia sudah memendam rasa kepada Humaira sejak mereka sd dulu. Mereka satu kampung dan sudah lama saling mengenal dan sering bermain dan juga belajar bersama.

***

           Bersujud kepada Allah, bersyukur sepanjang waktu...
Setiap nafasmu, seluruh hidupmu , semoga diberkahi Allah....
Alhamdulillah wa syukurillah,, bersyukur kepada Allah...
Dentingan melodi  lagu, buah karya dari Opick seorang musisi yang terkenal dengan lagu religi sekaligus mendapat gelar ustazd di Indonesia itu membuat hati Humaira sangat tenang. Tiada di sangka nya gadis kampung sepertinya bisa duduk di kelas ekonomi pesawat Saudi Arabia Airline. Duduk diantara beragam manusia  ada dari luar negeri maupun dalam negeri. Ada si kulit hitam dengan gigi putih susu nya yang berkilau , “beta punya nama si hitam,beta dari papua12  ,begitu katanya waktu Humaira menanyakan namanya. Ada pula perempuan lembut wong jowo13, nama saya Juminten atuh,mbak! Ada juga yang dari jepang , begini pula katanya “watashiwa lee min hoo14, dan tak kalah masalah cerewet nya “halak batak do au15 ,katanya sumringah. Banyak sekali ragam bahasa di dunia terutama di Indonesia.
Tapi Indonesia dengan berbagai macamya dan variasinya semua terpadu dalam satu ikatan pasti “Bhinneka Tunggal Ika”, berbeda-beda tapi tetap satu yang terangkai indah di bawah genggaman cakar kuat sang Garuda Pancasila. Dan juga terproklamir gagah di dalam azas-azas Sumpah Pemuda ;
Kami putra dan putri Indonesia , bertanah air yang satu, Tanah air Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia , berbangsa yang satu , bangsa Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia
Dan sudah menjadi keharusan bagi para pemuda dan pemudi Indonesia bangga dengan segala kelebihan,  kalau di teliti dari sebelum dan sesudah kemerdekaan Republik Indonesia sudah banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil dan di jadikan sebagai pendorong dan pemacu kita untuk selalu meningkatkan potensi-potensi diri sehingga bisa berprestasi dalam segala bidang.
Diatas ketinggian 3000 kaki ,wilayah kekuasaan Indonesia terlihat Mahakarya yang luar biasa dari Sang Khaliq, Ia mengatur semua dengan menawan ,tak jenuh bola mata Humaira menerawang ke luar jendela pesawat. Tak perlu dipikirkan bagaimana caraNya dalam menciptakan semesta yang di isi dengan ribuan, jutaan, hampir lebih triliyyun-an  khalifah yang bernama manusia. Belum lagi dengan berbagai mozaik-mozaik jenis hewan dan tumbuhan di dunia. Mulai dari benda-benda langit, galaksi , antariksa , planet-planet, gemintang yang berkerlip , bulan , matahari dan lain sebagainya yang tak terhitung dengan jari.
Lidah pun kelu tak sanggup mengatakan lagi sebegitu banyaknya nikmat yang harus di syukuri.Maka nikmat tuhan manakah yang masih kamu dustakan? Begitu kata Allah dalam Al-Quran.  Takjub, hanya itu yang menjelma . Subhanallah..!




                                 














Paradoks 5
Indeks Hati

Pohon-pohon berjejer hijau , gunung-gunung membentuk bulatan yang mengelilingi daratan dan lautan. Hutan Indonesia adalah hutan tropis. Tetapi di satu belahan bumi Indonesia Humaira melihat kabut hitam mengepul bahagia.Sepertinya ia menertawakan manusia-manusia serakah yang gemar sekali memotong-motong perut pohon tak berdosa untuk tujuan yang tidak baik. Pohon –pohon menangis , mereka kesakitan. Kadang juga mereka meminta di iba karena  dilahap si cakar merah yang ganas. Kini insan hanya bisa menjerit. Kristal es marah dan membanjiri dan rubi jahat berpijar di bumi.
Terlihat dari ketinggian ,rumah -rumah bagaikan kubus yang bentuknya kecil-kecil. Ada manusia yang hidup dengan segala kemewahan, harta yang berlimpah ruah dan tak sedikit yang tak bersyukur. Ada pula manusia yang hidup dengan kemelaratan nya. Untuk mendapat sebutir nasi harus banting tulang bekerja keras. Apakah hidup ini adil? Ya, hidup ini adil, mungkin manusia saja yang terlalu bebal. Allah adalah hakim yang seadil-adilnya16. Memori Humaira melayang-melayang di benaknya, gambar langit di atas adegan foto seluruh negeri ini , retak-retak nampak , akan tertelungkup berserak-serak. Menyelimuti kisah seorang gadis kecil yang bernama Humaira. 
Gegap gempita suara riang mengerang, dahsyat bahasa suara bergurau bersama angin. Hampir setiap hari tak pernah terlihat ada raut kesedihan yang poles diwajah gadis kecil itu. Ia selalu saja menikmati tiap detik waktu yang Allah berikan kepadaNya. Ia sama saja dengan teman-teman sebaya nya yang lain masih penuh dengan keceriaan hanya bermain yang mereka ketahui. Tetapi ada sesuatu yang berbeda dari diri Humaira , walaupun ia  masih kecil tapi tak pernah mengembara di hatinya untuk merepotkan kedua orang tua nya. Ia anak yang cerdas.
Seperti kebiasaan anak-anak yang hidup di pedesaan, setiap malam dikampung nya itu diadakan pengajian malam. Pengajian tersebut tidak diminta dana sedikit pun oleh pembina. Mereka ikhlas mengajari anak-anak mengaji baik itu iqro’ atau pun juga Al-Quran , disana mereka juga di ajarkan ilmu agama. Mengenai tajwid, kisah-kisah Rosulullah dan lainnya. Ia selalu pergi bersama dengan Yusuf , sahabatnya.


Malam itu, raut muka Humaira terlihat begitu senang , ia di beri ustad Rayhan sebuah Al-quran berlapis emas yang istimewa sekali karena ia baru saja membaca sampai habis buku iqro nya. Setiap malam, ia tidak pernah lupa untuk mengaji, minimal satu hari satu lembar pasti selalu ia usahan untuk membaca nya. Sampai kakak-kakak tetangga dikampungnya terkagum melihat Humaira yang begitu rajin membaca Al-quran.
Tahun ini adalah tahun pertama Humaira masuk sekolah pendidikan dasar. Dipakai nya baju merah putih yang dibeli oleh umaknya kemaren di Pasar Loak. Walaupun hanya baju bekas tapi tak pernah memutuskan semangat nya dalam belajar , menuntut ilmu. Ia sekolah di Sd Harapan Mandailing. Hanya sd tersebut yang letaknya dekat dengan rumah Humaira. Untuk menghemat pengeluaran angkutan lebih baik jalan kaki tidak mengeluarkan biaya. Selain itu kualitas sd ini sudah mendapat predikat B. Sudah tarap sangat bagus untuk sekolah yang berada di desa. Tetapi , ia tak bisa menempuh pendidikan taman kanak-kanak , tak bisa bermain ayunan, perosotan, jungkat-jangkit bersama teman-teman nya yang lain. Karena taman kanak-kanak tidak jauh dari rumah nya , setiap selesai sholat subuh berjamaah di mesjid yang tak jauh dari rumah nya.
 Ia pergi bermain kesana bersama adiknya , Abdullah yang berusia 4 tahun, ia lucu sekali dan masih kental dengan yang namanya bermain dan bermain. Mereka bisa masuk ke taman kanak-kanak tersebut karena penjaga sekolah nya pak Habib. Pak Habib sudah menjadi penjaga sekolah tk tersebut sudah lama, sekitar sepuluh  tahun yang lalu. Wajah nya yang sayu yang di tutupi oleh jambang hitam nya yang lebat hampir menutupi bentuk wajah nya. Tampangnya cukup mengerikan , tapi asli nya dia adalah seorang laki-laki yan berhati lembut. Apalagi kepada anak-anak. Ia begitu penyayang mungkin karena ia belum mempunyai anak. Sekarang ia sudah berumur hampir 50 tahun. Dan sudah menikah dengan Bu Saleha sekitar 10 tahun yang lalu, tapi mereka sama sekali belum memiliki keturunan.
Ketika Humaira dan Abdullah bermain-main di arena taman bermain, ia duduk di depan rumah nya yang masih berada satu lingkup dengan tk tersebut. Kopi yang masih saja mengeluarkan kepulan asap yang menandakan bahwa suhu kopi nya masih panas tertuang dalam sebuah mangkok yang terbuat dari tempurung batok kelapa. Kopi tersebut adalah kopi Ulupungkut. Warnanya hitam pekat dan harum yang mengundang rasa untuk segera mencicipinya bersama lemang di atas meja. Kopi ulupungkut adalah kopi khas hasil Mandailing Natal, namun sayangnya belum bisa dikelola dalam hal pemasaran oleh masyaratkatnya.


Kopi-kopi tersebut dikirim ke kota dan mereka membuat kopi tersebut menjadi kopi-kopi yang bernilai jual tinggi hingga ke luar negeri kopi ini laris terjual ratusan ribu rupiah. Dan ia berbincang –bincang dengan istrinya sambil membaca koran. Dan sesekali melirik mereka dari kejauhan. Dengan bermain-main sekitar setengah jam disana mereka bisa menghilang kan sedikit kesedihan.
Setelah selesai bermain disana mereka berdua pasti bergegas ke sungai. Sungai merupakan salah satu mata pencaharian keluarga mereka. Setelah 2 tahun yang lalu, ayah mereka,  pak Habibi pergi merantau ke Jakarta bersama pamannya. Mereka hidup bertiga dengan umaknya, umak Idah begitu dikenal yang bekerja sebagai buruh cuci dari satu rumah ke rumah yang lain. Sambil menunggu umak nya , mereka pergi ke sawah dekat sungai untuk mencari keong-keong. Keong –keong tersebut akan di jual ke pasar untuk makanan itik. Harga nya tidak terlalu besar, 1 kg hanya mengoceh uang seribu rupiah. Tapi seribu rupiah pun sudah sangat berharga sekali kepada mereka. Bisa membeli roti untuk Abdullah  atau juga satu pensil untuk Humaira. Terkadang juga keong-keong itu mereka rebus untuk mereka makan sendiri.
           Hati Humaira meloncat-loncat , ia sudah lama sekali kelaparan dan kehausan akan ilmu, biasanya ia hanya di ajari membaca alfabet , a , i , u , e, o tiap malam setelah ia pulang belajar mengaji. Dan terkadang ia belajar bersama temannya di gubuk kecil yang terdiri dari sulaman bambu rotan yang dibuat ayahnya dulu sebelum pergi ke Jakarta.
Kak Sarah, kakak yang tinggal di samping rumah mereka baik sekali. Ia mengajari Humaira membaca dan menulis sedikit demi sedikit. Hingga ketika masuk sd ini tidak begitu kewalahan jika disuruh membaca tulisan yang huruf nya besar-besar. Kelas satu , ia masuk di kelas C, kelas yang dibilang tingkatan terendah setiap subkelasnya. Biasanya di dalam nya itu adalah anak-anak yang tidak memiliki ijazah Tk. 
Ia pernah ikut lomba membaca koran  yang huruf nya kecil-kecil dan tersusun rapat. Ia mendapat peringkat nomor satu dikelasnya karena ia lihai membaca. Tetapi setelah kelas dua, ia pindah ke kelas A , golongan anak yang menjamah pendidikan tk . Kelas yang dianggap bisa menerima pelajaran-pelajaran lebih dibandingkan dari kelas lainnya. Penghuni kelas A terdiri dari orang-orang cakap dan terampil dalam berbicara dan berbagai hal lainnya.
Sehingga bagi orang pendatang baru seperti Humaira mungkin belum bisa dengan cepat bersosialisasi. Ketika akhir semester, penerimaan raport semester 1 , di kotak bagian sisi bawah halaman hanya tertulis “Tingkatkan prestasi mu!”. Ketika itu, perasaan malu menyelimuti hatinya dan ia takut pulang ke rumah ketika itu.
 Tetapi walau bagaimana pun jua Humaira pun tetap harus pulang dan berkata jujur kepada umaknya peringkat yang didapatnya menurun drastis.
“Umak ,. nilai Ira turun kali ini Humaira tidak dapat juara, maafin yah mak, yah!, Humaira janji semester berikut nya Humaira bakalan lebih rajin lagi belajarnya..”
“ Kenapa nak? Itu hal yang wajar, kamu juga butuh waktu untuk bisa berhubungan baik dengan mereka. Tidak apa! yang penting semester depan Humaira nilai nya harus lebih bagus lagi yah, nak! Janji sama umak yah..” , umaknya meyakinkan Humaira yang sudah meneteskan airmata di pangkuannya.
Kasih sayang seorang ibu memang tak dapat terlukis kan dengan kata. Berjuta bintik kapas warna putih angsa pada suatu malam cuaca naik mengambang bersama dan menggeliatlah dia menggelepar menyerakkan warna dan aroma mewangi yang tiada henti menuliskan cinta seorang ibu adalah  indeks hati yang tak dapat ditukar dengan rupiah.























Paradoks 6
Melestarikan Budaya Sendiri

Setiap libur semester Humaira menghabiskan waktunya dengan membantu umaknya. Mulai dari membersihkan rumah ,mencuci piring atau pun baju mencuci keluarganya dan menjaga adiknya,Abdullah. Sementara umaknya pergi bekerja ia juga sesekali mengajak adiknya bermain bersama di halaman bolak17. Banyak sekali jenis permainan yang mewarnai zona masa kecil Humaira di Mandailing Godang. Mandailing Godang adalah kabupaten sejuta budaya dan jenis permainan daerah nya banyak sekali .
 Hanya saja mungkin sekarang sudah tak dihiraukan lagi karena beralih ke internet , games-games online yang semakin memanjakan anak-anak kecil bukan hanya di Mandailing tapi mencakup seluruh dunia mungkin. Karena sistem nya yang praktis hanya duduk di depan komputer/laptop/gadget sambil jemari bergerak kesana kemari sudah melatih ketangkasan otak tapi jika sudah kecanduan semua bisa jadi lupa waktu.
Waktu sholat pun sering dilalaikan, ketika kumandang azan mengalun merdu, tak segera mengambil wudu dan berangkat mesjid tapi masih saja berpacu di layar gadget tersebut. Padahal amalan paling baik adalah mengerjakan sholat di awal waktu. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat, yang mereka itu lalai dari sholatnya, yaitu orang-orang yang menampakkan ria dan enggan memberi pertolongan18.  
           Pada zaman sekarang orang yang tidak melaksanakan sholat sudah di temukan dimana-mana. Seolah-olah di katepe19 nya tak tercantum bahwa ia berstatus Islam.
“Nak, laksanakanlah sholat sebagai tanda syukur mu akan nikmat hidup yang di berikanNya, Ia sudah mengizinkan mu tiap hari menghirup berjuta udara beserta kawan-kawannya , kalau kamu tidak mengerjakan sholat tak ubah nya kau seperti mayat hidup”, begitu nasehat pak Henri , guru agama Humaira di pesantren.
Di halaman bolak yang berada di depan bagas godang. Alaman bolak atau alaman silang se utang yang berarti apabila seseorang yang berutang di kejar oleh orang yang berpiutang dan dia lari ke  alaman bolak , dia tidak boleh lagi di ganggu , pertengkaran harus di hentikan dan wajib di cari perdamaian. Tapi saat ini Humaira, adiknya beserta teman-teman mereka lainnya menjadikan itu menjadi tempat bermain.


Bagas godang adalah sebutan bagi rumah adat Mandailing Natal. Bagas godang biasanya ditempati oleh keluarga raja-raja. Di bagas godang terdapat gordang sambilan yaitu alat musik pukul bentuknya seperti bedug terdiri dari sembilan bedug yang mempunyai panjang dan diameter yang berbeda sehingga menghasilkan nada yang berbedapula.
Gordang Sambilan salah satu pesona wisata di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), salah satu warisan budaya bangsa Indonesia. Bahkan diakui pakar etnomusikologi sebagai satu ensambel musik  teristimewa di dunia.  
           Banyak sekali jenis permainan yang mereka lakukan dan itu sangat-sangat menyenangkan sekali . Bisa dipastikan sepanjang liburan semester selama 2 minggu itu setiap hari mereka memainkan permainan yang berbeda. Sebagai kegiatan  yang dapat menghibur diri dan sekaligus juga melestarikan budaya daerah sendiri.
Matahari sudah mulai berjalan pelan kembali ke peraduannya. Angin sepoi-sepoi yang berhembus karena kampung Humaira masih kental dikatakan sebagai daerah yang sangat banyak ditanami padi.  Disepanjang desa pasti  bisa ditemui hamparan sawah luas. Karena desa Humaira sebagian besar matapencahariannya adalah sebagai petani. Setelah sholat Ashar, Humaira dan temannya berhamburan menuju halaman bolak. Hari ini mereka bermain alioma. Alioma adalah main sembunyi-sembunyian. Setelah ompimpah dan mendapat satu teman yang jaga maka ia akan menutup mata nya dan bersandar di sebuah pohon sambil menghitung angka, satu, dua, tiga , empat dan seterusnya dengan suara yang keras teman-teman yang lainnya akan berlarian entah kemana yang mereka merasa tempat itu cocok untuk bersembunyi dan tidak di temukan oleh teman yang jaga tadi. Ternyata setelah ompimpah Humaira mendapat kesempatan bersembunyi sementara Abdulullah kali ini harus jaga. Yusuf juga ikut bermain.
Setelah selesai menghitung sampai deret angka sepuluh. Pasti si teman yang jaga mengatakan “ siap gak siap sembunyinya, aku cari yah?”, Abdullah berkeliling-keliling mencari satu persatu temannya tersebut dan akhirnya ketemu. Tetapi yusuf susah sekali di temukan , kampung pun mereka telusuri.Ternyata Yusuf ketiduran di  belakang pohon rindang di dekat musholla yang tak jauh dari halaman bolak.
“Kenapa sih kamu Yusuf? Disuruh ngumpet malah tidur?” , mulai Humaira kesel.
“Iya, iyaa,.. maaf yah semuanya, tadi aku disuruh ayah kepasar, aku kecapean, tapi karena lihat kalian disini aku jadi pengen ikut main”,  jawab Yusuf cengengesan tidak jelas.
 Padahal sebenarnya Yusuf berniat ikut bermain karena cuma ingin melihat Humaira. Setelah semuanya dapat ditemukan , Abdullah menutup mata nya lagi dan teman-teman yang lain berbaris ke belakang memanjang dan yang jaga tadi mengucapkan nomor yang di inginkannya.
Jika tadi Abdullah tidak berhasil menemukan salah satu temannya maka dia bebas dari undian yang dilakukan. Nomorrrrr Satuuu… ternyata sekarang giliran yusuf yang jaga. Begitu seterusnya mereka melanjutkan permainannya dengan di diringi gelak tawa menghibur terutama ketika mereka capek bermain alioma mereka bermain bola lancat.
Permainan bola lancat adalah permainan dengan menggunakan alat yaitu berupa kayu yang berbentuk persegi panjang agak lebar biasa nya mereka mengambil kayu-kayu tersebut di tempat yang sedang melakukan pembangunan rumah.. pasti disana di dapati banyak kayu-kayu sisa dan itu mereka manfaatkan. Sistem nya seperti ini, ketika nanti satu orang melemparka bola kecil yang terbuat dari plastik yang berukuran sebesar bola kasti tapi lebih besar sedikit, maka bola tersebut akan menggelinding di tanah dan para pemain akan berebutan untuk memukul bola tersebut dengan syarat bola tersebut hanya boleh tersentuh kayu jika bola mengenai anggota tubuh maka dia yang akan jaga untuk pertama kali nya. Bagi pemain yang  jaga bebas memegang bola dan ia harus berusaha melempar bola ke pada kawannya yang lain sampai ia mendapatkan kawan yang mengganti kan nya sebagai pemain yang jaga.
Permainan ini sangat seru, melatih kepekaan otak dan ketangkasan kita.
Dalam permainan bola ada pelajaran yang dapat kita ambil baik itu bola kaki , bola basket dan lainnya. Misalnya saja ketika kita bermain bola kaki, otomatis kita akan terus menggiring boleh dan tidak memperbolehkan lawan merebutnya dari kita dengan satu tujuan untuk memasukkan bola ke gawang. Dan mendapatkan teriakan “GOOOLLLLLLLLL” dari para penonton. Demikian juga dengan hidup ini, hidup mesti punya tujuan. Akan banyak sekali tantangan dan rintangan nya untuk mendapatkan satu kata yang di damba-dambakan tiap insan yaitu “ SUKSES “, seperti bermain bola tadi focus memasukkan bola ke gawang agar mendapatkan sebuah kemenangan. Harus fokus dan terus berusaha terhadap apa yang kita impikan dan jangan pernah melupakan Allah barang sedetik pun. Karena seperempat detik sekalipun segala perbuatan yang kita lakukan tidak akan lepas dari pantauannya.
           “Kak… udah pukul lima kak,, kita pulang ya kak, pasti umak udah pulang, nanti malah kecarian nanti..!”
“Iya , ayolah dek…”
“ Teman-teman Humaira sama Abdullah pulang duluan yah?, sampai jumpa besok, kita main lagi ,, okehh!!!”
“Oke…” jawab anak-anak kecil teman Humaira serentak..
“Hey… Humaira  tungguin aku..” Yusuf mengejar mereka dan mereka pulang bersama.
 “ Seru ya, melestarikan budaya sendiri”ucap Yusuf ngos-ngosan.
“Assalamualaikum umak….”, Humaira dan adikknya mengetuk pintu.
“ Wa’alaikumussalam, mari masuk nak, ibu sudah memasakkan kalian dua telor dadar beserta sayur daun ubi dan sambelnya. Alhamdulillah hari ini umak dapat rezeki, nak. Oleh karena itu bisa membeli makanan ini. Syukuri yah..”  kata ibu sambil merapikan meja makan berkaki empat yang sudah hampir lapuk dan tak memiliki kursi untuk diduduki.
“Iya  mak, kami suka kok makanannya, iya kan dek?”, tanya Humaira kepada adiknya menginginkan pembenaran.
“ Ia mak, adek suka kok sama telor dadar”  jawab Abdullah.
“Ya sudah, makan lah nak, makan yang banyak yah!, umak ke dapur dulu..”, mak Idah berjalan meninggalkan mereka yang sedang duduk diatas lantai yang tak berkeramik dan hanya beralaskan anyaman tikar bercorak bunga yang sudah lusuh dan anyaman-anyaman nya hampir sudah mulai robek.
Rumah yang mereka huni sekarang adalah rumah kontrakkan. Di ruangan yang hanya berukuran 6x5 itu mereka mengadu nasib untuk tetap bertahan hidup. Mereka adalah keluarga yang sangat luar biasa..
Sebenarnya setiap hari mereka selalu makan telor dadar dan jarang sekali ada sayur yang mewarnai piring mereka. Sesekalipun selingannya hanya ikan yang kecil-kecil, itupun jika Humaira dan adikknya di ajak pak lurah ke kolam ikan miliknya dan mereka menghabiskan waktu memancing disana untuk mendapatkan satu atau dua ekor. Perasaan senang menggeliat pada raut muka mereka terlihat ketika ikan mas tertipu oleh cacing-cacing yang mereka jadikan umpan. Pak luah biasanya mengajak mereka sekitar 3 bulan sekali.
“ Nak… nanti kalau makannya udah selesai, di beresin yah! umak mau pergi dulu ke rumah bu Santi, jemput pakaian kotor, habis ini langsung mandi, nanti badan nya gatal-gatal, kalian kan habis bermain”,  tegas mak idah penuh perhatian.
“ iya mak”, jawab dua anak itu menurut.










Paradoks 7
Penyesalan

Mata itu? Kenapa selalu saja tenggelam bersama kepingan-kepingan airmata. Ia mengalir begitu saja. Mungkin bathin sudah mulai lelah. Tetapi kenapa hati juga selalu saja mengikut mengalun bersama kesedihan? Entahlah. 
Awan - awan bergerak yang tadi nya langit ditutup oleh kepulan warna hitam pekat sekarang berubah menjadi putih belum terang karena di balik gunung sana terlihat mentari yang masih malu-malu untuk bangun dari tidurnya. Mungkin dia masih lelah setelah seharian penuh kemarin berkeliling dari ujung timur ke ujung barat. Kelelawar juga sudah mulai berhenti meramaikan angkasa, ia mengepakkan sayapnya yang tipis itu untuk pulang, ia juga mungkin sudah capek semalaman beraktivitas mencari santapan , serangga-serangga kecil yang bersembunyi di antara semak-semak. Kini, sudah berganti dengan senandung tenor burung merpati putih. Cuaca nya bersahabat. Sudah dua minggu libur semester sudah berlalu ditelan waktu. Kini sudah berganti menjadi hari baru. Tak perlu ragu-ragu , jalani hari ini penuh percaya diri. Percayalah, didalam dunia ini semuanya bisa terjadi.  Kun fha Yakun!20
Kini Humaira sudah bukan anak kelas 2 sd lagi, bocah ingusan dulu yang sering menghabiskan waktu sepanjang sore di halaman bolak bersama teman-teman kecilnya sudah tumbuh menjadi anak yang dewasa, dia sudah naik ke kelas 6 sd. Jenjang terakhir yang tak boleh terlewatkan karna ini semester terakhir dan banyak sekali ujian sekolah yang akan datang silih berganti. Setelah prestasinya turun sewaktu kelas 2 sd , juara yang di perolah nya sudah menunjukkan grafik peningkatan.
Sampai sekarang ia masih mendapat peringkat tetap yaitu juara 4 di kelas nya. Itu sudah merupakan perkembangan yang drastis dibandingkan dulu tak mendapat peringkat sama sekali. Humaira kelas 6 sd sementara Abdullah masih kelas 4sd. Mereka bersekolah dengan bermodalkan bantuan dana untuk siswa miskin. Semua bantuan yang diberi pemerintah tersebut dibagi oleh mak Idah sedemikian rupa untuk keperluan sekolah dua anaknya tersebut maupun keperluan sehari-hari. Waktu bukan di pergunakan Humaira lagi dengan bermain-main bersama adiknya , Yusuf ataupun teman-temannya yang lain.
Ia gunakan waktu nya untuk belajar .  Karena di semester dua akan bersua dengan yang namanya try out, UAS21  dan akhirnya adalah UN ( Ujian Nasional ).

Mak, bentar lagi Humaira UN mak, Umak punya uang tidak buat beli buku kumpulan soal-soal UN?  Ira ingin lulus dengan nilai yang memuaskan, mak?”
“Kalau masalah sepatu yang udah tiga tahun sepatu Humaira, ini aja , tidak pernah berganti. Tak apa mak, lagian tinggal beberapa bulan lagi, Ira akan tamat mak. Abdullah lebih memerlukannya mak, kakinya sering lecet, merah-merah, soalnya sepatu nya udah kekecilan dan sangat sempit sekali,mak!”,jelasnya meringis.
“Oh masalah itu, nanti umak usahain yah, yang sabar ya nak”!
“Mana Abdullah, Ra?”, umak kecarian.
“ Abdullah.. Abdullah..!! ayo kesini dek, umak mencarimu..,” teriak Ira memanggil Abdullah yang sedang belajar di kamar sendirian hanya dengan lampu teplok di tepat berada di depannya.
Inna Maal Usri Yusra, Nak! Sesungguhnya setelah kesusahan pasti ada kemudahan , itu udah janji Allah dalam kitab-Nya ,nak! Yang penting Humaira yang rajin belajarnya dan Abdullah juga nanti kalau umak udah gajian, Abdullah bakalan dapat sepatu baru deh?”
“Setuju? Senyum dong anak umak, yang cantik dan ganteng ini”, mak  Idah merayu, mereka saling berjabat tangan dan larut dalam dekapan kasih yang teramat mengharukan.
“Iya mak, mudah-mudahan umak diberi rezeki yang berkah dari Allah”..
“Aamiin…”.
“ Kami berdua  saaayaanggg sekali sama umak!”, rintih Humaira dan adiknya dalam hati sendu.

***

“ Heh, kamuu!!!”, Ririn datang mengejutkan Humaira.
“Humaira yang kamseupay22!! Dasar gembel!!, bau banget jadi orang, udah ga mandi berapa abad lho?  Humaira dengan refleks kaget akan suara Ririn yang begitu melengking , memekakkan telinga.
Ririn adalah anak donator di Sd Harapan Mandailing. Jadi, ia merasa memiliki kekuasaan penuh pada setiap murid di sekolah itu. Ia sangat cerewet dan suka sekali mengomel pada orang yang tak punya salah dan ahkan tak tau apa-apa. Ia suka melawan guru. Memang sudah menjadi peraturan tidak boleh membawa ataupun memakai handpone di dalam ruangan kelas terutama saat proses belajar mengajar sedang berlangsung. Kemudian bukan hanya itu ,sepatu yang terlihat cocok dikulit nya yang mulus itu selalu ia saja salah tempatkan.
Ia tak memakai sepatu hitam untuk sekolah tetapi ia malah dengan bangga memamerkan sepatu-sepatu mahal yang dibelinya ketika ia berlibur ke luar negeri sewaktu liburan semester kemarin. Sehingga tak jarang ia sudah menjadi bulan-bulanan buah bibir di sekolah. Di kantor guru ia sudah takzim menjadi topik pembicaraan.
“Kenapa Rin? Salah ku apa sama kamu? Baru datang langsung marah”
Gak ada sih,  kamu kenapa sok banget , sok pintar, sok rajin, sok agamis dan satu lagi sok cari perhatian sama guru-guru. Ihhhhhh...., nyebelin banget sih kamu”, Ririn malah sewot sendiri.
“ Maaf ya rin, kalau aku ada salah sama kamu, tapi aku gak mau ribut hari ini”, Humaira pergi meninggalkan Ririn.
“ Eh, Humaira.. aku itu cuman pengen ngomong sesuatu sama kamu, tunggu,tungguuuuuu..”, tetapi Humaira sudah terlanjur pergi dan tidak mendengar ucapan Ririn lagi.

***
  
 Dibawah pohon nan rindang yang sedang berbagi kesenangan. Ia memberikan oksigen untuk dihirup makhluk hidup sementara ia mendapat balas karbondioksida dari makhluk hidup disekitarnya. Pohon adalah paru-paru dunia. Ia memberikan kesejukan kepada siapa saja yang ingin singgah bersandar di batang yang kekar dan dibawah naungan daun-daun lebat yang saling berdempetan. Ririn sepertinya ingin bercerita dengan pohon tersebut? Sudikah kau pohon tua mendengarkan suara hati gadis itu? Ia sedang bermuram durja.
“Aku itu iri sama kamu Humaira, kenapa kamu bisa tetap tersenyum walaupun kamu itu orang miskin dan hidupmu pas-pasan. Sementara aku, aku punya segalanya, rumah yang mewah, kekayaan, orang tuaku  yang begitu baik sekali bukan hanya padaku,anaknya tetapi mungkin pada semua orang. Kenapa setiap belajar aku selalu tidak bisa, sudah berulang pun ku baca suatu buku tetap saja tak bisa. Aku juga pengen punya otak yang cerdas, pengen banget dapat piala terus bawa pulang ke rumah dan dengan begitu bangga berkata “ Mama, papa .. Ririn pulang bawa piala.. Ririn dapat juara..” .
Alangkah senangnya mungkin kedua orang tuaku ya.., aku juga pengen mengenal islam, agamaku lebih dalam lagi, aku yakin Humaira pasti bisa membantuku.. tapi aku tidak tau bagaimana untuk minta tolong kepadanya”, begitulah hati Ririn berbicara.
Diantara gang-gang sekolah , Ririn melihat Humaira dari kejauhan, Humaira dengan buku di genggamannya berjalan dengan santai seperti nya ia akan pergi ke perpustakaan.
Ia akan belajar untuk persiapan ujian akhir karena di perpustakaan ada beberapa kumpulan soal UN. Jadi pikirnya daripada merepotkan orangtua untuk meminta di beli buku tersebut lebih baik ia rutin untuk membaca ke perpustakaan sekolah. Sebenarnya inti nya itu cumin satu, hadapi sesuatu itu dengan tenang, jangan memperbesar masalah yang kecil, tapi kecilkanlah masalah yang besar. Ririn mengikuti Humaira , ia masih saja ingin bicara dengan Ira.
Ira merasakan ada yang mengikuti nya dari belakang , sesekali ia membalik badan, tapi dengan cepat Ririn menyembunyikan diri dibalik tembok.
           “ Sepertinya ada yang mengikuti aku!! Tapi ya sudahlah,mungkin hanya perasaanku saja” Akhirnya , ia pun sampai di sebuah tempat yang cukup luas, seisi ruangan itu penuh di isi dengan lembah-lembah ilmu, kertas-kertas yang di jilid menjadi satu, ada yang tipis dan ada pula yang tebal sekali. Lemari berjejer dihuni oleh buku-buku yang ramah dan selalu bersedia untuk di pegang siapa saja yang memiliki minat untuknya.
           “Humaira..!!”, panggil Ririn dengan suara pelan dipenuhi keraguan.
Ia sedang duduk di meja bundar yang berada di tengah-tengah ruangan perpustakaan. Diatas meja tersebut ada sebuah tumbuhan  seperti kaktus yang ditaruh di dalam pot kecil yang berisi tanah , tapi diatas tanah tersebut terdapat batu-batu kecil berwarnaa-warni. Tumbuhan tersebut bernama Terrarium. Terrarium adalah jenis tumbuhan yang bisa bertahan hidup lebih lama walaupun tanpa di siram. Tanaman jenis ini memiliki nilai jual yang tinggi.
            “ Iya Rin?, ada apa?”
           “ Kamu lagi ngapain? Aku ngenganggu gak?”
Gak kok, ayo mari duduk disini, disampingku”, Ira menarik bangku untuk Ririn ramah.
“ Cuma lagi baca buku aja nih, kenapa?”, Tanya ira lagi penasaran. Soalnya, Ririn itu jarang sekali mau bicara dengan Ira, ia selalu di olok-olok Ririn.
“Aku mau minta maaf sama kamu Humaira, aku udah jahat banget sama kamu!, aku sering banget malu-maluin kamu, aku masih ingat banget dulu waktu lagi ujian semester, mata pelajaran agama islama, aku rampas kertas ulangan mu dan aku nyontek semua jawabanmu padahal kamu sendiri tidak memperbolehkan nya. Dan akhirnya kamu yang dikeluarkan oleh pak Henri dari kelas dan tidak diperbolehkan lagi ikut ujian karena aku mengatakan kamu yang sebenarnya menyontek kertas hasil ulanganku, bukan aku yang menyontek, aku merasa sangat bersalah ra, maafin aku yah”, jelas Ririn menyesal.


“ Iya tidak apa, Rin.. aku sudah melupakan hal itu, tak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi, teman”.
“ Aku sadar, menyontek itu suatu perbuatan yang tidak baik karena itu sama saja dengan membohongi diri sendiri. Kita belajar bukan untuk mendapatkan nilai lebih dari itu kita belajar untuk mendapatkan ilmu yang barokah”, jelas Ririn lagi menambahi.
“ Iya , kamu betul sekali, aku selalu megang motto “ Jujur Tetap Lebih Baik”!, dan kamu juga harus pegang kalimat itu yah..”
           “ Iya…”
“ Lain kali jangan di ulang lagi, karena alfikru qobla ribhan annadamu ba’du husron, pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian , tiada berguna”, lanjut Ira lagi.
Ririn hanya menganggung-ngangguk, sebagai tanda mengiyakan apa yang di ucapkan Ira.
      “ Selain masalah itu , aku juga mau minta tolong sama kamu ra, boleh tidak kamu mengajari aku, kita belajar bersama.. Soalnya selama ini aku itu belajar nya asal-asalan aja. Gitu-gitu aja. Kalau ada pr pun aku ambil punya kamu aja kan? Aku ingin berubah. Aku sayang sama orang tuaku, aku ingin lulus ujian akhir ini dengan nilai yang memuaskan. Kamu mau membantu ku?”
    “ Ya, dengan senang hati, Rin!”
     “Semua manusia akan celaka kecuali orang yang berilmu, semua orang yang berilmu akan celaka kecuali orang yang menggunakan ilmunya, orang yang mengamalkan ilmunya akan terpedaya kecuali orang-orang yang ikhlas, dan orang-orang yang ikhlas senantiasa dalam kedudukan yang agung”23.
“Tapi jangan di rumah ku yah, kita belajar dimana?”
“ Di rumah ku aja”, Ririn memberikan ide.
“ Aku juga mau ikut!!”, Yusuf datang menghampiri.
           “Ya sudah, setiap sore ya! sekitar pukul tiga,, oke!! Rumahku di gang.Jambu, Aku tunggu kedatanganmu, terimakasih akan kebaikanmu, aku tidak akan melupakan semua ini, aku menyesali perbuatanku, aku pergi dulu yah..”
“ Assalamualaikum..”
“Waalaikumsalam warahmatullah..”
   





Paradoks 8
Simbiosis Mutualisme



Tawaran Ririn ini juga sangat menguntungkan Humaira karena ia bisa belajar untuk ujian nasional selain di sekolah. Tentunya, Ririn pasti punya banyak sekali buku-buku tentang hal itu. Dan kemungkinan besar ia pasti mau meminjamkan nya kepada Humaira.
“Alhamdulillah..”, spontan terucap dari mulut Humaira.
           “Betul yang dikatakan umak, bersama kesusahan ada kemudahan. Humaira tidak boleh berputus asa, semangattttt!!”, tekad nya kuat.
          “ Barang siapa menapaki proses menuntut ilmu maka Allah Swt. Akan memudahkan baginya jalan menuju surga”24 .
          Angka-angka hari berjalan bergantian, waktu begitu cepatnya , seminggu lagi Humaira, Ririn dan siswa/siswi Sd Harapan Mandailing beserta sd lainnya di seluruh Indonesia akan melaksanakan Ujian Nasional. Ririn sudah mulai berubah, ia sekarang sudah lebih baik dari sebelumnya. Tidak sering menghina-hina orang lain lagi dan sudah mulai bersikap yang sopan. Ririn juga sudah mulai belajar mengaji. Dulu aku heran kepadanya, sudah kelas 6 sd, tetapi buku iqra’ pun belum bisa dengan lancar di baca nya.  Sebenarnya , orang tua nya sudah menyekolahkan nya di Madrasah tetapi entah apa yang dilakukannya disana. Sedikit pun tak ada yang masuk kepikirannya. Masuk telinga kanan keluar juga dari telinga kanan. Tidak ada sama sekali yang bisa di serapnya.
Orang tuanya sangat baik. Waktu Humaira datang ke rumah Ririn, Ia diberi uang lima puluh ribu oleh ibu Zainab, mama nya Ririn. Katanya Humaira adalah anak yang baik dan rela berbagi.  Sementara Humaira hanya belajar mengaji di pengajian malam dan sesakali jika ada waktu luang mak Idah mengajarinya. Ia begitu sangat bersemangat.  Alangkah merugi nya jika kita tidak bisa menikmati indahnya setiap mukzizat yang terkandung dalam huruf Al-Quran yang mulia.
Sesungguhnya Allah Swt memuliakan kita semua dengan Alquran yang berisi kabar dari umat-umat sebelumnya ataupun sesudahnya dan sebagai pedoman dalam menentukan semua keputusan, karena Alquran adalah al-Furqan, yakni pemisah antara yang benar dan yang salah. Dan Alquran adalah al-Huda, yakni petunjuk Allah Swt kepada seluruh hamba-Nya untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Maka, barang siapa yang mencari petunjuk selain Alquran, maka sebenarnya dia tengah lari menuju kesesatan dan meninggalkan jalan kebenaran. Barang siapa yang bersungguh-sungguh mengamalkan apa yang ada di dalamnya , niscaya dia akan memperoleh pahala yang berlipat ganda dan tak disangka-sangka.
Humaira masih duduk di sekolah dasar tapi Ia gemar sekali membaca , membaca dan terus membaca. Baginya membaca itu bukan harus dijadikan sebagai hobby saja tetapi haru s dijadikan sebagai suatu keharusan. Karena membaca adalah jembatan menuju sukses. Tetapi hendaklah yang dipelajari itu bukan hanya ilmu dunia saja imbangilah ia dengan mempelajari ilmu akhirat.
            Baginda Rosulullah Saw bersabda : “Pergilah ke mesjid , lalu pelajarilah dua ayat Alquran , maka itu lebih bernilai daripada dua ekor unta. Sedangkan tiga ayat lebih bernilai lebih bernilai daripada empat ekor unta dan begitulah seterusnya.”25
             Wahai kaum muslimin, apalagi yang hendak kita cari? Lapis terluar dengan lapis berikutnya mana saling bersentuhan, molekul sel berates bertautan dalam histology anyaman, inilah fisiologi subversi dalam sejarah tak ada tandingan, ideology ini gulung karpet dan jadi bahan tertawaan. Kenapa harus bersusah payah mempelajari buku-buku hasl kreasi para sarjana barat yang tentunya logika berpikir mereka didasri oleh kitab-kitab suci mereka, sedangkan kita sudah punya kitab suci yang sudah sempurna dan berlaku berlaku sepanjang zaman bergulir.
           Bacalah , renungkanlah , hayatilah dan kajilah setiap siklus yang tertera dalam ayat-ayat suci Alquran, maka kita akan terpesona dengan keindahan lafazdnya dan kedalaman makna nya. Hingga seakan-akan hidup kita menjadi teratur sesuai konsep kebahagiaan yang terkandung didalamnya. Sedang hati kita yang berhias Alquran menjadi tenang dan tentram. Karena apapun yang kita perbuat akan diridhai oleh Allah Swt dan kita pun akan menyadari bahwa apapun yang menimpa kita sebenarnya hanya bagian dari cara untuk menjalani hidup sesuai takdir-Nya.
Mereka membentuk sebuah interaksi simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan kedua belah pihak. Humaira mendapat pahala karena  telah mengamalkan ilmu yang dimilikinya sekaligus bisa mendapat pinjaman buku UN sementara dari Ririn. Kemudian Ririn sudah mulai berubah nilai nya semua meningkat dan semakin rajin belajar mengaji.

***
    

Sementara itu, di kamar mandi sambil menyuci pakaian-pakaian kotor para pelanggan mak Idah masih saja tergiang di pikiran nya masalah sepatu Abdulllah. Memang bebannya
 Sudah agak ringan sedikit karena sudah tidak perlu mencari uang lagi untuk membeli buku kepada Humaira.
“Tetapi Abdullah? “, tanya nya dalam hati.
           Mak idah sangat kebigungan, ia sudah mencoba keliling kesana kemari untuk meminjam uang ke tetangga atau pelanggan,tapi tak satupun yang memberikan respon untuknya.
          Tiba- tiba terdengar suara putaran lagu di radio dari salah satu rumah warga,
“ Marudan , maslas ni ari u taon do I amang.., asalkon ma na lalu sikola mi ’’,26  mak Idah malah menangis. Ia sangat menyanyangi anak-anaknya itu. Orang tua mana yang tak peduli kepada anaknya? Orang tua mana yang rela melihat anaknya menangis bersedih?. Ia selalu saja mengusakan yang terbaik untuk buah hatinya tercinta. Tak pernah sedetik pun terpintas dalam qalbunya untuk mengecewakan anaknya yang ia pikirkan hanya bagaimana caranya agar setiap hari ketika ia bangun ia melihat senyum simpul dalam raut muka mereka.
      “Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah kedua nya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil."27 
           Keesokan harinya, mak Idah mencoba mencari ke tempat sampah berharap disana ia mendapat sepasang sepatu yang masih layak untuk di pakai anaknya. Ia menuju ke tepi sungai karena di tepi sungai ada sebuah bantaran sampah-sampah masyarakat. Tak dipedulikannya bau yang menyengat yang muncul dari berbagai jenis sampah itu. Tak ada sandal yang melekat di telapak kakinya,tak takut di tusuk duri. Sudah hamper setengah jam ia mengorek-ngorek sampah tetap saja ia tak menemukan ada sepatu bekas yang masih bagus yang dibuang disana yang ada hanya sepasang sepatu itupun keadaannya lebih buruk dari milik Abdullah.
     Tetapi beberapa menit setelah itu,  mobil berwarna silver mengkilat yang mewah  dengan pelan melaju di depan mak Idah.  Dan kaca jendela perlahan terbuka. Dan seorang lelaki paru baya mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil.
            “ Assalamualaikum, bu… ”
           “Walaikumsalam, pak.. ada yang bisa saya bantu?”
“ iya bu, saya boleh tanya, rumah nya Humaira dimana,bu?”
“Humaira anak saya , pak! Rumah saya tak jauh dari sini, tinggal beberapa rumah setelah  belokan itu?”, sambil menunjuk kearah belokan tersebut.
“Suruh, ibu itu masuk pak,”  terdengar suara dari kursi belakang mobil itu. Ternyata didalam mobil itu bukan hanya bapak yang memakai seragam hitam.
 Ia mungkin seorang sopir. Dan biasanya orang kaya yang memiih untuk memiliki sopir untuk mengantar Nyonya nya kesana kemari.
“ Baik , Nyonya!”
“ Mari masuk bu, nyonya saya meminta ibu masuk kedalam mobil”.
“ Tapi pak, baju saya kotor, saya dari tadi sedang mengorek sampah disini. Nanti, jok mobil bapak kotor dan lecet jika saya duduk disana”.
“Bagaimana nyonya?”, Tanya supir memastikan.
“Suruh saja dia masuk”,
“ Masuklah, bu”,
“ Terimakasih, pak”.
Kemudian mak Idah masuk kedalam mobil digeluti oleh rasa keraguan. Setelah melewati satu belokan sudah terlihat rumah kecil Humaira. Ia sedang menyapu halaman rumah dengan mulut komat-kamit mungkin ia  sedang menghapal sesuatu. Dan Abdullah sedang bermain “dopang-dopang”.
Dopang-dopang adalah permainan yang identik dengan anak lelaki di daerah ini. Mainan itu terbuat dari batang bambu yang berukuran kecil dengan satu bagian bambu dengan lubang dibagian bawah dan atas nya,dan satu lagi bambu pendorong. Biasanya kedalam kayu yang memiliki lubang di masukkan gumpalan kertas yang kecil-kecil yang sudah di basahi air kemudian bamboo pendorong akan mendorong kertas tersebut dan dengan spontan dari bamboo tersebut akan keluar suara yang bunyinya “paaang” keras sekali. Sebenarnya kuat atau lemah nya suara tergantung kepandaian seseorang yang memainkan pertandingan tersebut. 
Abang kelas Humaira pernah bercerita, waktu ia mengikuti perlombaan festival lomba seni siswa nasional atau yang lebih dikenal Fls2n di tingkat provinsi dalam cabang seni kriya, salah satu peserta membuat kriya seperti bentuk “dopang-dopang” hanya dengan sedikit modifikasi, ia menambahkan ukiran-ukiran di dinding-dinding bambu, peserta tersebut mendapat peringkat pertama dalam cabang ini. Sesuatu yag sederhana tapi berpikir dengan luar biasa.
“ Berhenti pak, itu rumah kami..”,
Humaira terpaku melihat mobil innova silver tersebut. Tak pernah sebelumnya mobil mewah parkir di halaman rumah mereka yang sempit. Matanya tak terlepas dari pintu mobil tersebut. Ternyata yang keluar pertama adalah ibu nya, mak Idah. Ia semakin penasaran. Kemudian menyusul pak sopir membuka pintu kursi belakang. Keluarlah ibu Zainab dan Ririn.
 Tiada terasa lagi dimana cahaya berhenti mengalir. Tiada bintik lagi ketika bintang dalam fajar. Dan pada pilar-pilar langit. Awan pun bersandar. Di sanalah kita bersimpuh, yang tua dan setia. Setiap terasa lagi suara memanggil-manggil. Pada pilar-pilar langit. Di puncak-puncaknya suara Engkau yang merdu. Suara sepi yang biru.
Ibu Zainab dan Ririn terlihat sangat begitu berbeda.
“Ya Allah, Alhamdulillah..”, desis Humaira.
Bu Zainab dan anaknya Ririn sudah memilih suatu jalan yang sangat baik. Biasa nya ketika Humaira datang untuk belajar bersama Ririn, rambut bu Zainab maupun Ririn terurai begitu saja dengan dihiasi berbagai pernak-pernik seperti bando maupun penjepit rambut yang indah. Dengan bangga mengenakan baju yang belum siap di jahit, memakai pakaian yang tak sar’I ( sesuai dengan ajaran islam). Astagfirullah..!
Umak Humaira, mak Idah sudah sering sekali menjelaskan kepada nya sejak kecil dulu bagaimana adab dalam berpakaian dalam Islam.
“Humaira.. Ira kan anak perempuan dan banyak sekali perbedaan nya dengan laki-laki, termasuk dalam hal berpakaian dan umak ingin sekali Ira udah belajar berpakaian menurut Islam mulai dari kecil”, pinta umak padanya.
“Iya mak.. Ira akan berusaha mencobanya, bagaimana itu mak?”, Tanya Ira lagi sangat penasaran waktu itu.
Mak Idah, mulai bercerita dan Ira seksama memerhatikan dan mendengar ibunya yang sedang bebicara didepannya.
“Yang pertama adalah pakaian kita harus menutup aurat yaitu dengan memakai pakaian yang longgar dan kainnya cukup tebal sehingga tak tembus pandang kemudian menutupi bentuk dan lekukan tubuh, sehingga tidak menimbulkan syahwat bagi kaum Adam.”
“Kenapa harus memenuhi kriteria itu mak?”, Tanya Ira lugu, ia belum tahu apa-apa waktu itu.
“ Iya , nak! Mesti seperti itu karena pada zaman sekarang sepertinya negeri kita sudah di jajah oleh bangsa Barat. Jikalau tidak memenuhi kriteria itu sama saja ia seperti tak berpakaian atau juga telanjang. “ Ada dua golongan penduduk neraka yang keduanya belum pernah aku lihat: (1) kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang dipergunakannya untuk memukul orang; (2) wanita-wanita yang berpakaian , tetapi telanjang, berjalan denga berlenggok-lenggok, mudah dirayu atau suka merayu, rambut mereka (disasak) bagai punuk unta. Wanita-wanita tersebut tidak dapat masuk surga, bahkan tidak dapat mencium bau surga. Padahal, bau surge itu dapat tercium dari begini dan begini”.28

“Oooh.., seperti itu mak”, Humaira mengangguk-angguk. Ira tak mau masuk kriteria itu.
“Yang kedua adalah pakaian harus bersih dari kotoran, suci dari najis dan masih layak untuk dipakai. Yang selanjutnya, ketiga adalah model pakaian laki-laki tidak boleh menyerupai model pakaian dari perempuan dan begitu sebaliknya, Allah sangat melaknat hal itu”.
“ Kau tau nak ? Sekarang hal ini sudah sangat lumrah dapat kita temui hampir dimana saja. Intinya , penyerupaan-penyerupaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan adalah dalam bentuk gaya berhias, gaya berjalan atau lainnya, termasuk gaya dan model pakaian”.
Yang keempat, pakaian untukk laki-laki itu tidak terbuat dari jenis kain sutera. Karena sesungguhnya itu adalah milik orang kafir di dunia. Kelima, pakaian yang kita gunakan itu tidak untuk menebar kesombongan. “Allah tidak akan melihat orang yang memanjangkan pakaiannya karena sombong”. 29
“ Apakah hanya itu saja mak”, masih tetap menyimak apa yang dikatakan umaknya itu.
“ Tidak nak, masih ada lagi. Kemudian disunnah kan untuk mendahulukan bagian kanan ketika ingin memakai suatu pakaian. Pakaian yang berwarna putih lebih baik untuk dipakai dibandingka dengan warna-warna lainnya. Dan terakhir adalah kita wajib bersyukur kepada Allah dan di anjurkan berdoa ketika mengenakan pakaian”.
“Begitu nak..”, kata umak dulu sambil mengelus kepala Ira.
           Sekarang , kami melihat balutan jilbab sudah menghias paras mereka yang cantik ditutupi oleh gamis panjang gemulai menawan hati setiap yang melihatnya.
             Assalamualaikum, nak Humaira!”
“ Waalaikumsalam, bu”,
“Mari masuk bu,silahkan duduk!  maaf bu hanya dengan keadaan seperti ini kami menyambut ibu dan Ririn”,  Ira mempersilahkan tamunya masuk dan duduk di tikar  lusuh hanya itu yang mereka punya.
“Sebentar ya Bu, Ririn.. Ira mengambil minum dulu ke dapur”, lanjut Ira dan bergegas bangkit dari duduknya
“ Nak, tidak usah repot-repot”, Bu Zainab meraih tangan Ira.
“Duduklah nak!”
“ Kami kemari, hanya untuk memberikan ini kepada Abdullah! Dimana dia?” sambil menyodorkan sebuah kotak putih ke depan Humaira dan Mak Idah hanya diam memperhatikan mereka.

“ Dimana dia?”
“Abdullah di depan bu, ia sedang asyik dengan mainan nya”.
“Ooh, biarlah, tak usah di panggilkan”.
“ Apa ini bu?”
“ Bukalah nak..”
Denga sedikit penasaran, Ira melirik kearah Umak dan Ririn, mereka meyakinkan Ira sambil member isyarat manggut-manggut.
“Alhamdulillah.., terimakasih Bu, terimakasih Ririn”, Ira riang dan tanpa berpikir langsung menyalam Bu Zainab.
Ternyata di dalam kotak tersebut ada sepatu baru untuk Abdullah dan tas baru untuk Humaira. Tas baru memang keinginan Ira yang tak pernah terwujudkan , lantaran sudah 3 tahun juga tas nya tak pernah berganti. Tas yang dipakainya sekarang sudah jelek,bekas jahitan ada di mana-mana.
“Kenapa ibu tahu kami membutuh kan barang-barang ini?”,
“Semua Ririn yang minta,nak! Yasudah, mau tidak mau ibu turutin kemauannya”,
“Rin?!”, wajah Ira seperti meminta alas an akan hal ini.
“ Iya, sebelumnya maaf yah, kemarin aku nyariin kamu ke kelas, tapi kata teman-teman kamu lagi di perpustakaann ya? Terus tanpa sengaja aku melihat buku harian kamu di atas meja belajar mu. Sebenarnya aku tak mau membuka nya tapi entah kenapa tanganku selalu saja bergerak ingin menggapai nya. Akhirnya, dengan terpaksa, ku buka kemudian ku baca buku mu itu. Disana kamu tulis kamu sangat menginginkan itu, jadi aku ingin membantumu, hanya itu saja, sebagai tanda ucapan terimakasih ku atas kebaikanmu selama ini”, Ririn tersenyum tulus pada Ira.
“Terimakasih, terimakasih banyak Bu, Ririn..”, ucap Ira dan mak Idah hamper bersamaan.
“ Sama-sama buk, Ira”, jawab mereka membalas.
Sudah sepantas nya kita sebagai umat muslim saling membantu saudara kita yang membutuhkan. Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat,juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.30




Paradoks 9
     Coretan Harapan

Di tepi jalan yang sepi, di suatu senja di musim ini. Ira tuliskan harapan-harapannya. Harapan-harapan nya itu selalu ia biarkan mengambang di depan mata nya dan ia bawa kemana pun langkah kakinya berjalan. Musim panas membebaskan cuaca dan kawanan insekta, berlompatan dari dahan ke dahan unggas dengan seratus suara. Paru-paru dipenuhi aroma dan semua terasa jadi semakin ringan. Kini kuisap angin dari kota metropolitan di tepi danau marambe yang menawarkan diri ikut bersamanya.
Famai ya’mal mitsqoola dzarrotin khairayyaroh, wa mai ya’mal mitsqoola syarrow yaroh.31 Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun,niscaya ia kan melihat balasannya pula.
Seminggu berlalu bak ketika seseorang di kejar-kejar orang gila, cepat, cepat, dan semakin cepat. Bergulir mengikuti porosnya. Hari pelaksanaan ujian nasional adalah hari ini. Para murid diharapkan sudah siap untuk mengerjakan semua soal yang diberikan dengan jujur. Humaira , Ririn, Yusuf dan teman-teman lainnya sudah berada di kursinya masing-masing dan mereka mulai menjawab soal-soalnya. Dengan ucapan bismillah mereka mulai ujian tersebut. Apapun hasilnya mungkin itulah hasil yang terbaik yang sudah mereka persiapkan sebelumnya.
Tiga hari dilalui, Yusuf memilih untuk melanjutkan ke Pesantren Mustafawiyah,Purba Baru untuk memperdalam ilmu pengetahuan agama nya. Sementara Ririn memilih tidak memberitahukan kepada Ira, Yusuf  dan teman lainnya. Setelah ujian hari ketiga selesai, ia langsung masuk kedalam mobil silver yang setiap jam pulang sekolah sudah mengantri di antara jejeran angkutan yang lain.     
           Di kawasan kumuh dan pedesaan , rakyat bersangatan susah makan. Begitu sabarnya, tak bersuara, mereka selalu menantikan. Humaira ingin merubah roda kehidupan mereka. Merubah segalanya. Memang ia masih berumur sepucuk jagung tapi ia memiliki keberanian. Keberanian menentang nasib yang akan begitu saja jika tidak ada perlakuan untuknya. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.32) Ia sudah membicarakan kepada ibu nya, mak Idah bahwa ia ingin pergi merantau ke Jakarta. Ia ingin menyusul ayahnya, pak Habibi dan ikut membantunya disana.


Sebenarnya berat hati sangat-sangat merasuk di jiwa mak Idah untuk melepas buah hati kesayangannya itu. Apalagi ia adalah seorang perempuan yang masih belia dan masih bisa dikatakan lugu. Dia belum terlalu mengenal dunia luar  yang ganas layaknya singa kelaparan yang siap menyergap mangsanya jika sekali-kali berani melintas di depannya. Mandailing Natal sendiri masih dikategorikan sebagai kota yang aman, masih jauh dari kekerasan, penculikan dan lainnya. Walaupun sedikit demi sedikit sudah merambah dan mewabah virus-virus nakal yang siap memborgol tiap orang dewasa, remaja bahkan anak-anak kecil.
           Tetapi karena keadaan mak Idah yang umurnya mulai mencapai kepala lima. Yang sudah mulai sakit-sakitan. Tak jarang, ia batuk dan keluar percikan darah di kulit tangannya yang mulai kering. Tetapi masih saja, ia semangat bergelut bersama tumpukan-tumpukan kain kotor yang menginginkan dirinya dibersihkan. Demi membiayai kedua anaknya. Tapi Humaira teramat kagum kepada perempuan tegar yang ia sebut umak  itu. Sudah hampir 8 tahun berbaur dengan fana nya kemiskinan ia tak pernah marah, tak pernah sekalipun ia marah kepada Humaira maupun Abdullah. Hatinya melebihi lembut nya sutera. Jika mereka berbuat salah,ia hanya memilih tuk menasehati tak pernah kata-kata yang bernada kasar. Bukan tak pernah tapi sangat jarang sekali.
           Humaira ingat sekali, waktu kelas empat esde Umak  marah besar, wajahnya merah berkecamuk ketika ia melihat Ira mengangkat sekarung padi dari pinggir sawah ke sebuah truk yang sedang berhenti di tepi jalan. Ia menarik tangan Ira keras dengan butiran airmata bergelimang di pipinya.
“Humaira,..!!”
“Umak tak pernah menyuruhmu untuk bekerja,apalagi kerja berat seperti itu,!”
“MasyaAllah, nak!”, umak tetap mengoceh tak henti sambil mengusap airmatanya     yang belum diam. Ira juga tak kuasa menahan tangisnya.
“Maaf mak, maaf,maaf mak, Ira terpaksa melakukan itu, lantaran uang yang ibu kasih tak cukup untuk membayar uang buku Ira. Ira takut menyusahkan umak, menambah beban pikiran umak”.
“Apapun itu masalah mu, nak! Sampaikan saja pada umak!,umak merasa gagal menjadi ibu untuk kalian, nak!”, mak Idah mengingatkan.
Tapi Ira tak pernah marah kepada umaknya. Itu memang mutlak kesalahan Ira. Itu bukti nyata kalau umak sayang sekali kepada Ira.
Disamping itu, umak tak pernah berputus asa akan nikmat Allah. Setiap malam, ia selalu duduk bersimpuh di atas sajadah hijau pemberian ayah waktu ulangtahun pernikahan mereka dulu.
Sederhana saja hanya sebuah sajadah yang menjadi kado yang bisa suaminya berikan. Ia selalu sholat tahajjud dan sholat dhuha. Mengenai keinginan Humaira ke ibukota, ia memang keras kepala tak jauh sifatnya seperti ayahnya. Sudah sering mak Idah mengatakan tidak, tidak kamu tidak boleh pergi. Tetapi karena Ira berusaha meyakinkan. Akhirnya, mak Idah menyetujui rencana itu. Dengan bermodalkan beberapa rupiah uang yang ia dapat karena ia menang lomba berpidato dalam bahasa inggris beberapa bulan yang lalu.
Humaira membuka lagi buku hariannya yang terdapat coretan harapan-harapan nya itu. Lembar pertama ia buka, target pertama, mencari rumah ayah dan ikut membantu ayah, ia juga masih ingin melanjutkan pendidikannya disana. Ia tak ingin putus sekolah. Ia tak lupa membawa ijazah esde nya. Dan masih banyak nomor-nomor yang tertulis bersama pena nya yang harus ia wujudkan. Karena banyaknya keinginan itu tak bisa dibeberkan satu persatu lagi.
Lembar kedua ia buka lagi, Humaira memang penggemar sajak. Selain suka membaca novel-novel. Ia juga suka menulis rangkaian kata-kata syarat makna. Di lembar itu tertulis suatu sajak yang tulis Sati Nasution seorang guru yang kemudian di beri gelar Willem Iskander ketika meninggalkan daerah Mandailing untuk melanjutkan pendidikan kedua kalinya ke negeri Belanda pada tahun 1870 yang menggambarkan sebagian dari daerah ini. Ia dikenal dengan Bapak Pendidikan Mandailing. Seperti ini sajaknya:

           MANDAILING
O, Mandailing Godang,
Tano ingananku sorang,
Na niatir ni dolok na lampas,
Na nijoling ni dolok na martimbus,
Ipulna na laing bubus!
                                               Tor Sihite tingon julu,
Patontang dohot tor Barerang
Gurung-gurungna manompi Lubu,





Bohina mangadop tu dolok Sigantang
 Muda hutalihon tu utara,
Laho manindo tu irisanya,
Jongjong Ma huida Lubuk Raya,
Asa manjoling dolok Malea
                                    Mula hutindo tingon Bania,
Hutatap ma aek ni Batang Gadis,
Mangelduk-elduk dalannia,
Atir homun jior marbaris
Jaru pe ia aek na rara,
Na sundut godang jaotanna,
Tombal bondar panombur saba,
Tusi ma da muarana
O na namarsaba na bolak,
Muda disabur ho sajual same,
Dapot ho ma onom pula jual mulak,
Ho ma na garana manggadis eme,
Na tumbur ma nian tanomu,
Tai laing tong do ho longang,
Jaru momo pe dibaen ho suan-suanon mangolu,
Inda ro halak tu ho mardagang,
Aha ma rohai tue!
Dalanna so nada rami?
Dokkon ma hubege,
Anso torag di rohanami
Ia di jae ni Batang angkola,
Taringot tu Aek Godang,
Songon na muntul ia mulak,
Baon sompit boluson tu Batang Singkuang
Muda ro siap sirumondop udan,
Magodang ma batang ni aek,
Dibaon sompit hadabuan,
Jadi tu darat doma manaek,

I ma da,dongan, dalanna,
Anso jadi bonca-bonca,
Holas na haruar tingon bagasanna,
Arun sajo do diobansa
Adong halak ruar,
Na mian di Panyabungan,
Tibu ia haruar,
Baon ia madung busungan
Inda , ale, hum I sajo,
Dalan ni jagal, ngana manjadi;
Tai adong dope dabo,
Tor Pangolat ngana tarbolus padati,
Tai jaru songon  I ba,
Dengganmu sai hurang,
Nada ho huparmuda ba,
Angke dison ma huida parjolo ari torang.
Tinggal ma ho jolo, ale,
Anta piga taon nada huboto;
Muda huida ho mulak muse,
Ulang be nian sai maoto
Laho hita marsarak,
Marsipaingot dope au di ho,
Ulang lupa paingot danak,
Manjalahi bisuk na peto.
                                                                       (Tingon Adian Bania)

Kemudian di lembaran berikutnya terdapat arti dari sajak Mandailing tersebut dalam bahasa Indonesia.

MANDAILING
O, Mandailing Godang!
Tanah tempatku dilahirkan
Yang dikelilingi gunung yang tinggi
Asapnya terus mengepul

Gunung Sihite di hulu
Berhadapan dengan Gunung Barerang
Punggungnya mendukung Lubu
Keningnya menghadap Gunung Sigantang
Jika kupandang ke utara
Sambil menatap ke timur laut
Ku lihat tegak lubuk raya
Dan menjeling gunung Malea
Jika kupandang dari bania
Kulihat sungai batang gadis
Berbelok-belok alirannya
Kiri kanan juar berbaris
Biarpun ia sungai yang keruh
Besar sekali manfaatnya
Segenap salura mengairi sawah
Kesanalah muaranya
O pemilik sawah yang luas
Jika kau tabor sebakul benih
Kau peroleh enam puluh bakul kembali
Kaulah yang paling sering menjual padi
Sungguh subur tanahmu
Tapi kau masih saja diam
Sekalipun kau mudah membuat tanaman tumbuh
Orang tidak datang berdagang kepadamu
Apakah gerangan
Sebabnya tidak ramai
Katakan  biar kudengar
                                   Agar jelas di hati kami
Di hilir batang angkola
Menyinggung aek godang
Seolah berbalik ia kembali
Karena sempitnya aliran ke batang Singkuang



Jika hujan turun
Sungai pun banjir
Karena sempitnya muara
Jadi kedaratlah melimpah
Itulah sebabnya
Maka banyak rawa-rawa
Uap yang keluar dari dalam
Pasti demam yang dibawa nya
Ada orang luar
Yang terdiam di Penyabung
Cepat ia keluar
Karena ia sudah busungan
Bukan hanya itu
Penyebab dagang tidak berhasil
Tapi masih ada lagi
Tor Pangolat tak dapat dilalui pedati
Tetapi sekalipun begitu
Kebaikanmu masih kurang
Kau tidak kusia-siakan
Sebab disinilah mula-mula kulihat hari terang
Tinggallah sayang
Entah berapa tahun aku tak tahu
Jika aku melihat engkau kembali
Janganlah lagi tetap bodoh
Ketika kita berpisah
Aku masih berpesan padamu
Jangan lupa menasehati anak
Mencari ilmu yang benar
Dari Adian Bania
          




           Merancang dan mewujudkan suatu pendidikan yang sukses adalah keniscayaan. Tak seharusnya dunia pendidikan hanya melakukan rutinitas tanpa progresivitas. Justru, yang harus kita lakukan secara konsisten adalah senantiasa melakukan perubahan, inovasi dan pengembangan terus menerus ke arah yang lebih baik. Melihat tantangan dunia global yang berjalan dengan massif dan eskalatif. Tidak ada waktu berleha-leha, pasif dan menunggu bola. Mental proaktif harus dikedepankan,mental progresif harus dikembangkan, dan mental inovatif harus ditanamkan.
           Azan subuh menggema dari ujung lembah desa. Angin sejuk merombak-rombak bermain bersama udara yang masih bersih dari polusi. Suara-suara jangkrik yang mulai menghilang berganti dengan cerewetnya kokokan ayam jantan. Ia suka membuat kebisingan di pagi hari tapi ia membantu insan tuk menghadap Ilahi. Setelah menunaikan sembahyang, Humaira menyandang ranselnya dan berpamitan kepada umak nya, mak Idah. Uarmak tidak bisa mengantar Ira ke terminal karena Abdullah masih tidur dan umak juga lagi kurang sehat. Sebenarnya Ira sendiri tak tega meninggalkan umak yang sedang kurang baik tapi ini sudah keputusannya yang harus ia memiliki tanggung jawab besar didalamnya.
            Umak memberikan balutan kain yang agak kusam yang Ira tahu betul itu adalah kantong tempat umak menyimpan receh demi receh uang yang diterimanya dari hasil keringat yang terbuang setiap harinya.
“ Aku akan mempergunakan apa yang umak berikan ini sebaik-baiknya, Ira janji akan selalu ingat pesan umak, Ira akan kembali nanti, mak! Doakan Ira yah, mak!”,Ira mendekap umak kencang,air mata meleleh, ia mencium wajah umaknya yang sudah mulai keriput.
Ibunya, mak Idah hanya berpesan kepadanya untuk selalu menjaga kehormatan diri dan jangan pernah melepaskan jilbab nya walau apapun alasannya. Islam akan tetap menjadi identitas diri yang tak boleh di kotak-katik lagi.
“La Tahzan! Innallaha ma’ana,anakku”, balas umak memberikan doa.
 Bayangan Humaira hilang ditelan kabut pagi.









Paradoks 10
Sambutan Ibukota

Antrian panjang bus-bus memadati terminal Antar Lintas Sumatera (ALS), bunyi klakson berdegung dimana-mana, tas-tas berat disusun di bagasi bus dan para penumpang hulu balang disekitar area, adapula yang duduk santai sambil menonton tv di ruang tunggu yang sekaligus sebagai tempat pengambilan karcis.
Humaira masuk kedalam bus setelah mengambil karcis, ia tidak membawa begitu banyak barang, hanya beberapa helai baju, ijazah esde, buku hariannya dan beberapa lembar uang bersama dengan jiwa keberanian. Dan yang tak boleh ia tinggalkan adalah mukenah beserta yang paling penting itu Alquran.  Alquran yang dibawa nya itu adalah Alquran kecil berukuran pocket berwarna orens. Itu pemberian Yusuf.  Tadi setelah sembahyang, Yusuf datang hanya untuk memberikan itu dan ia hanya berkicau sepatah kalimat
“Hati-hati di perjalanan yah! Jaga dirimu baik-baik!”.,Humaira agak sedikit heran kepada laki-laki baik itu, dia begitu pendiam, tak banyak bicaranya, ia sangat peduli dan sopan kepada orang lain. Mungkin setiap wanita akan jatuh hati dengan sikapnya yang bijak dan religious itu.Tak menutup kemungkinan Humaira mungkin jatuh hati kepada akhi Yusuf.
Setelah menunggu sekitar setengah jam, bus yang ditumpanginya berjalan. Perjalanan ke Ibu kota negeri ini dari desanya tiga hari tiga malam. Karena suatu hal yang sulit jika ia ingin menumpang di pesawat terbang. Itu hanya sebuah angan belaka untuk saat ini. Dada dan lahar menyenak penuh deram, di ujung gunung lawannya sudah menunggu.
Ia tidak tinggal seorang diri masih ada Rabb, yang senantiasa bersama nya. Ia hanya membawa bekal tiga buah roti untuk tiga hari. Satu roti untuk satu hari. Setengah bagian di siang hari dan setengahnya lagi di waktu malam datang.
           Jarum jam berputar maju. Satu hari lagi, ia akan sampai di terminal Jakarta. Ia menghabiskan waktunya di bus angkutan tersebut untuk membaca Alquran  sekaligus memahami dan mencoba untuk menghapalkannya. Kemudian ia selingi dengan membaca buku-buku yang berbau islam yang dipinjam nya dari seorang muslimah cantik yang sangat sibuk dengan handphone yang ada di genggamannya dan duduk disampingnya.
           “Maaf kak, apa yang sedang kakak lakukan?”
           “Kakak lagi menghapal Alquran,dek!”
           “ Hah? Menghapal Alquran kak? Tapi kok asyik sama handphone tidak sama Alquran kak?”, Tanya Ira lugu agak kanget.
           “ Zaman ini,zaman yang canggih dek, sekarang di handphone juga sudah bisa, tinggal kita download saja aplikasinya dek!”,
           “Ooo,, iya kak, terimakasih, maaf mengganggu kak!”, Ira menutup pembicaraan, tetapi muslimah itu sepertinya masih ingin berbicara kepadanya.
           “Ketika kita masih belia, pikiran kita masih bersih, masih jauh dari suara kefanaan dunia ini dan kemungkinan besar sangat banyak peluangnya  untuk bisa menghapalkan Alquran. Apalagi jika kita lihai dalam mempergunakan fasilitas yang ada saat ini.Jangan menunggu waktu luang tapi luangkanlah waktu untuk sesuatu hal yang baik”, termasuk dalam hal ini.
           Namun, Bagaimana membaca Alquran dapat meneguhkan dan menambah keimanan kita kepada Allah Swt,sedangkan di dalam Alquran tidak menyebutkan wujud Allah Swt?
Ketika kita membuka lembaran-lembaran Alquran, maka hamper tidak ditemukan ayat yang membicarakan wujud Tuhan. Bahkan, dalam buku yang Humaira baca tadi Al-Islam wa Al-‘Aql ,Syekh Abdul Halim Mahmud menegaskan bahwa ‘Jangankan Alquran, Kitab Taurat dan Injil dalam bentuknya yang sekarang pun (Perjanjian Lama dan Baru) tidak menguraikan tentang wujud Tuhan. Ini disebabkan karena wujud Tuhan tidak dapat dilihat atau dibayangkan karena wujud bersifat material,namun hanya dapat dirasa dengan hati. Alquran mengisyaratkan bahwa kehadiran Tuhan ada dalam diri setiap insan  dan bahwa hal tersebut memang fitrah manusia.
           Ketika kita duduk sambil membaca dan memahami ayat-ayat Alquran,maka pikiran kita akan tenang,segala masalah yang berkaitan dengan dunia pun terputus hingga seakan-akan kita berdialog dan mendekat diri kepada Sang Khaliq. Dan dari percakapan itu membuat kita yakin dan sadar bahwa Allah Swt itu memang benar-benar ada, betapa lemahnya manusia di hadapan-Nya dan betapa berkuasa-Nya Dia hingga tiada daya serta kekuataan, kecuali atas pertolongan-Nya. Lahaula walaa quwwata, illa billahil aliyyil adzim.

***
          
           “Humaira…Humaira..  !!, bangun dek, kita sudah sampai di terminal,Jakarta”, kakak muslimah itu menggoyang-goyangkan bahu Ira, ternyata ia sudah tertidur pulas dan Alquran orens itu masih dalam genggamannya.
            “O,iya kak!, terimakasih ya kak!”, Ira tersentak,tangannya masih mengusap-usap dua matanya.
           “Kakak, turun duluan yah, hati-hati kamu di jalan!”
        Humaira mengambil ranselnya dan bergegas turun dari bus tersebut.
  
            Ia mencakung, kaku dan canggung. Senja larut dalam nisbi dunia. Di sini tak tampak sempurna datangnya matahari senja yang dihiasi gumpalan awan kemerahan. Burung tekukur menyampaikan bunyi. Entah bagaimana tafsirannya. Berbeda.  Jika sempat senja beranjak datang di sini, di tempat ini, berubah sudah  menjadi sesuatu yang sangat memanjakan setiap elemen mata yang memadangnya. Secara utuh, Humaira melihat gedung-gedung pencakar langit, air mancur yang menyembur-nyembur, muncrat dari bawah ke atas angkutan dari level yang paling minimum sampai maksimum ada disini, ada di tempat ini.     “ Tempat apa ini?”,
           Ribuan angin hanya lewat sepintas, melewati Ira begitu saja. Ribuan makhluk hanya diam menatapnya, hirauan? Tak ada yang ia dapat. Individualis. Suara- suara bathinnya semakin meraung,menghiba kepada-Nya.
           “Ketahuilah wahai ibukota, aku adalah orang asing untukmu, aku tak mengerti apa-apa  tentangmu, aku tak tahu itu, maka jelaskanlah kepadaku, apa-apa yang tak ku ketahui tentangmu”, ditulisnya dalam buku hariannya. Belajar menerima semuanya. Ini lebih mengerikan daripada ngauman si raja hutan. Lebih mengeram dibandingkan yang ku khayalkan dulu, waktu aku menetap di desa. Sekarang aku singgah di sini, di tempat ini.
            “Ayah? Ayah? Ayah dimana??”, Ira pasrah, foto ayah yang duduk bersamanya di gubuk kecil,tepi sawah hanya itu yang ia punya saat ini.
           Ira merasakan kegelapan tiba-tiba menguras pikirannya. Harus kemana langkah terlebih  dahulu menapaki daratan asing ini. Harus kemana pula tangan mengayun. Harus kah hanya mengikuti arus insting semu yang bersembunyi seorang diri dibalik kesunyian malam.
Mau tidak mau kaki harus tetap menyusuri duri itu.
              “rgghaggggrjhrgdh…..lapar-lapar-lapar!!!”, cacing-cacing sedang melakukan demonstrasi massal di perut Ira.
               “he..he… he…, cacing-cacing diperut, curi semua nutrisi! Tapi tak perlu takutt…”, ia tersenyum geli mendengar suara perutnya sendiri.
              “ Yang sabar ya perut yang manisss.. ayo kita membeli makanan”,di suasana yang seperti itu,ia masih saja bisa bercanda.
               “Etek33, beli nasi nya tek?”
               “Berapa neng?”
               “Satu saja lah, tek!”
               “Lauk nya neng?”,
               “Tempe aja, tek!”
               “Lima ribu yah!”, kata etek jual nasi tersebut.
                “Ini tek!”, Humaira memberikan uang bercorak Pattimura yang gagah dengan pedangnya sebanyak lima lembar.
 Kebutulan warung tersebut warung masakan Mandailing.
Humaira meninggalkan warung tersebut dan ia berjalan menyeberagi jalan karena ia melihat di seberang jalan ada taman kecil dan ada sebuah bangku panjang disana.
“Lalalala…lalala… Akhirnya Ira bisa makan!”,nyanyi nya kegirangan sambil melintasi jalan. “BRUKKKKKKKKKKK!!!!!!…………..”, suara yang sangat keras tiba-tiba terdengar.
           Nasi bungkus yang dipegangnya oleh tangan kirinya berhamburan di angkasa bersama dengan suasana senang hatinya yang seketika berubah menjadi luka.
“Sszsssszzzzzzzzzzzzzz!!!!!........”, mobil truk yang menabrak gadis kecil itu langsung malarikan diri, melaju dengan kecepatan tinggi. Tragis memang manusia jaman sekarang. Tak sedikit yang tak bertanggung jawab atas perbuatannya.
           “Siapa itu? Siapa itu, ada apa?”, Tanya orang-orang sekitar tekape
            Gemuruh suara memecahkan kemewahan gemerlap malam. Dengan cepat  kerumunan orang melingkar melihat Humaira. Tubuhnya terbujur di atas aspal merah, lumuran darah merubah warnanya. Sambutan Ibukota yang tak berperasaan.
           Darah bersih mengalir deras dari kening dan hidung Ira. Karena tubuhnya yang memiliki berat sekitar 30 kg membuatnya terpelanting ke udara saat kejadian. Namun, Alquran orens itu tetap tergenggam di tangan kanannya. Sekitar sepuluh menit berlalu, masih tak ada tanda-tanda warga ingin membawanya ke rumah sakit. Mungkin mereka takut dituduh sebagai tersangka dan masuk kedalam jerat jeruji besi. Mungkin!
           “Angkat gadis kecil itu ke mobil saya”!, bapak berbadan tegap dan kekar membuka mulut.
           “Baik pak!”, balas orang-orang ketakutan.
    Bapak tersebut menancap gas dan membawa Ira ke rumah sakit terdekat.
           “Dokter…! Dokter..! ada korban tabrak lari.. , bantu saya, bantu saya!!”, teriak si bapak tubuh kekar itu merintih. Ia sangat panik karena dari tadi, darah dari kening gadis itu tak hentinya bercucuran bersama dengan airmata yang menahan sakit.
           Dengan cepat bantuan pun datang. Dan membawa gadis itu keruang UGD ( Unit Gawat Darurat). Bapak tersebut tetap mengikuti darimana kemanapun roda tandu itu berputar.
           “Maaf pak, bapak tidak boleh masuk! Bapak menunggu disini saja”, ia mengarahkan ke tempat duduk. Entah kenapa? Walaupun gadis tersebut tak dikenalnya tapi ia sangat khawatir kepada nya.
          

           Beberapa menit kemudian, Ira sudah terbaring lemas di atas kasur berseprei biru muda dengan satu suntikan disalah satu tangannya untuk media masuknya cairan dari kantong infus. Dia di opname dan mungkin akan dirawat inap disana untuk beberapa hari. Karena dokter mengatakan ia kekurangan banyak darah dan tangan kirinya patah. Sampai saat ini, ia masih tak sadarkan diri. Itu akibat terlalu lama gadis itu dibawa untuk segera ditangani para medis.
           “Bagaimana keadaan gadis itu, dokter?”,
           “Ia membutuhkan donor darah,pak!”,
           “Ambil darah saya saja, golongan darah saya A,dok?”
            “Golongan darah gadis itu AB,kebetulan pasokan darah AB rumah sakit ini sedang   habis , pak!”
           “Bagaimana ini, dok?”
           “ Jika sampai 1x24  jam ke depan kita tak mendapatkan darah AB, saya khawatir keadaannya semakin parah,pak!”, gelisah dokter.
 “kami akan mencoba menghubungi beberapa rumah sakit, pak!”
“ iya pak, saya tunggu kabar baik dari pihak rumah sakit ini!, terimakasih, dokter!”.
“Kalau hanya menunggu pihak rumah sakit keadaannya semakin parah nanti!”, terdengar suara hati Bapak bertubuh kekar. Kemudian bapak tersebut mengambil sesuatu dari saku nya, dan sepertinya ia mencoba mencari-cari nomor ponsel seseorang.
           “Haloo, Assalamualaikum, Ma!”
           “ Iya,pa! Waalaikumsalam,ada apa? Papa kenapa belum pulang? Udah larut malam ini,pa”,jawab seseorang dari seberang sana.
           “Iya ma, papa sebentar lagi pulang tapi sekarang papa lagi di rumah sakit, ma!”
           “Apa,pa? di rumah sakit? Papa sakit apa? Mama langsung nyusul kesana ya, papa sms-in alamatnya!”, isteri bapak tubuh kekar itu takut terjadi sesuatu dengan suaminya.
           “Iya, Ma!”,mengakhiri pembicaraan.
Isteri dari Bapak bertubuh kekar tersebut bersama anak perempuanya setengah jam kemudian datang ke rumah sakit “Kasih Bunda”. Ternyata ia melihat suaminya itu baik-baik saja.
           “Jadi siapa yang sakit, pa? Tanya isterinya heran.
           “ Seorang gadis kecil, korban tabrak lari, ma!”
           He to the low!! Hellow…”, dengan gaya yang agak centil, anak perempuan mereka menengahi percakapan.
           “ Jadi ma, kita kesini Cuma buat hal yang enggak penting ini,buang-buang waktu banget,ma”.


           “ Iya pa, lebih baik tadi mama langsung tidur lagi”, isterinya menimpali.
           “ Apa salah nya sih kita membantu gadis itu, dia sedang membutuhkan donor darah AB, ma!”
           So, papa minta mama untuk donorin darah sama gadis yang kita tidak ketahui asal-usulnya itu?”
            “Iya ma, mama mau kan?”
           enggak ah, kayak gak ada orang lain aja..”    
           “ Papa minta tolong sekali sama mama, pasokan darah AB beberapa rumah sakit sedang habis ma, dokter baru memberitahu tadi, nanti papa beliin berlian buat mama
           “Janji ya pa, yasudah!,”
           “Kapan?”,Tanya isterinya itu.
           “ Besok saja ma, kalau sekarang dokter nya sudah pulang”.
       Bapak bertubuh tegap dan kekar itu adalah kepala di polsek setempat. Mahdi begitu ia disebut para anggotanya. Pak Mahdi adalah orang yang sangat baik sekali. Ia memiliki seorang isteri yang cerewet tapi sebenarnya baik kalau kita memberikan apa yang ia inginkan. Dan seorang putri yang sifatnya tak jauh dari ibunya itu. Mereka warga asli Jakarta. Lingkungan yang membentuk karakter mereka dengan penuh kemewahan, bahasa-bahasa yang mereka gunakan juga bahasa gaul tren masa kini.
           Pak Mahdi masih tetap di Rumah Sakit menemani Ira, si gadis kecil yang malang. Jarang bisa di temukan seseorang  yang begitu ikhlas seperti pak Mahdi. Entah terbuat dari apa hati bapak bertubuh kekar tersebut. Sementara isteri dan anaknya pulang ke rumah. Dan tak ada keinginan sedikit pun tercuil di hati mereka untuk bersama suami nya di rumah sakit.
           












Paradoks 11
Bunda Sinar


            Matanya masih terpejam sayu, jari-jari tangannya dingin dan penutup hidung nya  , penambah oksigen untuk ia bernafas masih kembang kempis. Badan nya juga masih hangat. Namun sel-sel syarafnya masih bisa berproses,masih bisa mendengar suara-suara dari luar. Otaknya berfungsi dengan baik memompa oksigen ke seluruh tubuhnya. Di alam bawah sadar nya, memori nya jauh menerawang di alam bawah sadar nya. Sebuah cahaya, seberkas sinar dan secerca kebahagiaan datang dari raut muka makhluk imut itu, ia berkerudung putih yang panjang dan memakai jubah putih yang panjang pula dan memakai mahkota yang teramat indahnya melingkar di atas kepala bulatnya.
           Tapi ia sama sekali tak membawa tongkat kecil dengan bintang emas di bagian ujungnya di tangan kanannya. Seperti sailormoon, sang pembasmi kejahatan seperti yang di tokoh-tokoh kartun. Atau pula yang membantu seseorang yang ia anggap majikannya yang sedang kesusahan. Ia hanya duduk menatap nya terbang melayang-layang mengelilingi tubuhnya. Ira pun ikut berputar-putar mengikuti gerak gerik makhluk itu.
           Heran. Bingung. Menyelinap di ketidaktahuannya. Ia membawa Alquran kecil berwarna putih persis seperti Alquran yang dimiliki Ira di tangan kanannya. Mungkinkah ia malaikat? Ahh,, rasanya tak mungkin. Lalu siapa dia?
           Tanpa Ira bertanya langsung ia mungkin sudah memiliki keinginan sendiri untuk memperkenalkan dirinya.
         “Assalamualaikum gadis kecil..”
         “ Walaikumsalam bu”, jawabnya masih bingung.
         “ Aku adalah seorang bidadari yang Allah kirim untuk menasehati dan mengarahkanmu..”
        “ Apa, bu?”, Ira semakin bingung.
        “ Ia, gadis kecil, aku akan selalu ada bersama mu, menemanimu disini!”
        “ Apa aku sedang  bermimpi??”Gumamnya. Ira mencubit tangannya keras. Tetapi ia sangat kesakitan. Ira berlari ketakutan.
        “ Jangan lari, nak!, aku orang baik”,makhluk itu berteriak memanggil. Dan melayang mengikuti Ira.


           “ Ira capek, Ira capek, jangan kejar-kejar Ira, bu”,
            “ Ya sudah, istirahat lah nak”.
            Makhluk itu pun semakin mendekati Ira, ia tersenyum melayang di depan mata Ira. Ira sudah tidak bisa berlari lagi, tubuhnya sudah lemah. Tak ada lagi kekuatan yang ia miliki.
           “Gadis kecil, yakinlah aku ini orang baik, tidak ada maksud jahatku untukmu”,ulangnya lagi.
           “ Apa benar engkau di kirimkan Allah untuk ku?”,
           “ Ya, itu benar, gadis kecil. Kamu cerdas sekali seperti ibu mu”.
            “Umak?”, tiba si gadis kecil, Ira teringat akan sosok mak Idah.
           “Kamu disini hidup sendirian, tak ada yang kau kenal maupun mengenalimu! Kamu kemari, mau mencari ayahmu bukan?”
           “ Iya, mengapa ibu bisa tahu?”
           “ Dan kamu tidak mengetahui dimana ia sekarang bukan?”, di tanya nya lagi.
           “Iya!”, Ira hanya mengangguk dengan suara lemah.
           “Aku akan menjadi ibu kedua mu, disini. Kamu mau?”
           “…….”,  gadis kecil itu diam seribu bahasa.
           “ Aku hanya akan mengingatkan mu , jika kau salah! Aku yang akan menyemangatimu jika kau sedih!, aku akan datang di waktu bahagia dan duka mu, anakku!, aku yang akan menasehatimu dengan kalamullah yang terjilid rapi dalam Alquran, itu sebabnya aku akan selalu membawa Alquran ini di genggaman tangan kananku”.
           “Apakah aku harus percaya padamu,bu?”
           “Semua tergantung pada dirimu, keputusan ada padamu”,
           “Tetapi bagaimana pun itu keputusanmu, aku akan ada bersamamu, sampai kau tak membutuhkanku lagi”,
           “Hatiku, mengatakan kamu orang yang baik, bu!, aku percaya padamu, bombing aku dalam ketidak tahuanku”,
           “ Panggil aku bunda Sinar, gadis kecil”
           “ Baik, bu!”
           “ Bunda Sinar”, ia menutup mulut gadis kecil itu dengan jari telunjuknya, pertanda ia tak ingin dipanggil ibu lagi.
           “ Namaku Humaira, Bunda Sinar”, jawab nya riang.
           “Nama yang bagus! Ibu mu tak salah memberikanmu nama itu. Pipi mu kemerah-merahan bak Aisyah, isteri termuda Rosulullah Saw”.
           “ Terimakasih, bunda ”.


Paradoks 12   
Mujahid/mujahidah Islam

Gerimis air mata sedu sedan seakan-seakan bumi Allah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh si gadis kecil, Humaira . Simaklah, bunyinya semakin bergemuruh. Malaikat telah mencatat segala macam indeks yang di alami gadis malang itu. Matahari yang biasanya akan naik sepenggalahan pada jam 09.00 menandakan waktu dhuha sudah ada , tak tampak hari ini. Jum’at , hari terbaik dari hari lainnya. Hari yang tepat untuk melantunkan sholawat kepada Baginda Rosulullah. Hari yang ada padanya suatu waktu Allah akan mengabulkan do’a-do’a yang dilantunkan hambaNya untukNya. Waktu Ashar adalah waktu yang baik itu. Selain itu adalah do’a yang menghampiri Allah ketika hambanya sedang bersujud, tersungkur berserah diri,merendah hati kepadaNya dan juga dikala sepertiga malam yang mulia.Mendung.Mentari tak menyapa hari ini.
Humaira masih meruyak tak tersembuhkan sebelum pendonor ikhlas mentransfer darahnya.Pak Mahdi baru saja terbangun dari tidur pulasnya. Dan ternyata di depan pintu ruang rawat Ira sudah menunggu isteri beserta anaknya.
“Ternyata mama menepati janjinya. Syukurlah!”, sambut hati pak Mahdi gembira.
Proses transfer darah pun dilakukan. Dan tak selang beberapa jam kemudian, jari-jari tangan gadis itu menyapa. Rona kegembiraan semakin menjadi-jadi di wajah pak Mahdi dan keluarganya. Alhamdulillah, ia sudah sadar.
           “Siapa namamu nak?”,
           “Humaira, pak! Keluarga bapak yang menolong saya? Terimakasih banyak pak, buk dan kak!”, ia mengabsen orang-orang baik yang ada disekelilingnya dengan sopan,suaranya pelan.
           Butuh dua  hari lagi menunggu keadaannya membaik. Humaira sudah ikhlas dengan tangan kirinya yang patah. Masalah biaya rawat di rumah sakit sudah di tanggung oleh rumah sakit. Karena ia hanya korban. Sementara tentang siapa yang menabraknya beberapa hari lalu sudah di serahkannya kepada pak Mahdi selaku polsek setempat, biarlah Allah yang membalasnya, mudah-mudahan Allah memaafkan dosanya.
           Dua hari surut, ia sudah diperbolehkan meninggalkan tempat tidur bersprei biru itu, setiap orang tak ada keinginan untuk tubuhnya berdempetan dengan kulitnya. Siapa yang ingin penyakit singgah di tubuhnya? Tak ada. Ia menolak tawaran keluarga pak Mahdi untuk ikut tinggal dirumah mereka karena sepertinya isteri dan anak perempuan pak Mahdi tersebut tak senang melihatnya. Humaira, tak apa!.
           07.00 Di sandang nya lagi ransel nya itu dengan tetap menggenggam Alquran orens di tangan kanannya. Ia telusuri tepi jalan tol,harapannya belum pudar untuk mencari sosok ayah yang ia rindukan. Ayah yang datang untuk menggopohnya dengan sepeda motor butut ke puskesmas ketika ia sakit. Seorang ayah yang sabar dan telaten mengajarinya mengayuh sepeda angin dengan dua roda bantu. Sepeda angin berwarna merah dengan stiker upin-ipin yang dia sukai. Ayah yang membelikannya boneka Barbie pink ketika ia merengek-rengek karena umak tak mau membeli itu untuknya. Ayah yang memandikannya ketika umak sibuk dengan segala pekerjaan dapur. Ayah ??
           Makhluk kecil yang imut dan berpakaian serba putih datang tiba-tiba. Humaira hampir lupa dengan mimpinya itu. Ia mengira itu hanya bunga tidur belaka. Tapi , hari ini, ia hadir tepat di depan kening Ira.
           “MasyaAllah, bunda Sinar, apakah itu kau?”,
“ Ya, ini aku Humaira, sedang apa bunda disitu?, nanti orang-orang lihat bunda?”
“ Tenang saja Humaira hanya kau yang dapat melihat bunda”.
“Bunda… Ira rindu ayah. Ira ingin bertemu dengan ayah!”, ia mengadu kesedihannya.
“ Iya Ira, Bunda tahu hal itu,nak!”
Bunda membuka Alquran putih nya dan menyampaikan untaian firmanNya Innallaaha ma’as sobiriin, sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar. Dan sebuah hadist  man sobaro zhopiro.Barang siapa yang sabar akan meraih kesuksesan.
“Sabar Ra, cepat atau lambat kau akan bertemu dengan ayahmu”, ucap bunda tenang dan pergi meninggalkannya.
             Panas nya terik matahari hampir melepuhkan kulit siapa pun yang berada dibawah naungannya. Syukurlah, Ira memakai baju lengan panjang. Matahari berada tepat di atas kepala membentuk bayangan hitam yang utuh. Sangat nikmat mungkin jikalau kerongkongan dilewati semacam cendol dengan satu sendok es batu bercampur dengannya. Berrrrrr!!! Segarrr!. Ahh,, Ira sampai ingin ngences membayangkan itu.
           “Harus hemat, Ra!”, ia mengingatkan dirinya sendiri.
           Entah kenapa jejaknya berhenti di depan sebuah mesjid yang dilapisi cat hijau yang memancarkan kedamaian . Kaligrafi-kaligrafi terukir indah mengelilingi dinding-dinding mesjid. Walau tak semegah mesjid Istiqlal yang sering Ira lihat di siaran Tvri dalam acara sholat jum’at. Ira suka menonton acara tersebut karena presiden , wakil presiden, menteri agama dan pemuka agama lainnya sering sholat disana.
Dan suatu saat nanti, Ira juga ingin sekali bersungkur, bermunajat kepadaNya disana,salah satu mesjid terbesar di Indonesia. Tapi keinginan pertama nya tetap sama seperti cita-citanya dengan umaknya, tersungkur, merendahkan hati di masjidil haram dan mencium kakbah yang ditutup oleh kiswah suci berwarna hitam.
Mungkin Allah mamanggil Ira untuk segera menghadapkan diri kepadaNya. “ Ira rindu sama Allah, sudah beberapa hari ini tak singgah ke bait-Nya!”. Sesungguhnya pada suatu tempat Allah sangat mencintai mesjid-mesjidnya maka kunjungilah mesjid itu dan Ia benci dengan pasar-pasarnya. Ternyata  waktu zuhur sudah tiba. Akhirnya , Humaira memilih untuk sholat dulu di mesjid itu sekaligus beristirahat disana.
           Selang satu jam, ia kembali lagi berjalan. Ia mencoba mencari ayahnya dengan meyodorkan kertas foto yang sudah usang berbentuk persegi panjang model landscape pada setiap orang yang ia jumpai. Tapi sudah banyak orang yang jumpai tak satupun yang mengenalnya.
          “ Apa wajah ayah sudah sedikit berubah?, dulu wajahnya yang bersih tanpa kumis ataupun jenggot kini sudah di penuhi kumis, jenggot bahkan jambang yang tumbuh liar mengikuti bentuk wajah ayah?, Ahh!! Rasanya tak mungkin!, ayah Ira orang nya bersih, pasti satu kali satu minggu ia sempatkan untuk mencukur itu”, ia berbicara sendiri.
           Bintang sudah mulai menampakkan diri kepada malam ditemani bulan  ia datang dengan kasih sayang. Humaira membuka balutan kantong kusam yang diberi umaknya. Ia membagi-bagi dan mengalikan angka-angka nominal uang dengan hari-hari yang akan dilaluinya. Untuk mengantisipasi, malam ini ia menawarkan diri untuk mencuci mangkok-mangkok kotor yang sudah tersusun bertingkat di sebuah tempat penjualan bakso. Walaupun hanya dengan menggunakan tangan kanan, ia tetap berusaha membersihkan mangkok itu. Mungkin, karena malam ini malam minggu itu sebabnya banyak pelanggan nya yang didominasi oleh kalangan remaja perempuan maupun laki-laki mencicipi baksa uwak Rusdi  untuk menghabiskan waktu malam mereka. Ira tak meminta apa-apa dari pekerjaan itu. Ia hanya meminta untuk diberi sepiring nasi untuk mengganjal kekosongan yang melanda perutnya. Hanya itu saja.
           “Kerjaan Ira sudah selesai uwak,Ira pergi dulu,,”
           “Heyyy… tunggu dulu , nak”, uwak menarik tangan Ira.
           “Ini untukmu...”, uwak memberikan satu bungkus bakso beserta satu helai uang sepuluh ribuan.
           “ Jika kamu masih berkenan, datang lah kemari setiap malam!, uwak hanya buka setiap malam saja, uwak dengan senang hati menyambutmu, nak!”.
           “ InsyaAllah wak, terimakasih untuk semuanya”.
 Humaira pergi meninggalkan uwak bakso dan mencari tempatnya untuk memakan bakso tersebut. Ia duduk bersandar di depan toko buku yang berada di tepi jalan raya bersama-sama dengan beberapa orang yang sudah tertidur nyenyak terbawa mengalun bersama mimpinya. Ia terlelap di atas lapisan koran-koran.Mungkin sebentar lagi Ira juga akan mengikuti tindakan mereka. Itu memang betul. Sesaat setelah ia melalap bakso uwak Rusdi yang rasanya mantap di mulut tak kalah dengan bakso-bakso di Mandailing. Ia langsung mengeluarkan sehelai kain, bau badan umak nya masih melekat di kain itu karena kain tersebut adalah selimut yang menutup badannya setiap malam.
           Malam ini, ia dekat sekali dengan bumi dan terlelap di bawah naungan dengan beratapkan langit secara langsung. Mata nya perlahan terpejam. Ia sangat kelelahan melalui warna hidup hari ini. Dari kejauhan terlihat bunda Sinar semakin mendekat. Ia mengawasi Humaira dari kejauhan.
              Bunda mengelus-elus  kepala Ira yang masih ditutupi jilbab putihnya. Nasehat bunda Sinar untukmu hari ini Ira,  Man saaro a’laddar bi washola. Orang yang menempuh jalan yang benar akan sampai ke tujuan. Jangan pernah putus asa singgah di hatimu,nak! Jika itu jalan yang benar , konsisten, jangan berubah lagi sampai kau dapat apa yang kau inginkan. Tapi jika itu jalan yang salah, jangan pertahanan ia. Menjauhlah,nak! Buang saja, jangan hiraukan.  Sekarang tidurlah, semoga besok harimu lebih baik.
“ Bangun, bangunn….!!! Pergilah nak, hari sudah siang! Saya ingin membuka toko saya”, seorang ibu-ibu yang berbody gendut, wajah nya tembem dan matanya sipit membangunkan Ira.
“Iya bu, terimakasih bu”, Ira langsung berdiri bangkit dari tidurnya. Ia lihat sekelilingnya tak ada satu orang pun lagi, mungkin mereka sudah pergi dari tadi dan tak berniat membangunkannya.
Ia lagi dan lagi bertanya kesana kemari tentang ayah nya, pak Habibi. Lagi dan lagi ia tak menemukannya. Memang susah mencari orang di Jakarta yang luas nya sebenarnyan Ira sendiri tak tau,  yang jelas besar sekali bagian dari pulau Jawa. Ada Jakarta bagian barat, selatan dan juga timur.
           “Jakarta bagian barat daya, ada tidak yah? He.. he.. he..he ”, ia menghibur diri.
Tanpa sadar, nikmat alam tak akan habis sampai akhir perjalanan ini. Jauh disana pandangan Ira menerobos ke seberang jalan melewati hilir mudik benda mati tetap bergerak mengisi kepadatan kota ini. Mereka bermain dan terseyum bahagia disana.Ia semakin penasaran akan apa yang mereka kerjakan disana.


Humaira berlari kecil menuju tempat tersebut. Tetapi , ia takut. Ia hanya menatap mereka dari balik tembok besar yang memiliki fungsi ganda selain untuk menopang jembatan layang juga sebagai tempat anak-anak jalanan belajar,bermain dan merajut sulaman asa yang tak mungkin mereka biarkan begitu saja di timbun segala macam kekurangan yang melemahkan mereka.
Seorang laki-laki kecil, ia mengingatkan Ira pada Abdullah, sedang apa ia disana?, ia datang mendekati Humaira.
“ Ayo kak? Ikut bersama kami disana..”, ia menarik tangan Ira perlahan.
Ira hanya diam dan mengikut.
“ Mari ucapkan salam kepada kakak berjilbab putih itu, adek-adek!!”, perintah kakak muslimah yang pernah berjumpa dengannya di bus, dulu ia duduk disampingku. Tak pernah ia sangka bisa berjumpa lagi dengan kakak muslimah itu.
“Assalamualaikum kakak”, sorak mereka semangat.
“Waalaikumsalam, adek-adek!!”,jawab Ira Semangat pula tapi hamper ia meneteskan airmata. Mereka begitu bahagia.
  Harus nya Ira yang lebih memperbanyak bersyukur.
           “Bersyukur Ira, bersyukur!”, teriaknya memarahi jiwanya.
“Yang mereka rasakan tak sebanding dengan apa yang ku rasakan. Tak sebanding sama sekali,Ra”.
“Kau masih bisa mengenyam pendidikan dasar, sementara mereka jangankan pendidikan dasar untuk mengecap rasa ayam panggang saja jarang,tahu dan tempe merupakan makanan kesukaan mereka dan untuk itu juga harus mengaisnya sendiri dengan beragam cara. Mereka semua yatim piatu, tak lagi memiliki kesempatan mendapat kasih sayang ayah dan ibu bahkan ada diantara mereka yang sudah tak dianggap anak lagi. Itu semua karena beberapa kekurangan yang hinggap di tubuh mereka sehingga mereka di telantarkan. Tetapi hakikat yatim bukanlah mereka yang ditinggal mati ayahnya, tetapi yatim adalah mereka yang tidak memiliki ilmu dan akhlak.
Ada yang hanya memiliki satu kaki, satu tangan saja, ada pula yang mempunyai mata, tapi tak bisa melihat segala kemewahan yang ditawarkan dunia dengan segala kekejamannya masing-masing ataupun telinganya yang tak bisa mendengar suara-suara rayuan dunia ini”. Tapi mereka mempunyai Semangat yang sungguh luar biasa. Tak pernah mereka anggap semua itu suatu yang mengerikan namun beranggapan semuanya suatu permainan yang menyenangkan hati. Mereka masih gerombolan anak-anak delapan hingga sepuluh tahun.


Ira teringat Gurindam Dua (kesatu), bapak Taufik Ismail, seperti ini liriknya:
Ada 100 orang termat kaya betapa boros di negeri ini
Najisnya berlian berlumuran mengalir tiap hari

Ada 100 juta orang miskin luarbiasa di negeri saya
Minum mimpi,makan angan-angan, sudah sangat lama

“Adek-adek!!  nama kakak ini kak Humaira”, kakak muslimah itu merangkul bahu ira sambil tersenyum memperkenalkan Ira.Kakak muslimah masih ingat namanya.
“Ayo.. kita minta kak Humaira untuk bernyanyi,menghibur kita semua!!”
“Nyanyii… nyanyii.. nyanyiii…”, sorak mereka dengan tepuk tangan yang keras.
“Kakak tak begitu pandai bernyanyi adek-adek,kalian saja yang menyanyi untuk kakak yah?”, bujuk Ira mengelak.
“Enggak mau kak!! Nyanyi, nyanyii, nyanyiii,,..”, sorak mereka lagi penuh antusias.
Humaira tak bisa lagi menolak, ia pinjam salah satu gitar kecil yang dimiliki anak kecil yang mirip dengan Abdullah tadi seperti benda yang dimiliki penyanyi cilik, Tegar yang tenar lewat kelihaian nya menjadi pengamen jalanan. Ia ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka.
“Kakak mulai yah.. tapi jangan ribut, okehhh??”, pintanya senang.

 “ Liujarihim, qoldat tu zohiru ma fihim,  fabadautu syakhsan akhaar, kai atafaa khar”,
 “Wa zonan tu ana, anni bizalika huztu ghina, fawajad tu anni kha-sir fatilka mazohir”,
 “La la , la nahtajul ma la, kai nazdada jama la, jauharna huna , fi qalbi ta lala”,
 “La ,la nurdhin nasi bima la, nardhohu la na ha la,za ka jamaluna, yasmu yata’ala”,
“Ayo semua nya adek-adek,sama-sama nyanyi!!”, ia bersorak sambil mengangkat tangan dan mengayunkannya ke kanan dan ke kiri. Gerakannya pun di ikuti adik-adik itu,   mereka bernyanyi riang bersama.
 Ternyata mereka hafal lagu tersebut. Nama kakak muslimah itu adalah Mimi Nazrina. Ira belum sempat menanyakan nama nya kemarin sewaktu di bus. Mungkin kak Mimi yang mengajarkan mereka lagu ini. Ira suka sekali lagu ini. Kun anta-Humood AlKudher. Melodi yang riang membangkitkan semangat hati yang sendu untuk tetap menjadi diri sendiri dan jangan pernah mencoba menjadi orang lain.




 “Oh wo oh.., oh wo oohh……,
“Oh wo oh.., oh wo oohh……”
           “Oh wo oh.., oh wo oohh……”
“Kun anta tazdada jamala…”
“Yeiiiiii….”, tepukan riang pun bergemuruh memeriahkan tempat yang beratap tembok beton kokoh itu.
Kak Mimi adalah seorang sukarelawan. Ia sangat menyukai anak-anak apalagi jika mereka memiliki semangat hidup yang tinggi. Makin bertambah keinginannya untuk selalu bersama-sama dengan mereka sepanjang hari. Tetapi itu tak mungkin, kak Mimi masih berstatus sebagai mahasiswa di UIN Jakarta. Ia hanya dua kali seminggu berkunjung ke kolong  jembatan untuk menghibur sekaligus mengajari membaca, menulis dan mengaji puluhan anak-anak kecil  yang terkumpul dalam satu ukhuawah yang ia beri nama “MUJAHID/MUJAHIDAH ISLAM”. Bagi nya para anak kecil itu adalah seorang pejuang yang berkibrah di jalan Allah. Dosa-dosa mereka belum dibebankan kepada mereka seutuhnya. Humaira juga sangat ingin sekali ikut berbagi ilmu kepada mereka. Hari ini, menghabiskan waktu bersama mereka. Ia ikut mengamen dengan Amir, cowok kecil tampan mirip Abdullah, adiknya. Kak Mimi pamit untuk pulang karena ia ada jadwal kampus sore ini.
“Kakak yakin mau ikut sama Amir?”, Amir memastikan Ira.
“Ia, Amir. Kakak yakin seratus persen, eh! untuk Amir seribu persen saja biar yang seratus persen nya dapat. Kalau kita punya mimpi itu jangan setengah-setengah adek, harus yakin, kita pasti bisa meraihnya, takhlukkan dunia”, jawab nya menyemangati.
“Oh,ia!! Amir punya mimpi kan? Boleh kakak tau apa itu”, Tanya nya menimpali.
“Amir ingin jadi ustazd kak tapi tetap bawa gitar kak! Keren kan kak?”,
“Ia dekk!! Tapi kenapa harus bawa gitar?”
“Amir juga ingin mengembangkan bakat Amir. Jadi nanti sambil berdakwah bisa menghibur jama’ah juga kak!!”, bangga sekali ia mengutarakan mimpinya itu.
“Wahh… MasyaAllah , adik, citamu mulia, Semangatt terus adik kakak, !!”, Ira mendekap tubuh Amir yang kurus dengan penuh haru.
“Umur Amir sekarang berapa?”
“sepuluh tahun kak”
“Lima belas tahun lagi, kakak udah harus lihat Amir berceramah di mimbar khutbah,
sambil pakai gitar juga ya! Janji?”, mereka menyatukan kedua kelingking mereka. Tanda menyetujui hal itu.

Mereka pun berjalan menyusuri sepanjang tol jika lampu merah terpampang hampir di setiap persimpangan. Anak-anak akan berlarian mendekati para pengendara. Ada yang menawarkan koran, air minum maupun makanan-makanan ringan dan Amir beserta Ira mengamen, sebenarnya kata mengamen itu tak cukup bagus di ucapkan lebih baik diartikan ke menghibur dan jika ia terhibur ia berikan segocek rupiah yang dimilikinya dengan ikhlas.
Hari ini ada yang sedikit berbeda, Ira menyanyikan lagu-lagu islami dan Amir mengiringi denga harmoni merdu petikan gitarnya.
Sesekali Ira mencoba untuk memperdengarka hafalan surah-surah pendek nya kepada para pengendara yang mereka temui. Alhasil, mereka lebih berantusias akan itu walaupun ada juga sebagian kecil yang tak memperdulikan. Mungkin mereka berpikir, jarang sekali anak jalanan bisa menghafal Alquran seperti Ira.
Sebenarnya, anak-anak kecil tersebut masih bisa diarahkan untuk menghafal Alquran tentunya setelah mereka bisa dengan lancar membaca Alquran. Alah bisa karena biasa. Seharusnya ada suatu waktu yang di khususkan  misalnya ketika waktu maghrib tiba mereka di kumpulkan di mesjid untuk sholat berjamaah dan dilanjutkan belajar mengaji. Jika di ajar dengan lemah lembut mereka pasti masih menurut. Untuk mengatasi ini tak dapat hanya dilakukan sendiri harus dengan peran aktif masyarakat dan  pemerintahan itu sendiri. Jika hanya satu lidi, ia sangat mudah di patahkan. Tapi jika lidi-lidi tersebut disatukan dalam satu ikatan akan sangat sulit mematahkannya. Semuanya perlu kerja sama dan saling percaya.
Hal ini tak lain juga sebagai ajang untuk mencapai tujuan utamanya, mencari ayah. Hari mulai sore, mereka beristirahat bersender di bawah pohon beringin besar  meminum satu botol aqua gelas per dua orang dan Amir mulai menghitung recehan yang mereka dapatkan setelah setengah hari berkeliaran. Sementara bola mata Ira bergerak pelan dari kanan ke kiri melantunkan ayat-ayatNya.Sambil membaca ayat demi ayat, hatinya juga memanjatkan do’a agar Allah mempermudah jalannya. Suara khas nya saat membaca huruf-huruf membuat Amir jatuh cinta. Subhanallah, cengkok-cengkok iramanya, makhroj hurufnya, ia lafalkan dengan baik.
 “ Kak Ira,. Kemarin Amir baca selembaran yang tergeletak di jalan. Disana tertulis ada perlombaan MTQ (Musabaqah tilawatil Quran) umur 12 sampai 15 tahun, kakak ikut yah!!”,
“Serius dek?”
“ Iya kak, kalau menang dapat lima ratus ribu,kak! Lumayan kan?”
“Iya dek, kakak ingin ikut”, jawab Ira senang karena uang nya sudah habis tinggal lima ribu,hanya cukup untuk membeli makan hari ini.

“Kapan dek?”
“Malam ini, kak! Nanti Amir yang antar kakak ke tempat lomba yah?”
“Ia dek, terimakasih”.
Malam pun menjelma. Humaira bersiap-siap untuk mengikuti lomba tersebut. Ia memakai pakaian seadanya. Ia mendapat giliran terakhir karena ia adalah peserta yang terakhir mendaftar.  Sekitar lima belas menit ia tampil, pengumuman juara pun segera di bacakan. Namun ia mendapat juara ketiga karena baju yang di pakainya sederhana sekali tak sepadan dengan pakaian muslim yang dikenakan peserta lainnya. Tapi kalau dari segi suara Humaira adalah yang nomor satu. Ia mendapat hadiah seratus lima puluh ribu dengan satu buah piala. Uang itu sangat membantu sekali.
            Bunda Sinar mendatangi Humaira lagi yang masih saja tidur beratap langit.
“Hari ini, pelajaran untukmu nak!, jangan pernah melihat ke atas tapi lihat lah kebawah. Ia buka lagi Alquran putihnya itu, dalam Q.S. Ibrahim/14:7 Allah mengatakan dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “ Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab sangat berat. Kemudian dalam ayat 34 Ia menegaskan kembali dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).Sebenarnya bunda Sinar lebih sering datang ke dalam mimpi-mimpi Humaira. Dan ketika ia terbangun di pagi hari, ia akan mencatat pesan-pesan bunda Sinar di buku hariannya.














Paradoks 13
Ayah

Terdengar shalawat putih yang ikhlas bersahaja, berkibar bendera kita langit biru dibelakangnya, dan perahu retak bagaimana cara mengayuhnya. Detikan merah yang  terus berputar di setiap jam tak dapat dihentikan serta merta begitu saja. Jika berjalan kebelakang tanda nya kita orang yang merugi. Jiwa raga cuma pada Tuhan diberi. Hidup berganti nyeri dan ngeri. Meminjam langit untuk menemani di kala malam menyambut dan meminjam angin lagi untuk membawa diri menari-nari di ketidaktahuan.
Berlalu satu bulan makan, minum,  beribadah , mencari dan mencari mengalur hanya untuk bersua dengan ayah tersayang tapi tak kunjung bertatap wajah. Satu bulan adalah waktu yang singkat untuk kuantitas Jakarta yang padat. Tergolek di kejamnya dunia jauh dari ibu memberi banyak nuansa bening pengalaman baru untuk Ira. Hari panas dan hujan, hari garang dan topan, hari kemarau dan badai,hari riang dan senang.
Hati itu ada empat macam:
1.      Hatinya bersih yang didalamnya ada lampu bersinar, itulah hati orang yang beriman.
2.      Hati yang hitam terbalik,itulah hati orang kafir.
3.      Hati yang terbungkus,yang erat dengan bungkusannya, itulah hati orang munafik.
4.      Hati yang dicampur aduk yang di dalamnya ada iman dan munafik.
Generasi muda yang diharapkan untuk memperbaiki segalanya ke arah yang lebih baik. Semua ada di tangan kita bersama. Pemuda yang berasaskan IMTAQ (iman dan taqwa) dan IPTEK (ilmu pengetahuan dan tekhnologi) untuk suatu perubahan Indonesia dan Islam. Acting By Heart. Lakukan semuanya dengan hati. Insyaallah, hasilnya akan baik.
Sudah satu bulan pula Humaira tinggal bersama Amir beserta anak jalanan lainnya di kolong jembatan. Lengkap sudah menumbuhkan rasa sehati diantara mereka. Berbagi ilmu dan kebahagiaan dengan mereka adalah suatu hal yang tak akan mungkin bisa dilupakan. Tetap berusaha bersedekah dan berbagi di ketidakmampuan. Menolong sesama yang kesusahan. Bersyukur dalam segala situasi dan kondisi. Berbuat kebajikan demi kebajikan.



Walaupun hanya sekedar menolong si nenek yang akan menyeberangi jalan sampai menyinggirkan duri dari jalan sekalipun begitu juga memunguti sampah-sampah yang masih bisa di daur ulang dan menghasilkan rupiah . Mendoakan sesama muslim. Dan intinya nikmat ikhlas yang mendatangkan beribu rahmat tersebut. Hari ini, Humaira berpamitan dengan mereka semua.
“Kak Ira pergi dulu yah, kapan-kapan kakak akan datang lagi kesini,kakak minta maaf kalau punya salah dan terimakasih untuk semua warna-warni nya,adek-adek kakak!!”
“ Kak? Kami sayang sama kakak.. Jangan pergi kak!”, anak-anak kecil itu mendekap Humaira. Airmata tak terbendung sudah meleleh.
Keputusan Humaira memang sudah bulat. Setelah berpamitan dengan anak-anak tidak lupa juga ia berpamitan dengan kakak muslimah, kak Mimi.
“ Semoga pertemuan kita memberikan keberkahan,Ira!”,kalimat terakhir yang bermakna dari kak Mimi.
“Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh”, Ira pergi meninggalkan mereka semua.

***

Humaira berjalan lagi menelusi jalan tol yang tak bertepi itu ditemani oleh Bunda Sinar yang melayang-layang bebas di atas nya.
“Bunda?”, rintihnya.
“Jangan menyerah, nak!”,
“ Ia bunda”.
“Diujung sana akan kau temui penjual kaligrafi, cobalah bertanya padanya, nak!”
“Apakah ia tahu tentang ayah, bunda?”
“Tanyakan saja!”,
Tanpa berpikir panjang gadis yang beranjak empat belas tahun itu berlari kencang tak menghiraukan orang-orang yang ditabraknya ataupun yang berlewatan di sekelilingnya.
“Ayahhhh!!!”, ia berteriak keras walaupun tak seorang pun yang memperhatikannya. Hanya bunda yang geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh gadis kecilnya itu.
“Pak? Bolehkah Ira bertanya?”
“ Ia nak?”
“ Bapak kenal dengan pak Habibi, beliau ayah saya, ayah yang sangat ku rindukan!”,sambil menyodorkan kertas foto satu-satunya yang ia miliki.
“Pak Habibi? Ia, saya kenal dia”.
“Pak bawa Ira ketempat ayah?”
“Ayahmu sedang sakit keras sudah hampir satu bulan ini, dia tak bisa ikut berjualan kaligrafi seperti saya”,mereka bercerita menelusuri jalan.
           Humaira masih ingat sekali dengan jalan itu. Jalan yang mereka lalui sekarang ini adalah jalan menuju mesjid yang berlapis cat hijau itu. Ternyata ayahnya tinggal disana, selain sebagai penjual kaligrafi juga sebagai marbot mesjid itu. Ayahnya sudah lama tak bekerja dengan pamannya berdagang di toko. Karena pamannya gulung tikar, ia sering main judi, taruhan disana sini dan mabuk-mabukan meminum khomar.35 Dan pamannya sekarang sudah menetap dibalik jeruji besi menatap hidup yang suram. Karena tahun lalu toko tersebut sempat naik daun tetapi hal tersebut malah membuat pamannya kufur nikmat dan sombong. Ia berfoya-foya dengan itu.
           Bunda membuka Alquran putih nya lagi Allah mengatakan maka kami kirimkan kepada mereka topan,belalang, kutu,katak dan darah (air minum berubah menjadi darah) sebagai bukti-bukti yang jelas,tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.36
           “Ayah terwabah penyakit tifus bercampur dengan malaria, mungkin sudah sangat parah!”
           “MasyaAllah, bagaimana keadaan ayah sekarang, paman?”
           “Keadaannya semakin hari semakin memburuk, ia masih terbaring lemah di kamar marbot mesjid itu”, paman itu menunjuk mesjid yang pernah Ira singgahi dulu.
           “ Ayah?”, Ira langsung menundukkan kepalanya di badan kurus ayah yang sudah dijalari penyakit.
           “Ayah, cepat sembuh yah supaya kita pulang ke kampung, ngumpul bersama umak dan Abdullah lagi!!”
           “Humaira,, anak ayah sudah besar yah.., cantik sekali kau nak!”, di elusnya kepala Ira dengan senyuman. Yang Ira tahu senyuman itu untuk menyembunyikan kesakitannya.
           “Ayah?”, Humaira menangis.
           “ Hu..ma..ira… Ahhhh…Ahhh!! Lailaha illallah, Muhammadar Rosulullah”, pak Habibi menghembuskan nafas terakhirnya. Begitu mudahnya ia mengucap lafal itu. Mengalir begitu saja. Tanpa diajari. 
           “Inna lillahi wa inna ilahi rojiun”, serentak kalimat itu keluar dari mulut Ira,paman kaligrafi dan ustazd yang sering mengisi kuliah di mesjid itu.
          

Wajah pak Habibi putih kelihatan sangat bersih, badannya kaku, tangannya dingin, matanya sudah terpejam. Namun bibirnya tersungging sebuah senyuman. Mungkin, ia tersebut saat melihat malaikal maut datang menghampirinya.
“Semoga ia khusnul khotimah”, ucap pak ustazd.
“Aamiin”, jawab Humaira dalam hati. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi saat itu.
Humaira berusaha mengikhlaskan kepergian ayah nya terlebih dahulu menemui Sang Pencipta, Allah azza wa jalla. Walaupun sebenarnya kesedihan tak dapat di sembunyikan. Tak bisa di sembunyikan sendiri.
Bunda Sinar hanya bisa menyaksikan dari kejauhan. Dan ikut berbela sungkawa akan musibah yang menimpa gadis kecil itu. Lagi dan lagi bunda membacakan sebuah ayat sebagai bentuk usaha menenangkan Humaira.
“ Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun” (sesungguhnya kami milik Allah dan pada-Nyalah kami kembali).37
“Kita selalu dituntut untuk tetap mempersiapkan diri menghadapi kematian, nak!”,
Sesungguhnya tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan yang namanya mati. Setelah kepergian ayah Habibi, Humaira tak tahu entah apa yang akan ia lakukan lagi di Jakarta. Tujuan utamanya merantau ke kota itu telah hilang untuk selama-lamanya. Berita meninggalnya ayah Humaira sampai hingga ke telinga pak Mahdi,bapak polisi bertubuh kekar dan tegap  yang dulu menolongnya.
Entah apa yang menggerakkan hati nya. Ia berhati emas. Ia memiliki keinginan untuk merawat dan menyekolahkan Humaira. Akhirnya, ia mengangkat Humaira menjadi anaknya. Isteri dan anak perempuan nya tutup mulut tentang rencana suaminya itu. Mungkin mereka juga beriba hati akan keadaan Humaira. “Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu kea rah timur dan ke barat,tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir,malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang yang bertaqwa.”

Sebelum Humaira pergi bersama keluarga pak Mahdi, paman penjual kaligrafi memberikan bingkisan berbentuk persegi panjang yang dibungkus dalam sebuah kotak yang di alasi dengan kertas kado bercorak batik nusantara dengan warna khas nya cokelat kehitam-hitaman.
“Ini ayahmu titipkan kepada paman, katanya bingkisan ini harus diberikan secara langsung kepada Humaira, anaknya! Ini amanah!”, kata paman itu.
“ Ia paman, ku terima amanah ayah ini, termakasih paman!”,jawab Ira menunduk.




























Paradoks 14
Bersyukur


Sepeninggalan ayahnya, Humaira tinggal di Jakarta bersama dengan keluarga pak Mahdi.Pak Mahdi sudah menganggap Ira sebagai anak kandungnya sendiri tanpa membeda-bedakannya dengan anak perempuannya itu. Ia mendaftarkan Ira ke sekolah menengah pertama yang sama dengan putrinya. Ia menjalin persahabatan dengan Nadyah dan mereka sudah seperti saudara kandung. Ternyata chemistry38 antara mereka dengan cepat terjalin. Tetapi setelah tamat smp, Nadyah memilih untuk melanjutkan ke sekolah menengah atas dan Humaira memilih untuk berpondok di pesantren karena ia ingin melanjutkan keinginannya untuk menjadi seorang hafidzah. Karena ia ingin mempersembahkan mahkota kemuliaan bagi kedua orang tuanya di hari pertanggung jawaban nanti. Tak ada kata terlambat dalam belajar untuknya. Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat.
Tiga tahun berganti begitu cepatnya, kini ia bukan lagi seorang pelajar tapi seorang mahasiswa. Di sepertiga malam ketiga, Humaira terbangun  dengan cepat mengambil air wudu’. Bermunajat kepada Allah. Bersujud di keheningan malam. “Bacalah Alquran dan menangislah. Apabila kamu tidak menangis maka usahakanlah seakan-akan menangis(karena ayat yang kau baca). Ira ingat akan umaknya, Abdullah , Mandailing Godang, tanah tempat pertama ia melihat terang. Lalu, ia mengirimkan do’a kepada kedua orangtua nya.
Bunda sinar ternyata masih ada bersama nya. Bunda melayang-layang di udara.
“Secepatnya,kamu akan bertemu dengan ibumu, nak!”,

***
Kicauan kebahagiaan terdengar begitu nyatanya. Umak Ira, mak Idah dan Abdullah yang ditinggal Ira dikampung mengakhiri luahan angin puting beliungnya. Sakit yang diidap umak lebur seketika. Syair-syair cinta semakin sering meluap , meledakkan diri ke permukaan langit maupun bumi. Manyebut asmaNya setiap waktu. Getah mahal harganya begitu juga dengan karet. Sama-sama memiliki nilai esensial tersendiri.Tetapi kebajikan mereka melampaui dari kata mahal sekali ataupun sangat mahal sekali.
Kecupak air menyanyi, mengalunkan nada gendang tamborin berbeda tergantung suasana hati yang memainkannya. Bermain musik dengan air sungguh menarik minat setiap hamba. Unik dan berfantasi. Mengelus imajinasi tinggi. Berpikir menggunakan logika yang sederhana namun istimewa dan luar biasa.

Hektar demi hektar tanah kuning, petak demi petak sawah, jengkal demi jengkal sampah, baris demi baris keong ikut berkumpul dibalai desa menyaksikan, beramai-ramai berdoa kepada mak Idah, Abdullah, Yusuf dan keluarga ustazd Habiburrahman akan insyaallah akan segera mengunjungi baitullah,Makkah Al Mukarramah. Dawai-dawai talbiyah terdengar semakin dekat.Keluarga ustazd Habiburrahman yang membiayai biaya umrah mereka.
“Semoga Allah membalas kebaikan-kebaikana mereka!”,pinta Umak Ira.
“Dan semoga rezeki keluarga bang Yusuf di tambahkan, Ya Allah!”, pinta jagoannya pula.
           Ikan-ikan yang bertasbih disungai-sungai,  belalang yang bersembunyi dibalik hijaunya rerumputan, semua makhluk Allah, malaikat, bumi , langit dan seisinya beserta ribuan malaikat ikut serta mengaamiinkan doa mereka.Sudah banyak sekali keluarga Yusuf membantu segala kekurangan yang dibutuhahkan Umak nya Ira misalnya ketika tak sebutir padi pun tak nampak ada di dandang penanak nasi mereka, ketika ia maupun Abdullah sakit, segala pengobatan nya keluarga Yusuf yang membayarnya.
           Beberapa hari kemudian dihitung dari hari ini. Tibalah mereka di Arab Saudi. Jutaan kaum muslimin dari berbagai belahan dunia berdatangan memenuhi panggilan Allah. Jika duduk terpaku menunggu giliran haji mungkin masih jauuuuhh sekali gilirannya,sepuluh tahun ke depan mungkin. Jadi dua keluarga ini memilih untuk umrah. Perbedaan umrah dengan haji hanyalah soal waktu dan niatnya.Umrah bisa dilakukan sewaktu-waktu sesuai keinginan baik itu setiap hari, setiap bulan dan pertahunnya. Sedangkan haji hanya dapat dilaksanakan pada beberapa waktu antara tanggal 8 hingga 12 Zulhijjah. Berbeda dengan haji, wukuf di Arafah tidak merupakan rukun umrah.
           Untaian talbiyah menggema mengiringi langkah mereka menjejak Tanah Suci Makkah. Berbagai atribut dan pakaian kebesaran yang di pakai sehari-hari di lepaskan. Diganti dengan pakain suci,ihram.
Ketika pakaian ihram dikenakan,didalam lubuk hati paling dalam tercetus pengakuan, “Sesungguhnya kulitku,dagingku dan seluruh jiwa ragaku seluruhnya akan kejauhkan dari hal-hal yang engkau haramkan”.Ihram membuat kita sadar, semua yang melekat dalam diri kita bukan milik kita yang sesungguhnya.
          



Dalam keaadaan berihram, dari tempat miqat masing-masing kaum muslimin bergerak memasuki masjidil Haram. Di awali dan di akhiri dari sisi Hajar Aswad mereka mengitari Ka’bah,thawaf sebanyak tujuh kali putaran. Mereka bagai diajak mengikuti perputaran waktu peredaran peristiwa namun tetap berdekatan dengan Allah. Faktanya, jika kita meletakkan kompas di dekat Ka’bah , ia takkan bergerak. Karena memang betul sekali pusat dunia adalah di Ka’bah.MasyaAllah. Hari demi hari sudah meninggalkan mereka. Hampir satu bulan.      
           “Alhamdulillahirabbilalamin”, ucapan syukur menguntai dari mulut dua keluarga tersebut.
Seluruh rangkaian rukun haji begitu juga sunnah nya sudah  tertunaikan dengan lancar tak ada halangan apapun. Abdullah , jagoan  yang selalu ada di samping mak Idah yang sudah berumur 19 tahun sudah banyak berubah. Dia sudah beranjak dari kata dewasa. Lalu bagaimana dengan Humaira Zafratunnisa? Anak sulungnya, putri kecil kesayangannya.
“ Bagaimana kabarmu, anakku?, dimanapun engkau berada mudah-mudahan Allah melindungimu, nak!, semoga kita cepat bisa bertemu!”, mohonnya kepada Ilahi ketika beberapa hari yang lalu berada di Jabal Rahmah.
Sebelum pulang ke Tanah Air, mereka menyempatkan diri untuk sholat arbain. Sholat arbain merupakan sunnah Nabi Muhammad SAW. Pelaksanaannya bukanlah termasuk rangkaian ibadah haji maupun umrah,baik sebagai rukun,wajin maupun sunnah. Yang dimaksudkan adalah pelaksaan sholat wajib 40 kali berturut-turut, di awal waktu dan tidak boleh terputus. Dan ibadah ini dilakukan di masjid Nabawi.
Mereka memasuki Madinah menjelang isya. Suara yang azan begitu merdu bak suara Daud as. Membuat setiap orang yang mendengarnya pasti tergugah lubuk hatinya. Hati yang bergetar ,berzikir atas nama Allah diberi kesempatan berkunjung ke mesjid yang Rosulullah sendiri ikut turun tangan dalam proses pembangunannya. Mesjid ini mempunyai nilai spiritual tertinggi kedua dikalangan umat islam sedunia. Mesjid yang dibangun pada 1 Hijriah dengan ukuran 2.475 m2  sekarang sudah mengalami perluasan menjadi 165.000 m2.
Mereka akan mabit disana selama 9 hari. Abdullah bersendar di tiang-tiang penopang mesjid yang dilapisi dengan emas. Sejuk. Nyaman. Berbeda dengan masjidil haram, lantai Nabawi di alasi karpet tebal dan bagus yang di dominasi warna merah sehingga jamaah tidak perlu lagi membawa sajadah. Tiang-tiang mesjid juga dilingkari dengan tempat penyimpanan sandal yang disusun apik dan lihatlah kaki Abdullah tak pernah berhenti. Ia sama sekali tak lelah,ia melihat ada gentong-gentong berisi air zamzam dilengkapi dengan gelas platik. Kepala nya mendongak ke atas tak jemu ia dengan teliti menghitung kubah mesjid.


“Bang Yusuf, semuanya ada 27 kubah”, teriaknya senang.
“Abdullah, kau tahu kubah tersebut dapat digeser-geser,lihatlah ia mulai bergeser”,bang Yusuf menunjuk ke arah atas.
“Untuk apa dilakukan itu bang?” tanya Abdullah penasaran.
“ Kubah itu dibuat untuk sirkulasi udara, sehingga udara segar dapat mengalir ke dalam mesjid”.
Seolah tak  ada kata puas melihat itu semua, Abdullah masih saja asyik untuk cuci mata mondar mandir kesana kemari. Sementara yang lainnya lebih memilih untuk beristirahat dan membaca Alquran. Yusuf  mengikut saja dibelakang Abdullah.
“Bang Yusuf, lihatlah perempuan itu.. dia sedang  menangis!”, telunjuk Abdullah mengarah ke gadis berkerudung panjang lembut berwarna putih yang bersunyi-sunyi di sudut mesjid.
“……”,Yusuf terdiam. Ia melihat Alquran orens yang pernah diberikannya kepada Humaira dulu ketika ia akan berangkat ke kota tergenggam di jari-jari lentik wanita itu.
“Ayo,kita kesana bang?”, ajak Abdullah.
“Assalamualaikum..”, mulai Yusuf sopan.
“Walaikumsalam..”, wanita itu mengusap airmatanya dan perlahan membalikkan badannya.
“Kak Ira…!!!”, teriak Abdullah.
“Humaira..” lirih Yusuf  kaget.
“Umakkk…. Umakkkk….!! Kak Humaira ada disini”
“Anakku..?”, tanpa berpikir panjang mak Idah langsung berlari dan tak sabar mendekap putri kesayangannya erat.
Yusuf mencoba berbicara dengan Humaira.
“Kamu masih menyimpan Alquran orens pemberianku,Ira?”
“Ia Yusuf, aku sangat suka melihatnya sehingga jika tak ada halangan, tak satu hari pun aku melewatkan untuk membacanya”
“Sungguh?”, Yusuf memastikan. Wajah nya menjalar warna kemerahan seketika.
“Mungkin kah Humaira juga memendam perasaan kepadaku,seperti yang kurasakan selama ini, entahlah!”,suara hatinya angkat suara.
“Ia, Yusuf”, jawab Ira memberikan senyuman ramah.



Kebagiaan hakiki membanjiri keluarga kecil itu. Tak di sangka doa umak nya Ira begitu cepatnya di kabulkan Allah. Mereka bertiga saling berpelukan dan melepas kerinduan. Anak mak Idah keduanya sudah besar, satu si cantik dan satu lagi si tampan, sholeh dan sholehah. Keluarga ustad Habiburrahman melihat mereka senang ditandai dengan senyum yang menghiasi wajah mereka.
Humaira pun menceritakan sebagian besar kisahnya sekitar sepuluh tahun seiring dengan perputaran roda tanpa orangtua disisi. Ira mendarat di Arab Saudi tepatnya di Kairo seminggu sebelum rombongan keluarganya tiba. Setelah sebulan mengurus segala keperluan S2 nya,Ira memilih untuk berkeliling disepanjang tempat gersang yang damai, berkunjung ke tempat-tempat bersejarah Islam. Setelah kemarin dari mesjid Quba yang jika melaksanakan sholat disana pahalanya sebanding dengan melaksanakan umrah, ia berpindah untuk beriktikaf di mesjid Nabawi hari ini. Sebenarnya di bandara beberapa waktu silam ,sehabis mengurus visa dan segala macamnya Yusuf mendengar kabar Humaira akan melanjutkan pendidikannya ke Kairo. Yusuf sudah berusaha bertemu dengan Ira tetapi Marwah mengatakan bahwa Ira sudah terbang beberapa menit setelah ia datang.
“Umak.. Ayah sudah meninggal 10 tahun yang lalu”
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun!, mengapa kamu tak memberitahu umak dan keluarga yang di Mandailing,nak?”,
“Ira mau hubungin keluarga pakai apa mak?  Kita tidak mempunyai handphone sama sekali. Tak ada nomor yang bisa di hubungi. Ira juga ingin pulang dulu tapi Ira sudah tak punya uang lagi,mak!”,
“Ia nak, umak mengerti..”
“ Ini bingkisan yang ayah berikan kepada kita, mak!”, Ira mengeluarkan bingkisan berbentuk persegi panjang dari tas ranselnya.
“Ira sengaja belum membukanya, Ira ingin kita membukanya bersama-sama,pasti ayah disana bahagia melihat kita akur seperti ini, mak!”
“ Ia nak, mari kita buka bersama”,
“ Ayo cepat buka mak”, Abdullah sudah tak sabar.
Robekan kertas bungkus kado bercorak batik cokelat bercampur hitam itu yang membungkus hadiah itu rapi selama sepuluh tahun. Dan ternyata isi bingkisan berbentuk persegi panjang itu adalah kaligrafi yang berukirkan kalimat hamdalah, “Alhamdulillahirabbilalamin  di bawahnya d ikuti dengan syahadatain. Seolah-olah pak Habibi mengetahui, keluarga kecilnya akan dipertemukan Allah ditempat yang agung. Dan hanya deretan kata syukur yang mengalir bersamanya.

            Bak kupu-kupu yang berputar-putar jikalau ia mendapatkan nectar dari tumbuhan berbunga, Bunda Sinar memunculkan eksperesi yang begitu sumringah, pipinya terangkat,matanya berubah menjadi sedikit sipit, ia tersenyum lebar melihat keluarga kecil Humaira dipersatukan lagi dalam satu ikatan menggapai pentas menuju ridho Allah Swt. Perlahan ia melayang sehingga di langit hanya tertinggal seberkas busur cahaya kebahagiaan.
           Di bagian pinggir ujung garis bingkai ukiran kaligrafi ayah, tersulam indah tulisan tali, yang jika dibaca akan membentuk sebuah kalimat indah yaitu Untuk isteriku tercinta,  Hamidah az Zahra dan dua belahan jiwaku Humaira Zafratunnisa dan Abdullah al Ghifari. Ayah sangat merindukan kalian semua, keluarga kecilku. Ukiran kaligrafi bertuliskan Alhamdulillah itu agar kita selalu ingat untuk bersyukur.







          















Silahkan tinggalkan komentar dan terimakasih sudah meninggalkan komentar.

NANDA SRI WAHYUNI PULUNGAN . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates