NOVEL ISLAMI - Kaligrafi Bertuliskan Alhamdulillah
Paradoks 1
Mimpi
Bumi Allah memancarkan aroma harum kasturi. Semerbak harumnya
merambat se antero penjuru labirin-labirin di dunia. Luar biasa. Lapisan
atmosfir membentuk lekukan yang tiada disangka-sangka, indah , mempesona turut
merangkai wajah perawakan bumi ini. Senyuman. Bak simpul kebahagiaan dari
pancaran sebuah ketakjuban alunan demi alunan setiap huruf Al-Quran yang keluar
dari setiap hati yang ikhlas membaca dan memahami kumpulan hijaiyah bermakna
mengubah peradaban islam. Syahdu. Deretan kata syukur senantiasa mengalir
begitu derasnya. Mengalir bersama bisikan kalimat “Subhanallah, alhamdulillah,
allahu akbar!!!!!!”.
Manusia adalah khalifah terbaik di atas bumi Allah ini. Pemimpin
untuk dirinya sendiri. Hati yang mengkordinir segala macam nafsu. Hati adalah
raja diantara anggota-anggota tubuh . Begitu juga hati adalah sarang mewabah
nya berbagai ragam penyakit yang paling menyakitkan. Penyakit dengki dengan bahasa
gaul anak muda zaman sekarang , penyakit SMS ( senang melihat orang susah,susah
melihat orang senang).
MasyaAllah. Penyakit sombong, ria , dan lainnya adalah sesuatu yang
mengerikan. Namun , jika hati kita bersih, nikmatnya itu tak terkalahkan sekalipun
di adu dengan Chrissh John, Sang Petinju rekor dunia itu. Taat adalah nikmat. Lukisan balutan-balutan
asa sudah mulai terlihat jelas mengambang di depan mata. Bak Khadijah bin
khuwalid, istri Rosulullah yang paling
Baginda cintai yang setia bersamanya dalam suka dan duka, seorang muslimah yang
patuh,cerdas dan tekun, Humaira menyebut dirinya “Sang Pemimpi”.
Humaira Zafratunnisa seorang anak asli kelahiran Tanah Bumi Gordang
Sambilan. Anak pertama dari 2 bersaudara. Terkadang ia di panggil Ira. Dia
sangat suka sekali membaca novel. Salah satunya novel-novel karya Andrea Hirata
dan juga Asma Nadia. Setiap dia punya uang lebih ia selalu saja menyisihkan
uangnya untuk membeli novel. Tak tau bermula dari mana ia menyukai novel dan sering
membaca nya yang jelasnya semenjak gurunya memberinya sebuah novel yang
berjudul “Surat Kecil untuk Tuhan”, itu
novel yang pertama ia miliki waktu smp dulu. Humaira sangat suka sekali membaca
kata demi kata yang terhimpun dalam lembaran-lembarannya. Keke adalah sosok
gadis remaja yang sangat tangguh berusaha melawan ribuan penyakit yang
menggerogoti sekujur tubuhnya. Setiap orang pasti kagum melihat ketulusan
hatinya begitu juga dengan Humaira.
Keke menjadi salah satu
motivatornya. “Keke menderita penyakit
kanker yang divonis dokter hidupnya
tidak akan lama lagi karena penyakitnya kian merambat di sel-sel tubuhnya masih
semangat menjalani hidup dengan berbagai kemungkinan-kemungkinannya, kenapa aku
tidak bisa seperti nya, mencontoh semangat hidupnya, aku sudah diberi
kesempurnaan fisik masih saja bermalas-malasan, apa aku tak malu akan itu??,
Aku malu kepada diriku sendiri,harusnya kamu bersyukur Humaira, bersyukurr…”,
jeritnya penuh renungan dalam hati.
Waktu laksana kuda liar jika sang majikan mencambuk nya , ia berlari
terengah –engah maju melewati padang pasir yang panas dan gersang. Kuda adalah
hewan yang mulia , itu kata burung bayan. Ekornya yang panjang yang akan bergerak-gerak
sejalan dengan nada langkah kakinya, mata penglihatannya yang tajam, kaki yang
memiliki tapal yang kokoh ia pergunakan dengan sangat-sangat baik sekali. Ia
sudah banyak membantu Rosulullah, para sahabat dan syuhada yang berjihad di jalan
Allah maupun para penentang Islam dan kaum kafir Quraish dulu ketika masa
peperangan sedang berkobar di daerah Mekkah.
Kuda adalah saksi bisu berlumur nya jutaan deras nya darah yang
tumpah ruah di padang pasir yang gersang. Jarang dijumpai sebatang pohon yang
ditetesi air embun diatas daunnya, hanya pohon kurma yang menjadi pelanggan
sejati tempat itu. Kisah yang tak pernah
terlupakan sepanjang abad sejarah islam dan kuda ada bersama tirani kisah
beribu tahun silam tersebut.
Hidup terus berlari kedepan , cepat ataupun lambat tetap saja ia
tidak akan pernah mundur ke belakang. Supaya bisa berguna, harus belajar untuk
mengendalikannya. Jika bisa mengendalikan waktu , kemungkinan besar stress akan
hilang. Memang bakalan banyak tantangan, tapi harus yakin bisa untuk
melakukannya.
Novel “Sang Pemimpi” adalah salah satu novel favorit Humaira. Mimpi
serupa alur yang terus menghantuinya, merangkai detik per detik waktu dalam
hidupnya. Ia sangat percaya sekali akan kekuatan mimpi. Menurutnya, sukses
bukan bayangan tapi pilihan yang bisa diraih siapa pun dan kapan pun. Logika
yang bermain main bersama angan dan imajinasi,
pena yang tak jemu selalu menulis mimpi
hanya akan tertuang dengan adanya ikhtiar dan doa.
Mimpi tak ubahnya udara, udara akan di hirup oleh setiap makhlup
hidup untuk bisa melakukan sebuah siklus pernafasan. Mimpi harus di tanam dan
di realisasikan mulai dari sekarang. Saat kapas putih berjalan beriringan,
mimpi berlari dan berkejar-kejaran dengan semangat yang menggebu-gebu.
Paradoks 2
Senandung sopran
“Hey, Humaira ... bangun!!!”
“Bangun, bangun , bangun......!!!” ucap Zulaikha letih.
“Sudah subuh , sholat dulu sana..., ini anak gadis susah sekali
dibangunin nya!”
“Iya , iya .. aku bangun” .
“ Makasi ya sudah
membangunkan aku, maaf aku bangun nya susah ya? Hehehehehe..”, tawanya kecil.
Zulaikha adalah sahabat baru Humaira. Mereka satu tempat kos di
salah satu area rumah susun di Jakarta. Zulaikha dan Humaira sekolah di Universitas yang
berbeda. Humaira sekolah di Universitas Negeri berbasis islam. Sementara Zulaikha
adalah mahasiswa matematika di salah satu Universitas Swasta Jakarta. Mereka
bertemu di pusat perbelanjaan , Tanah Abang. Pada waktu itu, dompet Zulaika di
copet, kebetulan Humaira ada disana . Humaira lihai dalam bermain karate. Ia
pernah belajar kepada kakek yang baik hati yang pernah di temuinya dulu di
jalan sewaktu ia asyik memunguti sampah bersama anak jalanan untuk modal
hidupnya di Ibukota .
Karena kebaikan Humaira, Zulaika mengajak Humaira untuk tinggal
bersamanya di rumah kos nya. Rumah susun bertingkat 10 yang sudah tidak jarang
lagi di temukan di pinggiran kota Jakarta. Pada waktu itu Humaira kebingungan
dan tak tau sepasang kakinya dilangkahkan kemana. Hidup di dunia menanggung
duka, habis duka suka pun tiba. “Perumpamaan (nafkah yang di keluarkan oleh)
orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan
sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir,pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah
melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha-luas
(karunia-Nya)lagi maha mengetahui”.1
Zulaikha pemeluk agama Kristen. Namun Ia mempunyai jiwa toleransi
yang tinggi. Jika Humaira terlambat bangun untuk sholat atau lupa waktu solat
karena aktivitas perkuliahan yang begitu padat, Zulaikha yang selalu
mengingatkan Humaira untuk sholat.
Zulaikha sering Humaira panggil Ika biar agak gaul sedikit
katanya.Walaupun tak beragama islam, Ika sedikit banyak tahu tentang Islam.
Memang seharusnya antar umat beragama begitu , saling menghargai
segala perbedaan-perbedaan yang ada.
Ketika dulu waktu zaman kafir Quraish karena kehabisan cara untuk bertipu daya
dengan Rosulullah Saw. mereka memberikan
beberapa tawaran kepadanya.
“Wahai Muhammad!, kami beri
kepadamu kekayaan yang banyak meliputi semua kekayaan yang kami miliki dan akan
kami kawinkan engkau dengan yang engkau kehendaki, tapi kau harus mau menyembah
tuhan kami selama setahun lamanya!”,
“Aku akan menunggu wahyu dari Tuhanku”, Rosulullah menjawab dengan
sangat penuh keyakinan, tak ada sedikit pun keinginannya untuk musyrik 2.
Katakanlah Muhammad: "Hai
orang-orang kafir!”.Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, kamu bukan
penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa
yang kamu sembah dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku
sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”.3 Toleransi bukan saja terhadap sesama manusia,
tetapi juga terhadap alam semesta, binatang, dan lingkungan hidup.
“Selesai sholat subuh
nanti, bantuin aku menyusun baju ke koper ya, Ika”, kata Humaira dengan mata
berkaca-kaca.
“ Cieeeeee.........
yang mau siap-siap ke Kairo!!” rayu Ika penuh canda.
“Issh,, apaan sih..
kamu mau atau tidak?”
“Iya, iya... apa sih
yang enggak buat sahabatku yang manis
inii...” Ika merangkul Humaira dengan senang
sambil mencubit pipi kanan Humaira yang merah menyala.
Matahari mulai bangun dari tidurnya dan sudah tak sabar menerangi
alam semesta. Tetasan embun sudah menguap menjadi butiran air ,di atas
pori- pori daun ia berhenti. Embusan angin meraung-raung gembira mendengar
kabar keberangkatan Humaira. Hari itu
adalah jadwal keberangkatan Humaira ke Kairo. Ia mendapat beasiswa S2 di
Universitas Al Azhar. Humaira memang sangat terkenal rajin , ulet dan tekun
oleh teman-temannya. Pembawaannya yang santai namun terarah mempermudah ia untuk
bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya.
Burung-burung bersenandung sopran disekeliling Humaira seolah ikut
merasakan apa yang dia rasakan.
“ Terimakasih ya Allah”, gumamnya dalam hati.
Paradoks 3
Berkelana
Jantung yang berayun-ayun gembira , tak dapat terlukis kata.
Kupu-kupu berwarna – warni selang seling bermain berputar di sekeliling Humaira. Hati
yang senantiasa tak kunjung lelah bertasbih. Jiwa yang senantiasa bersyukur.
Seumpama kereta api yang sudah berjalan dari stasiun pertama tidak bisa
berhenti sebelum sampai di stasiun kedua. Begitu juga dengan Humaira , wanita
berkulit sawo matang dan hidung pesek dan agak sedikit cerewet yang begitu identik dengan ciri orang Mandailing
karena ia sangat tidak suka ketidak disiplinan. Sudah menancapkan tajam dalam
dirinya tak akan menyerah sebelum sampai kepada tujuan, mengejar matahari.
Disiplin menurutnya adalah ketika ia konsisten terhadap apa yang ia inginkan.
Dan tidak berhenti sebelum keinginan yang sudah tergenggam erat di kepalan
tangannya terwujud terpampang di depan matanya.
Deretan ubin-ubin berbentuk persegi putih yang tampak berkilau dan
bersih. Ruangan yang luas terlihat jejeran bangku hitam yang berdampingan
dengan eloknya. Para pegawai piawai cleaning
service , pria maupun wanita sudah
siap mengemban tugasnya masing-masing, ada yang sudah menggenggam sapu , kain
pel maupun pembersih kaca, beragam sekali macam pekerjaannya . Mereka begitu
bersemangat dalam bekerja. Ornamen – ornamen yang terletak disetiap sudut
ruangan tertata dalam tatanannya. Dengan kehangatan pendingin ruangan yang
membuat suasana menjadi asri.
Humaira datang terlalu cepat. Walaupun para pengunjung yang hendak bepergian
ataupun juga yang hanya sekedar jalan-jalan dan mengantarkan kerabat sudah
mulai memadati bandara itu. Kaki berjalan langkah demi langkah menyusuri tiap
jengkal ruangan, koper-koper yang Humaira bawa sudah penuh dengan pengharapan
yang hendak ia isi dengan ilmu , baik ilmu dunia maupun akhirat . “Jika kamu
ingin bahagia di dunia maka hendaklah dengan ilmu, jika kamu ingin bahagia di
akhirat , hendak lah dengan ilmu dan jika kamu ingin bahagia di dunia dan
akhirat hendaklah juga dengan ilmu”.4
“Ya Allah, aku berkelana di negeri asing , haribaan jiwaku ,
untukmu, Indonesiaku..” bisiknya dengan hati sambil melakukan proses inspirasi
dan dilanjutkan dengan ekspirasi. “Bismillah
tawakkaltu alallah, lahawla wala quata illa billahil aliyyil adzim”.5
Balutan jilbab panjang yang menutupi seluruh tubuh Humaira itu di
jadikannya menjadi identitas mutlak . Sebagaimana pesan umak 6nya.Yang
dapat membedakannya dengan orang lain . Jilbab panjang berwarna hijau teduh
bermotif bunga polos yang dipakainya itu adalah hadiah kado dari umaknya di
hari ulang tahun nya waktu kelas V esde 7 dulu. Dan sampai sekarang
masih saja ia simpan dan ia bawa kemanapun ia pergi.
“Umak e malungun doma au ji
umak dah”8, peliknya
dalam hati dengan menggunakan bahasa daerahnya, Bahasa Mandailing. Hidup di
perantauan memang seperti itu penuh dengan cercaan kerinduan semu.
***
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, ukhti...”, seorang
wanita yang memakai kerudung lembut motif garis-garis hitam itu memulai
percakapan.
“Walaikum salam warahmatullah , ukhti..”, jawab Humaira agak sedikit
kaget karena ia tidak mengenal sama sekali wanita bertubuh tinggi, kulitnya
putih alami,hidung bak perosotan anak teka9 seperti bule.
“What is your name?”
“My name is Humaira, Humaira
Zafratunnisa.. and you?”
“ The good name,ukhti.. my name is Sahara
Jamilah.. J”
“Dari mana kamu berasal?” ucap Humaira
dengan santai.
“Saya dari
Palestina, Humaira!”balas Sahara. Ternyata Sahara bisa berbahasa indonesia.
“Jadi kamu datang ke Indonesia untuk apa?”
“Ibuku sakit., dan Aku
tidak mempunyai uang untuk membeli obat untuk Ibu”
“Aku tidak tega membiarkannya di rumah, tiada memiliki teman di sisinya
untuk memotivasinya melawan ribuan
penyakit yang semakin menggerogoti sel- sel
tubuhnya yang mulai mengalami penuaan demi penuaan dan renta. Umurnya kini sudah mencapai 80 tahun. Aku sangat menyayangi Ibuku, melebihi
segalanya dalam hidupku , dia matahariku ”, lanjut Sahara menjawab pertanyaan Humaira
dengan air mata yang berlinang-linang.
“Jangan menangis, sahara.., ia pasti akan baik-baik saja.., pergilah
sudah siang..” jawab Humaira berusaha menberikan solusi kepadanya.
Pertemuannya dengan sahara semakin mengingatkan Humaira dengan sosok
seorang Ibu. Umak? Apa kabarmu disana?
Kalau Humaira ikut ujian lalu
ditanya tentang pahlawan,
Namamu Ibu, yang kan ku
sebut paling dahulu,
Karena kau adalah bidadari
yang mengajariku menulis langit biru dengan sajak mimpiku.
Nadir qalbu sunyi. Elegi bermuara dalam tetesan yang membanjiri pipi
Humaira, wanita 24 tahun itu duduk menyendiri di bangku belakang diantara halu
balang ribuan manusia yang memenuhi dimensi ruang bandara. Melintas sejenak di
pikiran Humaira lagi tentang gadis palestina tadi, Sahara.
“Bagaimana keadaan masyarakat muslim di Palestina sekarang?”,pertanyaan
itu berkalut dalam hati kecil Ira.
“DOORRRRR..... DOORRRRR.... DORRRR ....!!!!”.
Khayal Humaira mulai berkelana
. Peperangan masih bungkam di setiap sudut Gaza , Palestina . Ribuan rakyat
Palestina di boikot oleh Israel , nyawa melayang di telan perantara udara yang
bergerak lurus dan bebas dengan peluru-peluru hitam nurjana, begitu cepat
menembus diberbagai jaringan tubuh mereka. Terlayang kabar di angin selayang
berita tabahmu Baitulmaqdis, kami disini rakyat Indonesia cemas dan bimbang ,
hati dalam kembang kempis. Tampak dengan nyata bayangan nasibmu , Palestina.
Kami memandang hiba dan sayang. Kami merasakan apa yang kalian rasakan. Kita
sahabat lebih dari ikatan satu agama.
Dan masih terpintas jelas sekali ketika Humaira menonton televisi
yang mini yang memiliki banyak penggemar, layar nya hitam putih,jika ia di
mulai menyala, warga pasti berhamburan mendekatinya. Di rumah mereka hanya
memiliki tv semacam itu, itupun dibeli di toko barang-barang bekas waktu
umurnya 8 tahun. Ia beserta Abdullah, adiknya,melompat-lompat girang ketika
ayah nya turun dari becak dan mengangkat tv tersebut. Selama ini mereka hanya
menumpang ke rumah tetangga jika sewaktu-waktu ingin menonton kartun kesukaan
mereka, Upin-Ipin. Ketika beberapa bulan lalu tepatnya tanggal 31 juli ia merayakan
hari ulang tahunnya dengan Ika walaupun hanya dengan memasak beberapa kilogram
mie kuning dan membagikannya kepada anak-anak yatim di sekitar susun.
Humaira menatap tajam berita yang disiarkan tersebut, Ibunda dari bayi
Ali Dawabsheh yang baru menginjak 18 bulan tewas terpanggang dalam serangan
pembakaran di Tepi Barat akhirnya meninggal dunia. Riham Dawabsheh demikian
Ibundanya disebut meninggal dunia Ahad tertanggal
6 September malam di sebuah rumah sakit ‘Israel’ akibat menderita luka bakar
tingkat tiga karena sekitar 80 persen tubuhnya terbakar.
Ribuan warga
Palestina menghadiri pemakaman Riham. Ia dimakamkan di desa Duma, berdampingan
dengan anak dan suaminya yang meninggal dunia bulan lalu. Riham meninggal dunia
hanya beberapa jam sebelum hari kelahirannya, 6 September. Sementara suaminya,
Saat Dawabsheh meninggal pada 8 Agustus, di hari perayaan ulang tahun pernikahan
kedua mereka.
“Inna lillahi wa
inna ilaihi rajiun”10.
Di Palestina anak- anak
kecil menangis tiada hentinya , meratapi nasib yang tiada kunjung berhenti.
Tapi berbahagialah Palestina, kemenangan sejati akan menjelma , bersabarlah..
Kami disini senantiasa mendoakanmu. Humaira adalah seorang yang sangat peduli
dengan segala yang berhubungan dengan agama nya. Islam adalah agama yang paling
mulia di sisi-Nya. Berkelana dengan berorientasikan islam.
Paradoks 4
Takjub
“Di mohon perhatiannya! Untuk semua penumpang Saudi Arabian Airline
maskapai penerbangan Arab Saudi. Dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara King
Abdul Azi di Jeddah. Pesawat akan berangkat pukul 14.00 WIB”, terdengar dengan jelas suara dari mikropon
kecil di meja resepsionis.
Dilihatnya jam tangan biru tua berbentuk bulat yang melingkar di
tangan kiri. Jam tangan pertama yang dimilikinya dengan uang tabungannya
sendiri ketika dulu waktu masih smp, sudah lama sekali.
12.30 WIB.
Waktu sholat zuhur sudah masuk. Humaira bergegas ke mesjid yang tak jauh
dari ruang tunggu. Humaira merebahkan tubuh nya disalah satu jejeran shaf-shaf
barisan sholat berjamaah.
“Ya Allah...
Dikala ku senang ,
Dikala ku sedih ,
Di saat nestapa maupun gembira menghampiri..
Ku mohon padamu, Rabb..
Selalu ada bersama ku..
Di atas sajadah berjahitkan mesjid yang mulia
Di atas kertas putih bergaris ini,
Penaku melambai-lambai,,
Memanggil nama-Mu yang menari bersama doaku
Ajari aku mencintai Mu ..
Ajari aku untuk selalu mengingatmu dimana pun hatiku..
InsyaAllah aku akan menjelajah, mengejar ilmu,
Ridho-Mu ku damba mengalir bersama derap langkahku
Langkah ku menuju tanah haram ,,” Humaira
menulis beberapa kalimat di buku hariannya.
Setelah selesai sholat zuhur, Humaira keluar dan menjauh pergi meninggalkan
mesjid.Lega rasanya.. Ingin berkawan akrab denganNya sepanjang desisan nafas
yang berhembus. Waktu terus berlalu, ketika Humaira berjalan menuju lobby11 keberangkatan, Humaira
bertemu dengan teman lamanya. Humaira sudah lama sekali tidak bertemu dengan
Marwah teman sebangku nya dulu waktu smp di Jakarta. Giginya kecil-kecil berbaris rapi , ia memiliki
lesung pipi. Jika ia tersenyum laki-laki akan terpesona , rambutnya yang
terurai setiap datang ke sekolah menghumbar nafsu kaum adam. Alhamdulillah, Humaira
sudah istiqomah menutup auratnya sejak ia kecil.
Namun hari ini Marwah terlihat begitu berbeda, rambut hitam nya yang
wangi sudah tertutup oleh balutan jilbab panjang . Ia cantik sekali hari itu
dengan jilbab bergambar bunga mewah dengan hiasan bross nya. Dia semakin anggun
. Subhanallah!! Perubahan yang drastis.
“ Marwah? Hal apa yang membuat mu untuk mengenakan jilbab
sekarang?”, tanya Humaira penuh antusias.
“Begini Humaira,..” Marwah mulai bercerita.
Setelah tamat smp dulu , ayahku mendapat tawaran kerja di Jakarta
untuk bekerja di sebuah toko yang sedang membuka lowongan pekerjaan , gajinya
sangat lumayan di bandingkan gaji ayahku yang sekarang.Aku pun tidak tau jelasnya.Ibu
juga sibuk dengan urusan nya sendiri, dengan belanja barang mahal bersama teman
arisannya. Ibu juga ingin ikut dengan ayah aku tidak terlalu mementingkan
tentang itu. Kamu tau sendirikan? Aku jarang sekali di perhatikan ayah,ibuku,
aku hidup dengan diriku sendiri, dan mereka juga hidup dengan urusannya
masing-masing. Aku hidup dibawah asuhan pembantu. Sebenarnya, walaupun aku
tidak pernah bercerita bahwa aku sangat kesepian, karena setiap pulang sekolah
rumah selalu saja sepi. Seperti rumah tak berpenghuni. Di rumah hanya ada aku
dan bibi Halimah.
Kalau boleh memohon , aku selalu memohon kepada Allah supaya bisa
berkumpul , duduk bersama di ruang makan. Menurutku , apa gunanya kekayaan yang berlimpah ruah, itu hanya
kesenangan semata. Tak ada artinya di mata Allah SWT. Seharusnya setiap orang
tua itu bisa mengatur dan membagi waktu bekerja dan berkumpul bersama dengan
keluarga.
Awalnya aku juga di minta untuk ikut kesana. Tapi aku tidak mau, aku
lebih memilih untuk hidup ber-asrama saja di sebuah sma negeri di Jakarta.
Walaupun sekolah negeri tapi aku banyak sekali mendapat pengalaman baru dan
pelajaran yang mengubah hidupku. Hijrahku ini , insyaAllah karena Allah Swt”,
Marwah berhenti menghela nafas, Humaira hanya diam dan mendengar cerita Marwah.
“ Terus, terus... gimana lagi?” potong Humaira.
“Sebagai seorang muslimah kita sudah di wajibkan untuk menutup
aurat, sebagaimana yang di firman kan Allah dalam Q.S: Al-Ahzab/33,59 : Wahai Nabi! Katakanlah kepada isteri-isteri
mu, anak-anak perempuanmu da
isteri-isteri orang mukmin,hendaklah mereka menutup kan jilbabnya ke
seluruh tubuh mereka .Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali
sehingga mereka tidak di ganggu. Dan Allah Swt. Maha Pengasih lagi Maha
Penyanyang”,Marwah membacakan salah satu ayat Alquran.
“Subhanalllah....,Marwah!” kata Humaira senang.
“Semoga kau tetap istiqomah yah,..”
“Aamiin..”
Marwah mengingatkanku akan
sosok Ririn dan bu Zainab.
“Eh, kamu mau kemana ,Humaira ?”
“Alhamdulillah aku dapat beasiswa S2 ke Kairo, kamu sendiri mau
kemana?”
“Aku hanya mengantar adikku, Muazd, dia mau mengikuti lomba di
Yogyakarta”.
“Ooohh... ya sudah, aku pergi yah, mohon doanya”.
“Oke , hati-hati di jalan, sukses belajarnya...”
“Assalamualaikum Humaira,.”
“Walaikum salam, Marwah..”,Humaira pergi meninggalkan Marwah.
***
Kaki langit menopang beban berat bumi ini, bintang merangkai setiap
malam untuk terus berganti menjadi siang, seiring dengan berjalannya waktu,
perubahan bisa terjadi kepada siapa pun dan kapan pun itu. Peluangnya itu satu
bukan nol.
“Inna mal aqmalu bin niat, wa
inna ma li kullim ri im manawa”, semua amal tergantung pada niat, dan
seseorang akan mendapatkan hasil dari sesuatu yang di niatkannya. Seharusnya
setiap pelajar dalam proses menuntut ilmu memiliki niat dan tujuan untuk
melaksanakan perintah Allah Swt. dan Rosulullah Saw, memerangi kebodohan agar
tidak dibodohi orang lain, mempersiapkan masa depan yang lebih cerah dan
terarah dan membekali kehidupan akhirat agar bisa selamat dan khusnul khotimah.
Bayangan setiap manusia hampir tinggal setengah, mentari juga mulai
berjalan perlahan. Ini adalah waktu keberangkatan Humaira, sudah jam 14.00. Di
tengah lapangan bandara yang luas sudah berjejer barisan pesawat yang sudah
siap terbang untuk lepas landas.
Pilot yang berseragam putih dengan pin yang melekat dengan ribuan
perjuangan dan tergantung padanya akan keselamatan ribuan jiwa. Langkah nya
perlahan menaiki tangga. Mata nya menyapu
dengan cepat seluruh kursi yang tertata sedemikian rupanya. Ia disambut oleh
pramugari yang menegurnya sopan dan ramah sekali. Pramugara yang tampan ,
rambut nya bekas baru saja disisir dengan minyak rambut yang mungkin mahal ,
dia harum sekali. Mereka semua melayani para penumpang dengan senyuman simpul ,
sangat bersahabat. Humaira sangat suka melihat mereka.
Bola matanya mulai berkaca-kaca , tangan pun sudah mengalami
perubahan suhu. Khayalnya pun berkata , “apakah ini mimpi ya Allah?” ,dada yang
agak sesak dan airmata pun sudah terlanjur menenggelamkan nya dalam sebuah
sujud syukur kepadaNya. Dulu waktu esde,
masih terlintas dengan jelas setiap kali ada pesawat lewat di angkasa, suara
gemuruhnya pasti mengundang semangat para pelajar yang sedang belajar dikelas
berhamburan keluar kelas menuju ke lapangan
bahkan bu guru yang sedang mengajar pun sudah tak di pedulikan lagi.
Jeritan histeris pun mengiringi suasana itu,,
“Heii,heii,heiii... ada
pesawat, ada pesawatttt!!”, seluruh wajah pelajar pasti mendongak ke atas dan
setiap pasang mata mengikuti lintasan yang dilalui pesawat itu.
Humaira menelusuri tatanan di
pesawat itu dan melihat nomor-nomor yang sudah tertempel di masing-masing
kursi. Kursi 31 adalah kursi Humaira. Disamping nya sudah duduk terlebih dahulu
seorang pria ganteng , bermata sipit, rambutnya ikal yang dipoles dengan warna
merah ke kuning-kuningan dan kulit nya putih agak kemerah-merahan. Sepertinya
dia orang China atau Korea. Dan kelihatannya ia orang yang baik. Humaira pun
mengambil posisi dan mendengarkan ketentuan-ketentuan sebelum penerbangan.
***
“Marwah ? ?” Yusuf dengan tiba-tiba menghentikan langkah Marwah..
“Eh, Yusuf.. kenapa? Ngapain
di bandara ?” , balas Marwah kaget.
“Kata teman-teman , Humaira disini yah ? aku ingin bertemu dengannya”,
“Yusuf , Humaira sudah berangkat baru aja sekitar 20 menit yang
lalu, kamu terlambat kawan”,
“Yasudahlah yusuf mungkin belum waktunya kamu bisa ketemu sama dia.
Ayo kita pulang?”
“Ia... mari”, dengan sedikit kesal langkah yusuf berjalan dengan
layu seperti tumbuhan satu bulan tak pernah diberi minum.
Yusuf adalah pria yang alim. Dia anak semata wayang ustazd
Habiburrahman, ustazd pemilik Pesantren Mustafawiyah, Purba baru. Dia seorang
hafizd , ia sudah hapal 30 juz. Ia sudah mulai menghapal sejak sd dan ia
mantapkan setelah tamat sd. Semua keluarga nya adalah penghafal Al-Qur’an.
Mereka adalah keluarga yang sangat di hormati di sana. Pesantren
Mustafawiyah lebih dikenal dengan Pesantren Purba. Dia sudah memendam
rasa kepada Humaira sejak mereka sd dulu. Mereka satu kampung dan sudah lama
saling mengenal dan sering bermain dan juga belajar bersama.
***
Bersujud kepada Allah, bersyukur
sepanjang waktu...
Setiap nafasmu, seluruh
hidupmu , semoga diberkahi Allah....
Alhamdulillah wa
syukurillah,, bersyukur kepada Allah...
Dentingan melodi lagu, buah
karya dari Opick seorang musisi yang terkenal dengan lagu religi sekaligus
mendapat gelar ustazd di Indonesia itu membuat hati Humaira sangat tenang.
Tiada di sangka nya gadis kampung sepertinya bisa duduk di kelas ekonomi pesawat
Saudi Arabia Airline. Duduk diantara beragam manusia ada dari luar negeri maupun dalam negeri. Ada
si kulit hitam dengan gigi putih susu nya yang berkilau , “beta punya nama si hitam,beta
dari papua”12 ,begitu katanya waktu Humaira menanyakan
namanya. Ada pula perempuan lembut wong
jowo13, nama saya
Juminten atuh,mbak! Ada juga yang dari jepang , begini pula katanya “watashiwa lee min hoo”14, dan tak kalah masalah
cerewet nya “halak batak do au” 15 ,katanya sumringah. Banyak sekali ragam bahasa di
dunia terutama di Indonesia.
Tapi Indonesia dengan berbagai macamya dan variasinya semua terpadu
dalam satu ikatan pasti “Bhinneka Tunggal Ika”, berbeda-beda tapi tetap satu
yang terangkai indah di bawah genggaman cakar kuat sang Garuda Pancasila. Dan
juga terproklamir gagah di dalam azas-azas Sumpah Pemuda ;
Kami putra dan putri
Indonesia , bertanah air yang satu, Tanah air Indonesia
Kami putra dan putri
Indonesia , berbangsa yang satu , bangsa Indonesia
Kami putra dan putri
Indonesia, menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia
Dan sudah menjadi keharusan
bagi para pemuda dan pemudi Indonesia bangga dengan segala kelebihan, kalau di teliti dari sebelum dan sesudah
kemerdekaan Republik Indonesia sudah banyak sekali pelajaran yang dapat kita
ambil dan di jadikan sebagai pendorong dan pemacu kita untuk selalu
meningkatkan potensi-potensi diri sehingga bisa berprestasi dalam segala
bidang.
Diatas ketinggian 3000 kaki ,wilayah
kekuasaan Indonesia terlihat Mahakarya yang luar biasa dari Sang Khaliq, Ia mengatur
semua dengan menawan ,tak jenuh bola mata Humaira menerawang ke luar jendela
pesawat. Tak perlu dipikirkan bagaimana caraNya dalam menciptakan semesta yang
di isi dengan ribuan, jutaan, hampir lebih triliyyun-an khalifah yang bernama manusia. Belum lagi
dengan berbagai mozaik-mozaik jenis hewan dan tumbuhan di dunia. Mulai dari
benda-benda langit, galaksi , antariksa , planet-planet, gemintang yang
berkerlip , bulan , matahari dan lain sebagainya yang tak terhitung dengan
jari.
Lidah pun kelu tak sanggup
mengatakan lagi sebegitu banyaknya nikmat yang harus di syukuri.Maka nikmat
tuhan manakah yang masih kamu dustakan? Begitu kata Allah dalam Al-Quran. Takjub, hanya itu yang menjelma . Subhanallah..!
Paradoks 5
Indeks Hati
Pohon-pohon berjejer hijau , gunung-gunung membentuk bulatan yang
mengelilingi daratan dan lautan. Hutan Indonesia adalah hutan tropis. Tetapi di
satu belahan bumi Indonesia Humaira melihat kabut hitam mengepul
bahagia.Sepertinya ia menertawakan manusia-manusia serakah yang gemar sekali
memotong-motong perut pohon tak berdosa untuk tujuan yang tidak baik. Pohon
–pohon menangis , mereka kesakitan. Kadang juga mereka meminta di iba karena dilahap si cakar merah yang ganas. Kini insan
hanya bisa menjerit. Kristal es marah dan membanjiri dan rubi jahat berpijar di
bumi.
Terlihat dari ketinggian ,rumah -rumah bagaikan kubus yang bentuknya
kecil-kecil. Ada manusia yang hidup dengan segala kemewahan, harta yang
berlimpah ruah dan tak sedikit yang tak bersyukur. Ada pula manusia yang hidup
dengan kemelaratan nya. Untuk mendapat sebutir nasi harus banting tulang
bekerja keras. Apakah hidup ini adil? Ya, hidup ini adil, mungkin manusia saja
yang terlalu bebal. Allah adalah hakim
yang seadil-adilnya16.
Memori Humaira melayang-melayang di benaknya, gambar langit di atas adegan foto
seluruh negeri ini , retak-retak nampak , akan tertelungkup berserak-serak.
Menyelimuti kisah seorang gadis kecil yang bernama Humaira.
Gegap gempita suara riang mengerang, dahsyat bahasa suara bergurau
bersama angin. Hampir setiap hari tak pernah terlihat ada raut kesedihan yang
poles diwajah gadis kecil itu. Ia selalu saja menikmati tiap detik waktu yang
Allah berikan kepadaNya. Ia sama saja dengan teman-teman sebaya nya yang lain
masih penuh dengan keceriaan hanya bermain yang mereka ketahui. Tetapi ada
sesuatu yang berbeda dari diri Humaira , walaupun ia masih kecil tapi tak pernah mengembara di
hatinya untuk merepotkan kedua orang tua nya. Ia anak yang cerdas.
Seperti kebiasaan anak-anak yang hidup di pedesaan, setiap malam
dikampung nya itu diadakan pengajian malam. Pengajian tersebut tidak diminta
dana sedikit pun oleh pembina. Mereka ikhlas mengajari anak-anak mengaji baik
itu iqro’ atau pun juga Al-Quran , disana mereka juga di ajarkan ilmu agama.
Mengenai tajwid, kisah-kisah Rosulullah dan lainnya. Ia selalu pergi bersama
dengan Yusuf , sahabatnya.
Malam itu, raut muka Humaira terlihat begitu senang , ia di beri
ustad Rayhan sebuah Al-quran berlapis emas yang istimewa sekali karena ia baru
saja membaca sampai habis buku iqro nya. Setiap malam, ia tidak pernah lupa
untuk mengaji, minimal satu hari satu lembar pasti selalu ia usahan untuk
membaca nya. Sampai kakak-kakak tetangga dikampungnya terkagum melihat Humaira
yang begitu rajin membaca Al-quran.
Tahun ini adalah tahun pertama Humaira masuk sekolah pendidikan
dasar. Dipakai nya baju merah putih yang dibeli oleh umaknya kemaren di Pasar Loak. Walaupun hanya baju bekas tapi tak
pernah memutuskan semangat nya dalam belajar , menuntut ilmu. Ia sekolah di Sd
Harapan Mandailing. Hanya sd tersebut yang letaknya dekat dengan rumah Humaira.
Untuk menghemat pengeluaran angkutan lebih baik jalan kaki tidak mengeluarkan
biaya. Selain itu kualitas sd ini sudah mendapat predikat B. Sudah tarap sangat
bagus untuk sekolah yang berada di desa. Tetapi , ia tak bisa menempuh
pendidikan taman kanak-kanak , tak bisa bermain ayunan, perosotan, jungkat-jangkit
bersama teman-teman nya yang lain. Karena taman kanak-kanak tidak jauh dari
rumah nya , setiap selesai sholat subuh berjamaah di mesjid yang tak jauh dari
rumah nya.
Ia pergi bermain kesana
bersama adiknya , Abdullah yang berusia 4 tahun, ia lucu sekali dan masih
kental dengan yang namanya bermain dan bermain. Mereka bisa masuk ke taman
kanak-kanak tersebut karena penjaga sekolah nya pak Habib. Pak Habib sudah
menjadi penjaga sekolah tk tersebut sudah lama, sekitar sepuluh tahun yang lalu. Wajah nya yang sayu yang di
tutupi oleh jambang hitam nya yang lebat hampir menutupi bentuk wajah nya.
Tampangnya cukup mengerikan , tapi asli nya dia adalah seorang laki-laki yan
berhati lembut. Apalagi kepada anak-anak. Ia begitu penyayang mungkin karena ia
belum mempunyai anak. Sekarang ia sudah berumur hampir 50 tahun. Dan sudah
menikah dengan Bu Saleha sekitar 10 tahun yang lalu, tapi mereka sama sekali
belum memiliki keturunan.
Ketika Humaira dan Abdullah bermain-main di arena taman bermain, ia
duduk di depan rumah nya yang masih berada satu lingkup dengan tk tersebut.
Kopi yang masih saja mengeluarkan kepulan asap yang menandakan bahwa suhu kopi
nya masih panas tertuang dalam sebuah mangkok yang terbuat dari tempurung batok
kelapa. Kopi tersebut adalah kopi Ulupungkut. Warnanya hitam pekat dan harum
yang mengundang rasa untuk segera mencicipinya bersama lemang di atas meja.
Kopi ulupungkut adalah kopi khas hasil Mandailing Natal, namun sayangnya belum
bisa dikelola dalam hal pemasaran oleh masyaratkatnya.
Kopi-kopi tersebut dikirim ke kota dan mereka membuat kopi tersebut
menjadi kopi-kopi yang bernilai jual tinggi hingga ke luar negeri kopi ini
laris terjual ratusan ribu rupiah. Dan ia berbincang –bincang dengan istrinya
sambil membaca koran. Dan sesekali melirik mereka dari kejauhan. Dengan
bermain-main sekitar setengah jam disana mereka bisa menghilang kan sedikit
kesedihan.
Setelah selesai bermain disana mereka berdua pasti bergegas ke
sungai. Sungai merupakan salah satu mata pencaharian keluarga mereka. Setelah 2
tahun yang lalu, ayah mereka, pak Habibi
pergi merantau ke Jakarta bersama pamannya. Mereka hidup bertiga dengan umaknya, umak Idah begitu dikenal yang bekerja sebagai buruh cuci dari satu
rumah ke rumah yang lain. Sambil menunggu umak nya , mereka pergi ke sawah
dekat sungai untuk mencari keong-keong. Keong –keong tersebut akan di jual ke
pasar untuk makanan itik. Harga nya tidak terlalu besar, 1 kg hanya mengoceh
uang seribu rupiah. Tapi seribu rupiah pun sudah sangat berharga sekali kepada
mereka. Bisa membeli roti untuk Abdullah
atau juga satu pensil untuk Humaira. Terkadang juga keong-keong itu
mereka rebus untuk mereka makan sendiri.
Hati Humaira meloncat-loncat , ia sudah lama sekali
kelaparan dan kehausan akan ilmu, biasanya ia hanya di ajari membaca alfabet ,
a , i , u , e, o tiap malam setelah ia pulang belajar mengaji. Dan terkadang ia
belajar bersama temannya di gubuk kecil yang terdiri dari sulaman bambu rotan
yang dibuat ayahnya dulu sebelum pergi ke Jakarta.
Kak Sarah, kakak yang tinggal di samping rumah mereka baik sekali.
Ia mengajari Humaira membaca dan menulis sedikit demi sedikit. Hingga ketika
masuk sd ini tidak begitu kewalahan jika disuruh membaca tulisan yang huruf nya
besar-besar. Kelas satu , ia masuk di kelas C, kelas yang dibilang tingkatan
terendah setiap subkelasnya. Biasanya di dalam nya itu adalah anak-anak yang
tidak memiliki ijazah Tk.
Ia pernah ikut lomba membaca
koran yang huruf nya kecil-kecil dan
tersusun rapat. Ia mendapat peringkat nomor satu dikelasnya karena ia lihai membaca.
Tetapi setelah kelas dua, ia pindah ke kelas A , golongan anak yang menjamah
pendidikan tk . Kelas yang dianggap bisa menerima pelajaran-pelajaran lebih
dibandingkan dari kelas lainnya. Penghuni kelas A terdiri dari orang-orang
cakap dan terampil dalam berbicara dan berbagai hal lainnya.
Sehingga bagi orang pendatang
baru seperti Humaira mungkin belum bisa dengan cepat bersosialisasi. Ketika
akhir semester, penerimaan raport semester 1 , di kotak bagian sisi bawah
halaman hanya tertulis “Tingkatkan prestasi mu!”. Ketika itu, perasaan malu
menyelimuti hatinya dan ia takut pulang ke rumah ketika itu.
Tetapi walau bagaimana pun jua Humaira pun
tetap harus pulang dan berkata jujur kepada umaknya peringkat yang didapatnya
menurun drastis.
“Umak ,. nilai Ira turun kali ini Humaira tidak dapat juara, maafin
yah mak, yah!, Humaira janji semester berikut nya Humaira bakalan lebih rajin
lagi belajarnya..”
“ Kenapa nak? Itu hal yang wajar, kamu juga butuh waktu untuk bisa
berhubungan baik dengan mereka. Tidak apa! yang penting semester depan Humaira
nilai nya harus lebih bagus lagi yah, nak! Janji sama umak yah..” , umaknya meyakinkan Humaira yang sudah
meneteskan airmata di pangkuannya.
Kasih sayang seorang ibu memang tak dapat terlukis kan dengan kata. Berjuta
bintik kapas warna putih angsa pada suatu malam cuaca naik mengambang bersama
dan menggeliatlah dia menggelepar menyerakkan warna dan aroma mewangi yang
tiada henti menuliskan cinta seorang ibu adalah
indeks hati yang tak dapat ditukar dengan rupiah.
Paradoks 6
Melestarikan Budaya Sendiri
Setiap libur semester Humaira menghabiskan waktunya dengan membantu umaknya. Mulai dari membersihkan rumah ,mencuci
piring atau pun baju mencuci keluarganya dan menjaga adiknya,Abdullah.
Sementara umaknya pergi bekerja ia juga sesekali mengajak adiknya bermain
bersama di halaman bolak17. Banyak sekali jenis
permainan yang mewarnai zona masa kecil Humaira di Mandailing Godang.
Mandailing Godang adalah kabupaten sejuta budaya dan jenis permainan daerah nya
banyak sekali .
Hanya saja mungkin sekarang
sudah tak dihiraukan lagi karena beralih ke internet , games-games online yang semakin memanjakan anak-anak kecil bukan
hanya di Mandailing tapi mencakup seluruh dunia mungkin. Karena sistem nya yang
praktis hanya duduk di depan komputer/laptop/gadget sambil jemari bergerak
kesana kemari sudah melatih ketangkasan otak tapi jika sudah kecanduan semua
bisa jadi lupa waktu.
Waktu sholat pun sering dilalaikan, ketika kumandang azan mengalun
merdu, tak segera mengambil wudu dan berangkat mesjid tapi masih saja berpacu
di layar gadget tersebut. Padahal
amalan paling baik adalah mengerjakan sholat di awal waktu. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang
sholat, yang mereka itu lalai dari sholatnya, yaitu orang-orang yang
menampakkan ria dan enggan memberi pertolongan18.
Pada zaman sekarang orang yang tidak melaksanakan sholat
sudah di temukan dimana-mana. Seolah-olah di katepe19 nya
tak tercantum bahwa ia berstatus Islam.
“Nak, laksanakanlah sholat sebagai tanda syukur mu akan nikmat hidup
yang di berikanNya, Ia sudah mengizinkan mu tiap hari menghirup berjuta udara
beserta kawan-kawannya , kalau kamu tidak mengerjakan sholat tak ubah nya kau
seperti mayat hidup”, begitu nasehat pak Henri , guru agama Humaira di
pesantren.
Di halaman bolak yang berada di depan bagas godang. Alaman bolak
atau alaman silang se utang yang berarti apabila seseorang yang berutang di kejar oleh orang yang berpiutang dan dia lari
ke alaman bolak , dia tidak boleh lagi
di ganggu , pertengkaran harus di hentikan dan wajib di cari perdamaian. Tapi
saat ini Humaira, adiknya beserta teman-teman mereka
lainnya menjadikan itu menjadi tempat
bermain.
Bagas godang adalah sebutan bagi rumah adat Mandailing Natal. Bagas
godang biasanya ditempati oleh keluarga raja-raja. Di bagas godang terdapat
gordang sambilan yaitu alat musik pukul bentuknya seperti bedug terdiri dari sembilan
bedug yang mempunyai panjang dan diameter yang berbeda sehingga menghasilkan
nada yang berbedapula.
Gordang Sambilan
salah satu pesona wisata di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), salah satu
warisan budaya bangsa Indonesia. Bahkan diakui pakar etnomusikologi sebagai
satu ensambel musik teristimewa di
dunia.
Banyak
sekali jenis permainan yang mereka lakukan dan itu sangat-sangat menyenangkan
sekali . Bisa dipastikan sepanjang liburan semester selama 2 minggu itu setiap
hari mereka memainkan permainan yang berbeda. Sebagai kegiatan yang dapat menghibur diri dan sekaligus juga
melestarikan budaya daerah sendiri.
Matahari sudah
mulai berjalan pelan kembali ke peraduannya. Angin sepoi-sepoi yang berhembus
karena kampung Humaira masih kental dikatakan sebagai daerah yang sangat banyak
ditanami padi. Disepanjang desa
pasti bisa ditemui hamparan sawah luas.
Karena desa Humaira sebagian besar matapencahariannya adalah sebagai petani.
Setelah sholat Ashar, Humaira dan temannya berhamburan menuju halaman bolak.
Hari ini mereka bermain alioma. Alioma adalah main sembunyi-sembunyian. Setelah
ompimpah dan mendapat satu teman yang
jaga maka ia akan menutup mata nya dan bersandar di sebuah pohon sambil
menghitung angka, satu, dua, tiga , empat dan seterusnya dengan suara yang
keras teman-teman yang lainnya akan berlarian entah kemana yang mereka merasa
tempat itu cocok untuk bersembunyi dan tidak di temukan oleh teman yang jaga
tadi. Ternyata setelah ompimpah Humaira mendapat kesempatan bersembunyi
sementara Abdulullah kali ini harus jaga. Yusuf juga ikut bermain.
Setelah selesai
menghitung sampai deret angka sepuluh. Pasti si teman yang jaga mengatakan “
siap gak siap sembunyinya, aku cari yah?”,
Abdullah berkeliling-keliling mencari satu persatu temannya tersebut dan
akhirnya ketemu. Tetapi yusuf susah sekali di temukan , kampung pun mereka
telusuri.Ternyata Yusuf ketiduran di belakang pohon rindang di dekat musholla yang
tak jauh dari halaman bolak.
“Kenapa sih kamu Yusuf?
Disuruh ngumpet malah tidur?” , mulai Humaira kesel.
“Iya, iyaa,.. maaf
yah semuanya, tadi aku disuruh ayah kepasar, aku kecapean, tapi karena lihat
kalian disini aku jadi pengen ikut main”, jawab Yusuf cengengesan tidak jelas.
Padahal sebenarnya Yusuf berniat ikut bermain
karena cuma ingin melihat Humaira. Setelah semuanya dapat ditemukan , Abdullah
menutup mata nya lagi dan teman-teman yang lain berbaris ke belakang memanjang
dan yang jaga tadi mengucapkan nomor yang di inginkannya.
Jika tadi Abdullah
tidak berhasil menemukan salah satu temannya maka dia bebas dari undian yang dilakukan.
Nomorrrrr Satuuu… ternyata sekarang giliran yusuf yang jaga. Begitu seterusnya
mereka melanjutkan permainannya dengan di diringi gelak tawa menghibur terutama
ketika mereka capek bermain alioma mereka bermain bola lancat.
Permainan bola
lancat adalah permainan dengan menggunakan alat yaitu berupa kayu yang
berbentuk persegi panjang agak lebar biasa nya mereka mengambil kayu-kayu tersebut
di tempat yang sedang melakukan pembangunan rumah.. pasti disana di dapati
banyak kayu-kayu sisa dan itu mereka manfaatkan. Sistem nya seperti ini, ketika
nanti satu orang melemparka bola kecil yang terbuat dari plastik yang berukuran
sebesar bola kasti tapi lebih besar sedikit, maka bola tersebut akan
menggelinding di tanah dan para pemain akan berebutan untuk memukul bola
tersebut dengan syarat bola tersebut hanya boleh tersentuh kayu jika bola
mengenai anggota tubuh maka dia yang akan jaga untuk pertama kali nya. Bagi
pemain yang jaga bebas memegang bola dan
ia harus berusaha melempar bola ke pada kawannya yang lain sampai ia
mendapatkan kawan yang mengganti kan nya sebagai pemain yang jaga.
Permainan ini
sangat seru, melatih kepekaan otak dan ketangkasan kita.
Dalam permainan
bola ada pelajaran yang dapat kita ambil baik itu bola kaki , bola basket dan
lainnya. Misalnya saja ketika kita bermain bola kaki, otomatis kita akan terus
menggiring boleh dan tidak memperbolehkan lawan merebutnya dari kita dengan
satu tujuan untuk memasukkan bola ke gawang. Dan mendapatkan teriakan
“GOOOLLLLLLLLL” dari para penonton. Demikian juga dengan hidup ini, hidup mesti
punya tujuan. Akan banyak sekali tantangan dan rintangan nya untuk mendapatkan
satu kata yang di damba-dambakan tiap insan yaitu “ SUKSES “, seperti bermain
bola tadi focus memasukkan bola ke gawang agar mendapatkan sebuah kemenangan.
Harus fokus dan terus berusaha terhadap apa yang kita impikan dan jangan pernah
melupakan Allah barang sedetik pun. Karena seperempat detik sekalipun segala
perbuatan yang kita lakukan tidak akan lepas dari pantauannya.
“Kak… udah pukul lima kak,, kita pulang ya kak, pasti umak
udah pulang, nanti malah kecarian nanti..!”
“Iya , ayolah dek…”
“ Teman-teman Humaira sama Abdullah pulang duluan yah?, sampai jumpa
besok, kita main lagi ,, okehh!!!”
“Oke…” jawab anak-anak kecil teman Humaira serentak..
“Hey… Humaira tungguin aku..”
Yusuf mengejar mereka dan mereka pulang bersama.
“ Seru ya, melestarikan
budaya sendiri”ucap Yusuf ngos-ngosan.
“Assalamualaikum umak….”, Humaira
dan adikknya mengetuk pintu.
“ Wa’alaikumussalam, mari masuk nak, ibu sudah memasakkan kalian dua
telor dadar beserta sayur daun ubi dan sambelnya. Alhamdulillah hari ini umak
dapat rezeki, nak. Oleh karena itu bisa membeli makanan ini. Syukuri yah..” kata ibu sambil merapikan meja makan berkaki
empat yang sudah hampir lapuk dan tak memiliki kursi untuk diduduki.
“Iya mak, kami suka kok makanannya, iya kan dek?”, tanya Humaira kepada
adiknya menginginkan pembenaran.
“ Ia mak, adek suka kok
sama telor dadar” jawab Abdullah.
“Ya sudah, makan lah nak, makan yang banyak yah!, umak ke dapur dulu..”, mak Idah berjalan meninggalkan mereka
yang sedang duduk diatas lantai yang tak berkeramik dan hanya beralaskan
anyaman tikar bercorak bunga yang sudah lusuh dan anyaman-anyaman nya hampir
sudah mulai robek.
Rumah yang mereka huni sekarang adalah rumah kontrakkan. Di ruangan
yang hanya berukuran 6x5 itu mereka mengadu nasib untuk tetap bertahan hidup.
Mereka adalah keluarga yang sangat luar biasa..
Sebenarnya setiap hari mereka selalu makan telor dadar dan jarang
sekali ada sayur yang mewarnai piring mereka. Sesekalipun selingannya hanya
ikan yang kecil-kecil, itupun jika Humaira dan adikknya di ajak pak lurah ke
kolam ikan miliknya dan mereka menghabiskan waktu memancing disana untuk
mendapatkan satu atau dua ekor. Perasaan senang menggeliat pada raut muka
mereka terlihat ketika ikan mas tertipu oleh cacing-cacing yang mereka jadikan
umpan. Pak luah biasanya mengajak mereka sekitar 3 bulan sekali.
“ Nak… nanti kalau makannya udah selesai, di beresin yah! umak mau
pergi dulu ke rumah bu Santi, jemput pakaian kotor, habis ini langsung mandi,
nanti badan nya gatal-gatal, kalian kan habis bermain”, tegas
mak idah penuh perhatian.
“ iya mak”, jawab dua anak
itu menurut.
Paradoks 7
Penyesalan
Mata itu? Kenapa selalu saja tenggelam bersama kepingan-kepingan
airmata. Ia mengalir begitu saja. Mungkin bathin sudah mulai lelah. Tetapi
kenapa hati juga selalu saja mengikut mengalun bersama kesedihan?
Entahlah.
Awan - awan bergerak yang tadi nya langit ditutup oleh kepulan warna
hitam pekat sekarang berubah menjadi putih belum terang karena di balik gunung
sana terlihat mentari yang masih malu-malu untuk bangun dari tidurnya. Mungkin
dia masih lelah setelah seharian penuh kemarin berkeliling dari ujung timur ke
ujung barat. Kelelawar juga sudah mulai berhenti meramaikan angkasa, ia
mengepakkan sayapnya yang tipis itu untuk pulang, ia juga mungkin sudah capek
semalaman beraktivitas mencari santapan , serangga-serangga kecil yang
bersembunyi di antara semak-semak. Kini, sudah berganti dengan senandung tenor
burung merpati putih. Cuaca nya bersahabat. Sudah dua minggu libur semester
sudah berlalu ditelan waktu. Kini sudah berganti menjadi hari baru. Tak perlu
ragu-ragu , jalani hari ini penuh percaya diri. Percayalah, didalam dunia ini
semuanya bisa terjadi. Kun fha Yakun!20
Kini Humaira sudah bukan anak kelas 2 sd lagi, bocah ingusan dulu
yang sering menghabiskan waktu sepanjang sore di halaman bolak bersama
teman-teman kecilnya sudah tumbuh menjadi anak yang dewasa, dia sudah naik ke
kelas 6 sd. Jenjang terakhir yang tak boleh terlewatkan karna ini semester
terakhir dan banyak sekali ujian sekolah yang akan datang silih berganti.
Setelah prestasinya turun sewaktu kelas 2 sd , juara yang di perolah nya sudah
menunjukkan grafik peningkatan.
Sampai sekarang ia masih mendapat peringkat tetap yaitu juara 4 di
kelas nya. Itu sudah merupakan perkembangan yang drastis dibandingkan dulu tak
mendapat peringkat sama sekali. Humaira kelas 6 sd sementara Abdullah masih
kelas 4sd. Mereka bersekolah dengan bermodalkan bantuan dana untuk siswa
miskin. Semua bantuan yang diberi pemerintah tersebut dibagi oleh mak Idah sedemikian rupa untuk keperluan
sekolah dua anaknya tersebut maupun keperluan sehari-hari. Waktu bukan di
pergunakan Humaira lagi dengan bermain-main bersama adiknya , Yusuf ataupun
teman-temannya yang lain.
Ia gunakan waktu nya untuk belajar .
Karena di semester dua akan bersua dengan yang namanya try out, UAS21 dan akhirnya adalah UN ( Ujian Nasional ).
“ Mak, bentar lagi Humaira
UN mak, Umak punya uang tidak buat beli buku kumpulan soal-soal UN? Ira ingin lulus dengan nilai yang memuaskan,
mak?”
“Kalau masalah sepatu yang udah tiga tahun sepatu Humaira, ini aja ,
tidak pernah berganti. Tak apa mak, lagian tinggal beberapa bulan lagi, Ira
akan tamat mak. Abdullah lebih memerlukannya mak, kakinya sering lecet, merah-merah,
soalnya sepatu nya udah kekecilan dan sangat sempit sekali,mak!”,jelasnya
meringis.
“Oh masalah itu, nanti umak
usahain yah, yang sabar ya nak”!
“Mana Abdullah, Ra?”, umak
kecarian.
“ Abdullah.. Abdullah..!! ayo kesini dek, umak mencarimu..,” teriak Ira memanggil Abdullah yang sedang
belajar di kamar sendirian hanya dengan lampu teplok di tepat berada di
depannya.
“Inna Maal Usri Yusra, Nak!
Sesungguhnya setelah kesusahan pasti ada kemudahan , itu udah janji Allah dalam
kitab-Nya ,nak! Yang penting Humaira yang rajin belajarnya dan Abdullah juga
nanti kalau umak udah gajian, Abdullah bakalan dapat sepatu baru deh?”
“Setuju? Senyum dong anak umak, yang cantik dan ganteng ini”, mak
Idah merayu, mereka saling berjabat tangan dan larut dalam dekapan kasih
yang teramat mengharukan.
“Iya mak, mudah-mudahan
umak diberi rezeki yang berkah dari Allah”..
“Aamiin…”.
“ Kami berdua saaayaanggg
sekali sama umak!”, rintih Humaira dan
adiknya dalam hati sendu.
***
“ Heh, kamuu!!!”, Ririn datang mengejutkan Humaira.
“Humaira yang kamseupay22!!
Dasar gembel!!, bau banget jadi orang, udah
ga mandi berapa abad lho?” Humaira dengan refleks kaget akan suara Ririn yang begitu melengking
, memekakkan telinga.
Ririn adalah anak donator di Sd Harapan Mandailing. Jadi, ia merasa
memiliki kekuasaan penuh pada setiap murid di sekolah itu. Ia sangat cerewet
dan suka sekali mengomel pada orang yang tak punya salah dan ahkan tak tau
apa-apa. Ia suka melawan guru. Memang sudah menjadi peraturan tidak boleh
membawa ataupun memakai handpone di dalam ruangan kelas terutama saat proses
belajar mengajar sedang berlangsung. Kemudian bukan hanya itu ,sepatu yang
terlihat cocok dikulit nya yang mulus itu selalu ia saja salah tempatkan.
Ia tak memakai sepatu hitam untuk sekolah tetapi ia malah dengan
bangga memamerkan sepatu-sepatu mahal yang dibelinya ketika ia berlibur ke luar
negeri sewaktu liburan semester kemarin. Sehingga tak jarang ia sudah menjadi
bulan-bulanan buah bibir di sekolah. Di kantor guru ia sudah takzim menjadi
topik pembicaraan.
“Kenapa Rin? Salah ku apa sama kamu?
Baru datang langsung marah”
“Gak ada sih, kamu kenapa sok banget , sok
pintar, sok rajin, sok agamis dan satu lagi sok cari perhatian sama guru-guru. Ihhhhhh...., nyebelin banget sih kamu”, Ririn malah sewot sendiri.
“ Maaf ya rin, kalau aku ada salah sama kamu, tapi
aku gak mau ribut hari ini”, Humaira pergi meninggalkan Ririn.
“ Eh, Humaira.. aku itu cuman pengen ngomong
sesuatu sama kamu, tunggu,tungguuuuuu..”, tetapi Humaira sudah terlanjur pergi dan tidak
mendengar ucapan Ririn lagi.
***
Dibawah pohon nan rindang
yang sedang berbagi kesenangan. Ia memberikan oksigen untuk dihirup makhluk
hidup sementara ia mendapat balas karbondioksida dari makhluk hidup
disekitarnya. Pohon adalah paru-paru dunia. Ia memberikan kesejukan kepada
siapa saja yang ingin singgah bersandar di batang yang kekar dan dibawah
naungan daun-daun lebat yang saling berdempetan. Ririn sepertinya ingin
bercerita dengan pohon tersebut? Sudikah kau pohon tua mendengarkan suara hati
gadis itu? Ia sedang bermuram durja.
“Aku itu iri sama kamu Humaira, kenapa kamu bisa
tetap tersenyum walaupun kamu itu orang miskin dan hidupmu pas-pasan. Sementara aku,
aku punya segalanya, rumah yang mewah, kekayaan, orang tuaku yang begitu baik sekali bukan hanya padaku,anaknya tetapi
mungkin pada semua orang. Kenapa
setiap belajar aku selalu tidak bisa, sudah berulang
pun ku baca suatu buku tetap saja tak bisa. Aku juga pengen punya otak yang cerdas, pengen banget dapat piala terus bawa
pulang ke rumah dan dengan begitu bangga berkata “ Mama, papa .. Ririn pulang bawa piala.. Ririn dapat
juara..” .
Alangkah senangnya mungkin
kedua orang tuaku ya.., aku juga pengen mengenal islam,
agamaku lebih dalam lagi, aku yakin Humaira
pasti bisa membantuku.. tapi aku tidak tau bagaimana untuk minta tolong kepadanya”, begitulah hati Ririn berbicara.
Diantara gang-gang sekolah , Ririn melihat Humaira dari kejauhan,
Humaira dengan buku di genggamannya berjalan dengan santai seperti nya ia akan
pergi ke perpustakaan.
Ia akan belajar untuk persiapan ujian akhir karena di perpustakaan
ada beberapa kumpulan soal UN. Jadi pikirnya daripada merepotkan orangtua untuk
meminta di beli buku tersebut lebih baik ia rutin untuk membaca ke perpustakaan
sekolah. Sebenarnya inti nya itu cumin satu, hadapi sesuatu itu dengan tenang,
jangan memperbesar masalah yang kecil, tapi kecilkanlah masalah yang besar. Ririn
mengikuti Humaira , ia masih saja ingin bicara dengan Ira.
Ira merasakan ada yang mengikuti nya dari belakang , sesekali ia
membalik badan, tapi dengan cepat Ririn menyembunyikan diri dibalik tembok.
“ Sepertinya ada yang mengikuti aku!! Tapi ya sudahlah,mungkin
hanya perasaanku saja” Akhirnya , ia pun sampai di sebuah tempat yang cukup
luas, seisi ruangan itu penuh di isi dengan lembah-lembah ilmu, kertas-kertas
yang di jilid menjadi satu, ada yang tipis dan ada pula yang tebal sekali.
Lemari berjejer dihuni oleh buku-buku yang ramah dan selalu bersedia untuk di
pegang siapa saja yang memiliki minat untuknya.
“Humaira..!!”, panggil Ririn dengan suara pelan dipenuhi
keraguan.
Ia sedang duduk di meja bundar yang berada di tengah-tengah ruangan
perpustakaan. Diatas meja tersebut ada sebuah tumbuhan seperti kaktus yang ditaruh di dalam pot
kecil yang berisi tanah , tapi diatas tanah tersebut terdapat batu-batu kecil
berwarnaa-warni. Tumbuhan tersebut bernama Terrarium. Terrarium adalah jenis
tumbuhan yang bisa bertahan hidup lebih lama walaupun tanpa di siram. Tanaman
jenis ini memiliki nilai jual yang tinggi.
“ Iya Rin?, ada
apa?”
“ Kamu lagi ngapain? Aku ngenganggu gak?”
“ Gak kok, ayo mari duduk
disini, disampingku”, Ira menarik bangku untuk Ririn ramah.
“ Cuma lagi baca buku aja nih, kenapa?”, Tanya ira lagi penasaran.
Soalnya, Ririn itu jarang sekali mau bicara dengan Ira, ia selalu di olok-olok
Ririn.
“Aku mau minta maaf sama kamu Humaira, aku udah jahat banget sama
kamu!, aku sering banget malu-maluin kamu, aku masih ingat banget dulu waktu
lagi ujian semester, mata pelajaran agama islama, aku rampas kertas ulangan mu
dan aku nyontek semua jawabanmu padahal kamu sendiri tidak memperbolehkan nya.
Dan akhirnya kamu yang dikeluarkan oleh pak Henri dari kelas dan tidak
diperbolehkan lagi ikut ujian karena aku mengatakan kamu yang sebenarnya
menyontek kertas hasil ulanganku, bukan aku yang menyontek, aku merasa sangat
bersalah ra, maafin aku yah”, jelas Ririn menyesal.
“ Iya tidak apa, Rin.. aku sudah melupakan hal itu, tak ada gunanya
menyesali yang sudah terjadi, teman”.
“ Aku sadar, menyontek itu suatu perbuatan yang tidak baik karena itu
sama saja dengan membohongi diri sendiri. Kita belajar bukan untuk mendapatkan
nilai lebih dari itu kita belajar untuk mendapatkan ilmu yang barokah”, jelas
Ririn lagi menambahi.
“ Iya , kamu betul sekali, aku selalu megang motto “ Jujur Tetap
Lebih Baik”!, dan kamu juga harus pegang kalimat itu yah..”
“ Iya…”
“ Lain kali jangan di ulang lagi, karena alfikru qobla ribhan annadamu ba’du husron, pikir dahulu
pendapatan, sesal kemudian , tiada berguna”, lanjut Ira lagi.
Ririn hanya menganggung-ngangguk, sebagai tanda mengiyakan apa yang
di ucapkan Ira.
“ Selain masalah itu ,
aku juga mau minta tolong sama kamu ra, boleh tidak kamu mengajari aku, kita
belajar bersama.. Soalnya selama ini aku itu belajar nya asal-asalan aja.
Gitu-gitu aja. Kalau ada pr pun aku ambil punya kamu aja kan? Aku ingin
berubah. Aku sayang sama orang tuaku, aku ingin lulus ujian akhir ini dengan
nilai yang memuaskan. Kamu mau membantu ku?”
“ Ya, dengan senang hati,
Rin!”
“Semua manusia akan
celaka kecuali orang yang berilmu, semua orang yang berilmu akan celaka kecuali
orang yang menggunakan ilmunya, orang yang mengamalkan ilmunya akan terpedaya
kecuali orang-orang yang ikhlas, dan orang-orang yang ikhlas senantiasa dalam
kedudukan yang agung”23.
“Tapi jangan di rumah ku yah, kita belajar dimana?”
“ Di rumah ku aja”, Ririn memberikan ide.
“ Aku juga mau ikut!!”, Yusuf datang menghampiri.
“Ya sudah, setiap sore ya! sekitar pukul tiga,, oke!! Rumahku di gang.Jambu, Aku tunggu
kedatanganmu, terimakasih akan kebaikanmu, aku tidak akan melupakan semua ini, aku
menyesali perbuatanku, aku pergi dulu yah..”
“ Assalamualaikum..”
“Waalaikumsalam warahmatullah..”
Paradoks 8
Simbiosis Mutualisme
Tawaran Ririn ini juga sangat menguntungkan Humaira karena ia bisa
belajar untuk ujian nasional selain di sekolah. Tentunya, Ririn pasti punya
banyak sekali buku-buku tentang hal itu. Dan kemungkinan besar ia pasti mau
meminjamkan nya kepada Humaira.
“Alhamdulillah..”, spontan terucap dari mulut Humaira.
“Betul yang dikatakan umak, bersama kesusahan ada kemudahan.
Humaira tidak boleh berputus asa, semangattttt!!”, tekad nya kuat.
“ Barang siapa
menapaki proses menuntut ilmu maka Allah Swt. Akan memudahkan baginya jalan
menuju surga”24 .
Angka-angka hari
berjalan bergantian, waktu begitu cepatnya , seminggu lagi Humaira, Ririn dan siswa/siswi
Sd Harapan Mandailing beserta sd lainnya di seluruh Indonesia akan melaksanakan
Ujian Nasional. Ririn sudah mulai berubah, ia sekarang sudah lebih baik dari
sebelumnya. Tidak sering menghina-hina orang lain lagi dan sudah mulai bersikap
yang sopan. Ririn juga sudah mulai belajar mengaji. Dulu aku heran kepadanya,
sudah kelas 6 sd, tetapi buku iqra’ pun belum bisa dengan lancar di baca nya. Sebenarnya , orang tua nya sudah menyekolahkan
nya di Madrasah tetapi entah apa yang dilakukannya disana. Sedikit pun tak ada yang masuk kepikirannya. Masuk
telinga kanan keluar juga dari telinga kanan. Tidak ada sama sekali yang bisa
di serapnya.
Orang tuanya sangat baik. Waktu Humaira datang ke rumah Ririn, Ia
diberi uang lima puluh ribu oleh ibu Zainab, mama nya Ririn. Katanya Humaira
adalah anak yang baik dan rela berbagi. Sementara Humaira hanya belajar mengaji di pengajian malam dan
sesakali jika ada waktu luang mak Idah mengajarinya. Ia begitu sangat bersemangat. Alangkah merugi nya jika kita tidak bisa
menikmati indahnya setiap mukzizat yang terkandung dalam huruf Al-Quran yang
mulia.
Sesungguhnya Allah Swt memuliakan kita semua dengan Alquran yang
berisi kabar dari umat-umat sebelumnya ataupun sesudahnya dan sebagai pedoman
dalam menentukan semua keputusan, karena Alquran adalah al-Furqan, yakni pemisah antara yang benar dan yang salah. Dan
Alquran adalah al-Huda, yakni petunjuk Allah Swt kepada seluruh hamba-Nya untuk
menggapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Maka, barang siapa yang mencari petunjuk selain Alquran, maka
sebenarnya dia tengah lari menuju kesesatan dan meninggalkan jalan kebenaran. Barang
siapa yang bersungguh-sungguh mengamalkan apa yang ada di dalamnya , niscaya
dia akan memperoleh pahala yang berlipat ganda dan tak disangka-sangka.
Humaira masih duduk di sekolah dasar tapi Ia gemar sekali membaca ,
membaca dan terus membaca. Baginya membaca itu bukan harus dijadikan sebagai
hobby saja tetapi haru s dijadikan sebagai suatu keharusan. Karena membaca
adalah jembatan menuju sukses. Tetapi hendaklah yang dipelajari itu bukan hanya
ilmu dunia saja imbangilah ia dengan mempelajari ilmu akhirat.
Baginda Rosulullah Saw
bersabda : “Pergilah ke mesjid , lalu pelajarilah dua ayat Alquran , maka itu
lebih bernilai daripada dua ekor unta. Sedangkan tiga ayat lebih bernilai lebih
bernilai daripada empat ekor unta dan begitulah seterusnya.”25
Wahai kaum
muslimin, apalagi yang hendak kita cari? Lapis terluar dengan lapis berikutnya
mana saling bersentuhan, molekul sel berates bertautan dalam histology anyaman,
inilah fisiologi subversi dalam sejarah tak ada tandingan, ideology ini gulung
karpet dan jadi bahan tertawaan. Kenapa harus bersusah payah mempelajari
buku-buku hasl kreasi para sarjana barat yang tentunya logika berpikir mereka
didasri oleh kitab-kitab suci mereka, sedangkan kita sudah punya kitab suci
yang sudah sempurna dan berlaku berlaku sepanjang zaman bergulir.
Bacalah ,
renungkanlah , hayatilah dan kajilah setiap siklus yang tertera dalam ayat-ayat
suci Alquran, maka kita akan terpesona dengan keindahan lafazdnya dan kedalaman
makna nya. Hingga seakan-akan hidup kita menjadi teratur sesuai konsep
kebahagiaan yang terkandung didalamnya. Sedang hati kita yang berhias Alquran
menjadi tenang dan tentram. Karena apapun yang kita perbuat akan diridhai oleh
Allah Swt dan kita pun akan menyadari bahwa apapun yang menimpa kita sebenarnya
hanya bagian dari cara untuk menjalani hidup sesuai takdir-Nya.
Mereka membentuk sebuah interaksi simbiosis
mutualisme. Saling menguntungkan kedua belah pihak. Humaira mendapat pahala
karena telah mengamalkan ilmu yang
dimilikinya sekaligus bisa mendapat pinjaman buku UN sementara dari Ririn. Kemudian Ririn sudah mulai berubah nilai nya semua
meningkat dan semakin rajin belajar mengaji.
***
Sementara itu, di kamar mandi sambil menyuci pakaian-pakaian kotor
para pelanggan mak Idah masih saja tergiang di pikiran nya masalah sepatu
Abdulllah. Memang bebannya
Sudah agak ringan sedikit
karena sudah tidak perlu mencari uang lagi untuk membeli buku kepada Humaira.
“Tetapi Abdullah? “, tanya nya dalam hati.
Mak idah sangat kebigungan, ia sudah mencoba keliling kesana kemari
untuk meminjam uang ke tetangga atau pelanggan,tapi tak satupun yang memberikan
respon untuknya.
Tiba- tiba terdengar
suara putaran lagu di radio dari salah satu rumah warga,
“ Marudan , maslas ni ari u
taon do I amang.., asalkon ma na lalu sikola mi ’’,26 mak Idah malah menangis. Ia sangat
menyanyangi anak-anaknya itu. Orang tua mana yang tak peduli kepada anaknya?
Orang tua mana yang rela melihat anaknya menangis bersedih?. Ia selalu saja
mengusakan yang terbaik untuk buah hatinya tercinta. Tak pernah sedetik pun
terpintas dalam qalbunya untuk mengecewakan anaknya yang ia pikirkan hanya
bagaimana caranya agar setiap hari ketika ia bangun ia melihat senyum simpul
dalam raut muka mereka.
“Dan rendahkanlah dirimu
terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku!
Sayangilah kedua nya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu
kecil."27
Keesokan harinya,
mak Idah mencoba mencari ke tempat sampah berharap disana ia mendapat sepasang
sepatu yang masih layak untuk di pakai anaknya. Ia menuju ke tepi sungai karena
di tepi sungai ada sebuah bantaran sampah-sampah masyarakat. Tak dipedulikannya
bau yang menyengat yang muncul dari berbagai jenis sampah itu. Tak ada sandal
yang melekat di telapak kakinya,tak takut di tusuk duri. Sudah hamper setengah
jam ia mengorek-ngorek sampah tetap saja ia tak menemukan ada sepatu bekas yang
masih bagus yang dibuang disana yang ada hanya sepasang sepatu itupun
keadaannya lebih buruk dari milik Abdullah.
Tetapi beberapa menit
setelah itu, mobil berwarna silver
mengkilat yang mewah dengan pelan melaju
di depan mak Idah. Dan kaca jendela
perlahan terbuka. Dan seorang lelaki paru baya mengeluarkan kepalanya dari
jendela mobil.
“ Assalamualaikum,
bu… ”
“Walaikumsalam, pak.. ada yang bisa saya bantu?”
“ iya bu, saya boleh tanya, rumah nya Humaira dimana,bu?”
“Humaira anak saya , pak! Rumah saya tak jauh dari sini, tinggal
beberapa rumah setelah belokan itu?”,
sambil menunjuk kearah belokan tersebut.
“Suruh, ibu itu masuk pak,” terdengar
suara dari kursi belakang mobil itu. Ternyata didalam mobil itu bukan hanya
bapak yang memakai seragam hitam.
Ia mungkin seorang sopir. Dan
biasanya orang kaya yang memiih untuk memiliki sopir untuk mengantar Nyonya nya
kesana kemari.
“ Baik , Nyonya!”
“ Mari masuk bu, nyonya saya meminta ibu masuk kedalam mobil”.
“ Tapi pak, baju saya kotor, saya dari tadi sedang mengorek sampah
disini. Nanti, jok mobil bapak kotor dan lecet jika saya duduk disana”.
“Bagaimana nyonya?”, Tanya supir memastikan.
“Suruh saja dia masuk”,
“ Masuklah, bu”,
“ Terimakasih, pak”.
Kemudian mak Idah masuk kedalam mobil digeluti oleh rasa keraguan.
Setelah melewati satu belokan sudah terlihat rumah kecil Humaira. Ia sedang
menyapu halaman rumah dengan mulut komat-kamit mungkin ia sedang menghapal sesuatu. Dan Abdullah sedang
bermain “dopang-dopang”.
Dopang-dopang adalah permainan yang identik dengan anak lelaki di
daerah ini. Mainan itu terbuat dari batang bambu yang berukuran kecil dengan
satu bagian bambu dengan lubang dibagian bawah dan atas nya,dan satu lagi bambu
pendorong. Biasanya kedalam kayu yang memiliki lubang di masukkan gumpalan
kertas yang kecil-kecil yang sudah di basahi air kemudian bamboo pendorong akan
mendorong kertas tersebut dan dengan spontan dari bamboo tersebut akan keluar
suara yang bunyinya “paaang” keras sekali. Sebenarnya kuat atau lemah nya suara
tergantung kepandaian seseorang yang memainkan pertandingan tersebut.
Abang kelas Humaira pernah bercerita, waktu ia mengikuti perlombaan
festival lomba seni siswa nasional atau yang lebih dikenal Fls2n di tingkat
provinsi dalam cabang seni kriya, salah satu peserta membuat kriya seperti
bentuk “dopang-dopang” hanya dengan
sedikit modifikasi, ia menambahkan ukiran-ukiran di dinding-dinding bambu,
peserta tersebut mendapat peringkat pertama dalam cabang ini. Sesuatu yag
sederhana tapi berpikir dengan luar biasa.
“ Berhenti pak, itu rumah kami..”,
Humaira terpaku melihat mobil innova silver tersebut. Tak pernah sebelumnya
mobil mewah parkir di halaman rumah mereka yang sempit. Matanya tak terlepas
dari pintu mobil tersebut. Ternyata yang keluar pertama adalah ibu nya, mak
Idah. Ia semakin penasaran. Kemudian menyusul pak sopir membuka pintu kursi
belakang. Keluarlah ibu Zainab dan Ririn.
Tiada terasa lagi dimana
cahaya berhenti mengalir. Tiada bintik lagi ketika bintang dalam fajar. Dan
pada pilar-pilar langit. Awan pun bersandar. Di sanalah kita bersimpuh, yang
tua dan setia. Setiap terasa lagi suara memanggil-manggil. Pada pilar-pilar
langit. Di puncak-puncaknya suara Engkau yang merdu. Suara sepi yang biru.
Ibu Zainab dan Ririn terlihat sangat begitu berbeda.
“Ya Allah, Alhamdulillah..”, desis Humaira.
Bu Zainab dan anaknya Ririn sudah memilih suatu jalan yang sangat
baik. Biasa nya ketika Humaira datang untuk belajar bersama Ririn, rambut bu
Zainab maupun Ririn terurai begitu saja dengan dihiasi berbagai pernak-pernik
seperti bando maupun penjepit rambut yang indah. Dengan bangga mengenakan baju yang
belum siap di jahit, memakai pakaian yang tak sar’I ( sesuai dengan ajaran
islam). Astagfirullah..!
Umak Humaira, mak Idah sudah sering sekali menjelaskan kepada nya
sejak kecil dulu bagaimana adab dalam berpakaian dalam Islam.
“Humaira.. Ira kan anak perempuan dan banyak sekali perbedaan nya
dengan laki-laki, termasuk dalam hal berpakaian dan umak ingin sekali Ira udah
belajar berpakaian menurut Islam mulai dari kecil”, pinta umak padanya.
“Iya mak.. Ira akan berusaha mencobanya, bagaimana itu mak?”, Tanya
Ira lagi sangat penasaran waktu itu.
Mak Idah, mulai bercerita dan Ira seksama memerhatikan dan mendengar
ibunya yang sedang bebicara didepannya.
“Yang pertama adalah pakaian kita harus menutup aurat yaitu dengan
memakai pakaian yang longgar dan kainnya cukup tebal sehingga tak tembus
pandang kemudian menutupi bentuk dan lekukan tubuh, sehingga tidak menimbulkan
syahwat bagi kaum Adam.”
“Kenapa harus memenuhi kriteria itu mak?”, Tanya Ira lugu, ia belum
tahu apa-apa waktu itu.
“ Iya , nak! Mesti seperti itu karena pada zaman sekarang sepertinya
negeri kita sudah di jajah oleh bangsa Barat. Jikalau tidak memenuhi kriteria
itu sama saja ia seperti tak berpakaian atau juga telanjang. “ Ada dua golongan penduduk neraka yang keduanya
belum pernah aku lihat: (1) kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang
dipergunakannya untuk memukul orang; (2) wanita-wanita yang berpakaian , tetapi
telanjang, berjalan denga berlenggok-lenggok, mudah dirayu atau suka merayu,
rambut mereka (disasak) bagai punuk unta. Wanita-wanita tersebut tidak dapat
masuk surga, bahkan tidak dapat mencium bau surga. Padahal, bau surge itu dapat
tercium dari begini dan begini”.28
“Oooh.., seperti itu mak”, Humaira mengangguk-angguk. Ira tak mau
masuk kriteria itu.
“Yang kedua adalah pakaian harus bersih dari kotoran, suci dari
najis dan masih layak untuk dipakai. Yang selanjutnya, ketiga adalah model
pakaian laki-laki tidak boleh menyerupai model pakaian dari perempuan dan
begitu sebaliknya, Allah sangat melaknat hal itu”.
“ Kau tau nak ? Sekarang hal ini sudah sangat lumrah dapat kita
temui hampir dimana saja. Intinya , penyerupaan-penyerupaan jenis kelamin
antara laki-laki dan perempuan adalah dalam bentuk gaya berhias, gaya berjalan
atau lainnya, termasuk gaya dan model pakaian”.
Yang keempat, pakaian untukk laki-laki itu tidak terbuat dari jenis
kain sutera. Karena sesungguhnya itu adalah milik orang kafir di dunia. Kelima,
pakaian yang kita gunakan itu tidak untuk menebar kesombongan. “Allah tidak akan melihat orang yang memanjangkan
pakaiannya karena sombong”. 29
“ Apakah hanya itu saja mak”, masih tetap menyimak apa yang
dikatakan umaknya itu.
“ Tidak nak, masih ada lagi. Kemudian disunnah kan untuk
mendahulukan bagian kanan ketika ingin memakai suatu pakaian. Pakaian yang
berwarna putih lebih baik untuk dipakai dibandingka dengan warna-warna lainnya.
Dan terakhir adalah kita wajib bersyukur kepada Allah dan di anjurkan berdoa
ketika mengenakan pakaian”.
“Begitu nak..”, kata umak dulu sambil mengelus kepala Ira.
Sekarang , kami melihat balutan jilbab sudah menghias paras
mereka yang cantik ditutupi oleh gamis panjang gemulai menawan hati setiap yang
melihatnya.
“ Assalamualaikum, nak Humaira!”
“ Waalaikumsalam, bu”,
“Mari masuk bu,silahkan duduk!
maaf bu hanya dengan keadaan seperti ini kami menyambut ibu dan
Ririn”, Ira mempersilahkan tamunya masuk
dan duduk di tikar lusuh hanya itu yang
mereka punya.
“Sebentar ya Bu, Ririn.. Ira mengambil minum dulu ke dapur”, lanjut
Ira dan bergegas bangkit dari duduknya
“ Nak, tidak usah repot-repot”, Bu Zainab meraih tangan Ira.
“Duduklah nak!”
“ Kami kemari, hanya untuk memberikan ini kepada Abdullah! Dimana
dia?” sambil menyodorkan sebuah kotak putih ke depan Humaira dan Mak Idah hanya
diam memperhatikan mereka.
“ Dimana dia?”
“Abdullah di depan bu, ia sedang asyik dengan mainan nya”.
“Ooh, biarlah, tak usah di panggilkan”.
“ Apa ini bu?”
“ Bukalah nak..”
Denga sedikit penasaran, Ira melirik kearah Umak dan Ririn, mereka
meyakinkan Ira sambil member isyarat manggut-manggut.
“Alhamdulillah.., terimakasih Bu, terimakasih Ririn”, Ira riang dan
tanpa berpikir langsung menyalam Bu Zainab.
Ternyata di dalam kotak tersebut ada sepatu baru untuk Abdullah dan
tas baru untuk Humaira. Tas baru memang keinginan Ira yang tak pernah
terwujudkan , lantaran sudah 3 tahun juga tas nya tak pernah berganti. Tas yang
dipakainya sekarang sudah jelek,bekas jahitan ada di mana-mana.
“Kenapa ibu tahu kami membutuh kan barang-barang ini?”,
“Semua Ririn yang minta,nak! Yasudah, mau tidak mau ibu turutin
kemauannya”,
“Rin?!”, wajah Ira seperti meminta alas an akan hal ini.
“ Iya, sebelumnya maaf yah, kemarin aku nyariin kamu ke kelas, tapi
kata teman-teman kamu lagi di perpustakaann ya? Terus tanpa sengaja aku melihat
buku harian kamu di atas meja belajar mu. Sebenarnya aku tak mau membuka nya
tapi entah kenapa tanganku selalu saja bergerak ingin menggapai nya. Akhirnya,
dengan terpaksa, ku buka kemudian ku baca buku mu itu. Disana kamu tulis kamu
sangat menginginkan itu, jadi aku ingin membantumu, hanya itu saja, sebagai
tanda ucapan terimakasih ku atas kebaikanmu selama ini”, Ririn tersenyum tulus
pada Ira.
“Terimakasih, terimakasih banyak Bu, Ririn..”, ucap Ira dan mak Idah
hamper bersamaan.
“ Sama-sama buk, Ira”, jawab mereka membalas.
Sudah sepantas nya kita sebagai umat muslim saling membantu saudara
kita yang membutuhkan. Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat,juga kepada
orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu
menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.Sesungguhnya orang-orang yang pemboros
itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.30
Paradoks 9
Coretan Harapan
Di tepi jalan yang sepi, di suatu senja di musim ini. Ira tuliskan
harapan-harapannya. Harapan-harapan nya itu selalu ia biarkan mengambang di depan
mata nya dan ia bawa kemana pun langkah kakinya berjalan. Musim panas
membebaskan cuaca dan kawanan insekta, berlompatan dari dahan ke dahan unggas
dengan seratus suara. Paru-paru dipenuhi aroma dan semua terasa jadi semakin
ringan. Kini kuisap angin dari kota metropolitan di tepi danau marambe yang
menawarkan diri ikut bersamanya.
Famai ya’mal mitsqoola
dzarrotin khairayyaroh, wa mai ya’mal mitsqoola syarrow yaroh.31 Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia
akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat
dzarrah pun,niscaya ia kan melihat balasannya pula.
Seminggu berlalu bak ketika seseorang di kejar-kejar orang gila,
cepat, cepat, dan semakin cepat. Bergulir mengikuti porosnya. Hari pelaksanaan ujian
nasional adalah hari ini. Para murid diharapkan sudah siap untuk mengerjakan
semua soal yang diberikan dengan jujur. Humaira , Ririn, Yusuf dan teman-teman
lainnya sudah berada di kursinya masing-masing dan mereka mulai menjawab
soal-soalnya. Dengan ucapan bismillah
mereka mulai ujian tersebut. Apapun hasilnya mungkin itulah hasil yang terbaik
yang sudah mereka persiapkan sebelumnya.
Tiga hari dilalui, Yusuf memilih untuk melanjutkan ke Pesantren
Mustafawiyah,Purba Baru untuk memperdalam ilmu pengetahuan agama nya. Sementara
Ririn memilih tidak memberitahukan kepada Ira, Yusuf dan teman lainnya. Setelah ujian hari ketiga
selesai, ia langsung masuk kedalam mobil silver yang setiap jam pulang sekolah
sudah mengantri di antara jejeran angkutan yang lain.
Di kawasan kumuh dan pedesaan , rakyat bersangatan susah
makan. Begitu sabarnya, tak bersuara, mereka selalu menantikan. Humaira ingin
merubah roda kehidupan mereka. Merubah segalanya. Memang ia masih berumur
sepucuk jagung tapi ia memiliki keberanian. Keberanian menentang nasib yang
akan begitu saja jika tidak ada perlakuan untuknya. Allah tidak akan merubah
nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.32) Ia sudah membicarakan
kepada ibu nya, mak Idah bahwa ia
ingin pergi merantau ke Jakarta. Ia ingin menyusul ayahnya, pak Habibi dan ikut
membantunya disana.
Sebenarnya berat hati sangat-sangat merasuk di jiwa mak Idah untuk
melepas buah hati kesayangannya itu. Apalagi ia adalah seorang perempuan yang
masih belia dan masih bisa dikatakan lugu. Dia belum terlalu mengenal dunia
luar yang ganas layaknya singa kelaparan
yang siap menyergap mangsanya jika sekali-kali berani melintas di depannya.
Mandailing Natal sendiri masih dikategorikan sebagai kota yang aman, masih jauh
dari kekerasan, penculikan dan lainnya. Walaupun sedikit demi sedikit sudah
merambah dan mewabah virus-virus nakal yang siap memborgol tiap orang dewasa,
remaja bahkan anak-anak kecil.
Tetapi karena keadaan mak Idah yang umurnya mulai mencapai
kepala lima. Yang sudah mulai sakit-sakitan. Tak jarang, ia batuk dan keluar
percikan darah di kulit tangannya yang mulai kering. Tetapi masih saja, ia
semangat bergelut bersama tumpukan-tumpukan kain kotor yang menginginkan
dirinya dibersihkan. Demi membiayai kedua anaknya. Tapi Humaira teramat kagum
kepada perempuan tegar yang ia sebut umak
itu. Sudah hampir 8 tahun berbaur dengan fana nya kemiskinan ia tak
pernah marah, tak pernah sekalipun ia marah kepada Humaira maupun Abdullah.
Hatinya melebihi lembut nya sutera. Jika mereka berbuat salah,ia hanya memilih
tuk menasehati tak pernah kata-kata yang bernada kasar. Bukan tak pernah tapi
sangat jarang sekali.
Humaira ingat sekali, waktu kelas empat esde Umak marah besar, wajahnya merah berkecamuk ketika
ia melihat Ira mengangkat sekarung padi dari pinggir sawah ke sebuah truk yang
sedang berhenti di tepi jalan. Ia menarik tangan Ira keras dengan butiran
airmata bergelimang di pipinya.
“Humaira,..!!”
“Umak tak pernah menyuruhmu untuk bekerja,apalagi kerja berat
seperti itu,!”
“MasyaAllah, nak!”, umak tetap mengoceh tak henti sambil mengusap
airmatanya yang belum diam. Ira juga
tak kuasa menahan tangisnya.
“Maaf mak, maaf,maaf mak, Ira terpaksa melakukan itu, lantaran uang
yang ibu kasih tak cukup untuk membayar uang buku Ira. Ira takut menyusahkan
umak, menambah beban pikiran umak”.
“Apapun itu masalah mu, nak! Sampaikan saja pada umak!,umak merasa
gagal menjadi ibu untuk kalian, nak!”, mak Idah mengingatkan.
Tapi Ira tak pernah marah kepada umaknya. Itu memang mutlak
kesalahan Ira. Itu bukti nyata kalau umak sayang sekali kepada Ira.
Disamping itu, umak tak pernah berputus asa akan nikmat Allah.
Setiap malam, ia selalu duduk bersimpuh di atas sajadah hijau pemberian ayah
waktu ulangtahun pernikahan mereka dulu.
Sederhana saja hanya sebuah sajadah yang menjadi kado yang bisa
suaminya berikan. Ia selalu sholat tahajjud dan sholat dhuha. Mengenai
keinginan Humaira ke ibukota, ia memang keras kepala tak jauh sifatnya seperti
ayahnya. Sudah sering mak Idah mengatakan tidak, tidak kamu tidak boleh pergi.
Tetapi karena Ira berusaha meyakinkan. Akhirnya, mak Idah menyetujui rencana
itu. Dengan bermodalkan beberapa rupiah uang yang ia dapat karena ia menang
lomba berpidato dalam bahasa inggris beberapa bulan yang lalu.
Humaira membuka lagi buku hariannya yang terdapat coretan
harapan-harapan nya itu. Lembar pertama ia buka, target pertama, mencari rumah
ayah dan ikut membantu ayah, ia juga masih ingin melanjutkan pendidikannya
disana. Ia tak ingin putus sekolah. Ia tak lupa membawa ijazah esde nya. Dan masih banyak nomor-nomor
yang tertulis bersama pena nya yang harus ia wujudkan. Karena banyaknya
keinginan itu tak bisa dibeberkan satu persatu lagi.
Lembar kedua ia buka lagi, Humaira memang penggemar sajak. Selain
suka membaca novel-novel. Ia juga suka menulis rangkaian kata-kata syarat makna.
Di lembar itu tertulis suatu sajak yang tulis Sati Nasution seorang guru yang
kemudian di beri gelar Willem Iskander ketika meninggalkan daerah Mandailing
untuk melanjutkan pendidikan kedua kalinya ke negeri Belanda pada tahun 1870
yang menggambarkan sebagian dari daerah ini. Ia dikenal dengan Bapak Pendidikan
Mandailing. Seperti ini sajaknya:
MANDAILING
O, Mandailing Godang,
Tano ingananku sorang,
Na niatir ni dolok na lampas,
Na nijoling ni dolok na martimbus,
Ipulna na laing bubus!
Tor Sihite
tingon julu,
Patontang dohot tor Barerang
Gurung-gurungna manompi Lubu,
Bohina mangadop tu dolok Sigantang
Muda hutalihon tu utara,
Laho manindo tu irisanya,
Jongjong Ma huida Lubuk Raya,
Asa manjoling dolok Malea
Mula hutindo tingon Bania,
Hutatap ma aek ni Batang
Gadis,
Mangelduk-elduk dalannia,
Atir homun jior marbaris
Jaru pe ia aek na rara,
Na sundut godang jaotanna,
Tombal bondar panombur saba,
Tusi ma da muarana
O na namarsaba na bolak,
Muda disabur ho sajual same,
Dapot ho ma onom pula jual
mulak,
Ho ma na garana manggadis
eme,
Na tumbur ma nian tanomu,
Tai laing tong do ho longang,
Jaru momo pe dibaen ho suan-suanon mangolu,
Inda ro halak tu ho mardagang,
Aha ma rohai tue!
Dalanna so nada rami?
Dokkon ma hubege,
Anso torag di rohanami
Ia di jae ni Batang angkola,
Taringot tu Aek Godang,
Songon na muntul ia mulak,
Baon sompit boluson tu Batang Singkuang
Muda ro siap sirumondop udan,
Magodang ma batang ni aek,
Dibaon sompit hadabuan,
Jadi tu darat doma manaek,
I ma da,dongan, dalanna,
Anso jadi bonca-bonca,
Holas na haruar tingon bagasanna,
Arun sajo do diobansa
Adong halak ruar,
Na mian di Panyabungan,
Tibu ia haruar,
Baon ia madung busungan
Inda , ale, hum I sajo,
Dalan ni jagal, ngana manjadi;
Tai adong dope dabo,
Tor Pangolat ngana tarbolus padati,
Tai jaru songon I ba,
Dengganmu sai hurang,
Nada ho huparmuda ba,
Angke dison ma huida parjolo
ari torang.
Tinggal ma ho jolo, ale,
Anta piga taon nada huboto;
Muda huida ho mulak muse,
Ulang be nian sai maoto
Laho hita marsarak,
Marsipaingot dope au di ho,
Ulang lupa paingot danak,
Manjalahi bisuk na peto.
(Tingon
Adian Bania)
Kemudian di lembaran berikutnya terdapat arti dari sajak Mandailing
tersebut dalam bahasa Indonesia.
MANDAILING
O, Mandailing Godang!
Tanah tempatku dilahirkan
Yang dikelilingi gunung yang tinggi
Asapnya terus mengepul
Gunung Sihite di hulu
Berhadapan dengan Gunung
Barerang
Punggungnya mendukung Lubu
Keningnya menghadap Gunung
Sigantang
Jika kupandang ke utara
Sambil menatap ke timur laut
Ku lihat tegak lubuk raya
Dan menjeling gunung Malea
Jika kupandang dari bania
Kulihat sungai batang gadis
Berbelok-belok alirannya
Kiri kanan juar berbaris
Biarpun ia sungai yang keruh
Besar sekali manfaatnya
Segenap salura mengairi sawah
Kesanalah muaranya
O pemilik sawah yang luas
Jika kau tabor sebakul benih
Kau peroleh enam puluh bakul
kembali
Kaulah yang paling sering menjual
padi
Sungguh subur tanahmu
Tapi kau masih saja diam
Sekalipun kau mudah membuat tanaman tumbuh
Orang tidak datang berdagang kepadamu
Apakah gerangan
Sebabnya tidak ramai
Katakan biar kudengar
Agar
jelas di hati kami
Di hilir batang angkola
Menyinggung aek godang
Seolah berbalik ia kembali
Karena sempitnya aliran ke batang Singkuang
Jika hujan turun
Sungai pun banjir
Karena sempitnya muara
Jadi kedaratlah melimpah
Itulah sebabnya
Maka banyak rawa-rawa
Uap yang keluar dari dalam
Pasti demam yang dibawa nya
Ada orang luar
Yang terdiam di Penyabung
Cepat ia keluar
Karena ia sudah busungan
Bukan hanya itu
Penyebab dagang tidak berhasil
Tapi masih ada lagi
Tor Pangolat tak dapat dilalui pedati
Tetapi sekalipun begitu
Kebaikanmu masih kurang
Kau tidak kusia-siakan
Sebab disinilah mula-mula
kulihat hari terang
Tinggallah sayang
Entah berapa tahun aku tak tahu
Jika aku melihat engkau kembali
Janganlah lagi tetap bodoh
Ketika kita berpisah
Aku masih berpesan padamu
Jangan lupa menasehati anak
Mencari ilmu yang benar
Dari Adian Bania
Merancang dan mewujudkan suatu
pendidikan yang sukses adalah keniscayaan. Tak seharusnya dunia pendidikan
hanya melakukan rutinitas tanpa progresivitas. Justru, yang harus kita lakukan
secara konsisten adalah senantiasa melakukan perubahan, inovasi dan
pengembangan terus menerus ke arah yang lebih baik. Melihat tantangan dunia
global yang berjalan dengan massif dan eskalatif. Tidak ada waktu berleha-leha,
pasif dan menunggu bola. Mental proaktif harus dikedepankan,mental progresif
harus dikembangkan, dan mental inovatif harus ditanamkan.
Azan subuh menggema
dari ujung lembah desa. Angin sejuk merombak-rombak bermain bersama udara yang
masih bersih dari polusi. Suara-suara jangkrik yang mulai menghilang berganti dengan
cerewetnya kokokan ayam jantan. Ia suka membuat kebisingan di pagi hari tapi ia
membantu insan tuk menghadap Ilahi. Setelah menunaikan sembahyang, Humaira menyandang
ranselnya dan berpamitan kepada umak nya,
mak Idah. Uarmak tidak bisa mengantar Ira ke terminal karena Abdullah masih
tidur dan umak juga lagi kurang sehat. Sebenarnya Ira sendiri tak tega
meninggalkan umak yang sedang kurang
baik tapi ini sudah keputusannya yang harus ia memiliki tanggung jawab besar
didalamnya.
Umak memberikan balutan kain yang agak kusam
yang Ira tahu betul itu adalah kantong tempat umak menyimpan receh demi receh
uang yang diterimanya dari hasil keringat yang terbuang setiap harinya.
“ Aku akan mempergunakan apa yang umak berikan ini sebaik-baiknya, Ira janji akan selalu ingat pesan
umak, Ira akan kembali nanti, mak! Doakan Ira yah, mak!”,Ira mendekap umak
kencang,air mata meleleh, ia mencium wajah umaknya yang sudah mulai keriput.
Ibunya, mak Idah hanya berpesan kepadanya untuk selalu menjaga
kehormatan diri dan jangan pernah melepaskan jilbab nya walau apapun alasannya.
Islam akan tetap menjadi identitas diri yang tak boleh di kotak-katik lagi.
“La Tahzan! Innallaha ma’ana,anakku”, balas umak memberikan doa.
Bayangan Humaira hilang
ditelan kabut pagi.
Paradoks 10
Sambutan Ibukota
Antrian panjang bus-bus memadati terminal Antar Lintas Sumatera (ALS),
bunyi klakson berdegung dimana-mana, tas-tas berat disusun di bagasi bus dan
para penumpang hulu balang disekitar area, adapula yang duduk santai sambil menonton
tv di ruang tunggu yang sekaligus sebagai tempat pengambilan karcis.
Humaira masuk kedalam bus setelah mengambil karcis, ia tidak membawa
begitu banyak barang, hanya beberapa helai baju, ijazah esde, buku hariannya dan beberapa lembar uang bersama dengan jiwa
keberanian. Dan yang tak boleh ia tinggalkan adalah mukenah beserta yang paling
penting itu Alquran. Alquran yang dibawa
nya itu adalah Alquran kecil berukuran
pocket berwarna orens. Itu
pemberian Yusuf. Tadi setelah
sembahyang, Yusuf datang hanya untuk memberikan itu dan ia hanya berkicau
sepatah kalimat
“Hati-hati di perjalanan yah! Jaga dirimu baik-baik!”.,Humaira agak
sedikit heran kepada laki-laki baik itu, dia begitu pendiam, tak banyak bicaranya,
ia sangat peduli dan sopan kepada orang lain. Mungkin setiap wanita akan jatuh
hati dengan sikapnya yang bijak dan religious
itu.Tak menutup kemungkinan Humaira mungkin jatuh hati kepada akhi Yusuf.
Setelah menunggu sekitar setengah jam, bus yang ditumpanginya
berjalan. Perjalanan ke Ibu kota negeri ini dari desanya tiga hari tiga malam.
Karena suatu hal yang sulit jika ia ingin menumpang di pesawat terbang. Itu
hanya sebuah angan belaka untuk saat ini. Dada dan lahar menyenak penuh deram,
di ujung gunung lawannya sudah menunggu.
Ia tidak tinggal seorang diri masih ada Rabb, yang senantiasa
bersama nya. Ia hanya membawa bekal tiga buah roti untuk tiga hari. Satu roti
untuk satu hari. Setengah bagian di siang hari dan setengahnya lagi di waktu
malam datang.
Jarum jam berputar
maju. Satu hari lagi, ia akan sampai di terminal Jakarta. Ia menghabiskan
waktunya di bus angkutan tersebut untuk membaca Alquran sekaligus memahami dan mencoba untuk
menghapalkannya. Kemudian ia selingi dengan membaca buku-buku yang berbau islam
yang dipinjam nya dari seorang muslimah cantik yang sangat sibuk dengan
handphone yang ada di genggamannya dan duduk disampingnya.
“Maaf kak, apa yang
sedang kakak lakukan?”
“Kakak lagi
menghapal Alquran,dek!”
“ Hah? Menghapal
Alquran kak? Tapi kok asyik sama handphone
tidak sama Alquran kak?”, Tanya Ira lugu agak kanget.
“ Zaman ini,zaman
yang canggih dek, sekarang di handphone juga sudah bisa, tinggal kita download
saja aplikasinya dek!”,
“Ooo,, iya kak,
terimakasih, maaf mengganggu kak!”, Ira menutup pembicaraan, tetapi muslimah
itu sepertinya masih ingin berbicara kepadanya.
“Ketika kita masih
belia, pikiran kita masih bersih, masih jauh dari suara kefanaan dunia ini dan
kemungkinan besar sangat banyak peluangnya untuk bisa menghapalkan Alquran. Apalagi jika
kita lihai dalam mempergunakan fasilitas yang ada saat ini.Jangan menunggu
waktu luang tapi luangkanlah waktu untuk sesuatu hal yang baik”, termasuk dalam
hal ini.
Namun, Bagaimana
membaca Alquran dapat meneguhkan dan menambah keimanan kita kepada Allah
Swt,sedangkan di dalam Alquran tidak menyebutkan wujud Allah Swt?
Ketika kita membuka lembaran-lembaran Alquran, maka hamper tidak
ditemukan ayat yang membicarakan wujud Tuhan. Bahkan, dalam buku yang Humaira
baca tadi Al-Islam wa Al-‘Aql ,Syekh
Abdul Halim Mahmud menegaskan bahwa ‘Jangankan Alquran, Kitab Taurat dan Injil
dalam bentuknya yang sekarang pun (Perjanjian Lama dan Baru) tidak menguraikan
tentang wujud Tuhan. Ini disebabkan karena wujud Tuhan tidak dapat dilihat atau
dibayangkan karena wujud bersifat material,namun hanya dapat dirasa dengan
hati. Alquran mengisyaratkan bahwa kehadiran Tuhan ada dalam diri setiap insan dan bahwa hal tersebut memang fitrah manusia.
Ketika kita duduk
sambil membaca dan memahami ayat-ayat Alquran,maka pikiran kita akan
tenang,segala masalah yang berkaitan dengan dunia pun terputus hingga
seakan-akan kita berdialog dan mendekat diri kepada Sang Khaliq. Dan dari
percakapan itu membuat kita yakin dan sadar bahwa Allah Swt itu memang benar-benar
ada, betapa lemahnya manusia di hadapan-Nya dan betapa berkuasa-Nya Dia hingga
tiada daya serta kekuataan, kecuali atas pertolongan-Nya. Lahaula walaa quwwata, illa billahil aliyyil adzim.
***
“Humaira…Humaira.. !!, bangun dek, kita sudah sampai di
terminal,Jakarta”, kakak muslimah itu menggoyang-goyangkan bahu Ira, ternyata
ia sudah tertidur pulas dan Alquran orens itu masih dalam genggamannya.
“O,iya kak!, terimakasih ya kak!”, Ira
tersentak,tangannya masih mengusap-usap dua matanya.
“Kakak, turun duluan
yah, hati-hati kamu di jalan!”
Humaira mengambil
ranselnya dan bergegas turun dari bus tersebut.
Ia mencakung, kaku dan canggung. Senja larut
dalam nisbi dunia. Di sini tak tampak sempurna datangnya matahari senja yang
dihiasi gumpalan awan kemerahan. Burung tekukur menyampaikan bunyi. Entah
bagaimana tafsirannya. Berbeda. Jika
sempat senja beranjak datang di sini, di tempat ini, berubah sudah menjadi sesuatu yang sangat memanjakan setiap
elemen mata yang memadangnya. Secara utuh, Humaira melihat gedung-gedung
pencakar langit, air mancur yang menyembur-nyembur, muncrat dari bawah ke atas angkutan dari level yang paling minimum
sampai maksimum ada disini, ada di tempat ini. “ Tempat apa ini?”,
Ribuan angin hanya
lewat sepintas, melewati Ira begitu saja. Ribuan makhluk hanya diam menatapnya,
hirauan? Tak ada yang ia dapat. Individualis. Suara- suara bathinnya semakin
meraung,menghiba kepada-Nya.
“Ketahuilah wahai ibukota, aku adalah orang asing untukmu,
aku tak mengerti apa-apa tentangmu, aku
tak tahu itu, maka jelaskanlah kepadaku, apa-apa yang tak ku ketahui tentangmu”,
ditulisnya dalam buku hariannya. Belajar menerima semuanya. Ini lebih
mengerikan daripada ngauman si raja hutan. Lebih mengeram dibandingkan yang ku
khayalkan dulu, waktu aku menetap di desa. Sekarang aku singgah di sini, di
tempat ini.
“Ayah? Ayah? Ayah
dimana??”, Ira pasrah, foto ayah yang duduk bersamanya di gubuk kecil,tepi
sawah hanya itu yang ia punya saat ini.
Ira merasakan
kegelapan tiba-tiba menguras pikirannya. Harus kemana langkah terlebih dahulu menapaki daratan asing ini. Harus
kemana pula tangan mengayun. Harus kah hanya mengikuti arus insting semu yang
bersembunyi seorang diri dibalik kesunyian malam.
Mau tidak mau kaki harus tetap menyusuri duri itu.
“rgghaggggrjhrgdh…..lapar-lapar-lapar!!!”,
cacing-cacing sedang melakukan demonstrasi massal di perut Ira.
“he..he… he…,
cacing-cacing diperut, curi semua nutrisi! Tapi tak perlu takutt…”, ia
tersenyum geli mendengar suara perutnya sendiri.
“ Yang sabar ya perut yang manisss.. ayo
kita membeli makanan”,di suasana yang seperti itu,ia masih saja bisa bercanda.
“Etek33, beli nasi nya tek?”
“Berapa neng?”
“Berapa neng?”
“Satu saja lah, tek!”
“Lauk nya
neng?”,
“Tempe aja, tek!”
“Lima ribu yah!”, kata etek jual nasi
tersebut.
“Ini tek!”, Humaira
memberikan uang bercorak Pattimura yang gagah dengan pedangnya sebanyak lima
lembar.
Kebutulan warung tersebut
warung masakan Mandailing.
Humaira meninggalkan warung tersebut dan ia berjalan menyeberagi
jalan karena ia melihat di seberang jalan ada taman kecil dan ada sebuah bangku
panjang disana.
“Lalalala…lalala… Akhirnya Ira bisa makan!”,nyanyi nya kegirangan
sambil melintasi jalan. “BRUKKKKKKKKKKK!!!!!!…………..”, suara yang sangat keras
tiba-tiba terdengar.
Nasi bungkus yang dipegangnya oleh tangan kirinya berhamburan
di angkasa bersama dengan suasana senang hatinya yang seketika berubah menjadi
luka.
“Sszsssszzzzzzzzzzzzzz!!!!!........”, mobil truk yang menabrak gadis
kecil itu langsung malarikan diri, melaju dengan kecepatan tinggi. Tragis
memang manusia jaman sekarang. Tak
sedikit yang tak bertanggung jawab atas perbuatannya.
“Siapa itu? Siapa
itu, ada apa?”, Tanya orang-orang sekitar tekape
Gemuruh suara memecahkan kemewahan gemerlap
malam. Dengan cepat kerumunan orang
melingkar melihat Humaira. Tubuhnya terbujur di atas aspal merah, lumuran darah
merubah warnanya. Sambutan Ibukota yang tak berperasaan.
Darah bersih
mengalir deras dari kening dan hidung Ira. Karena tubuhnya yang memiliki berat
sekitar 30 kg membuatnya terpelanting ke udara saat kejadian. Namun, Alquran
orens itu tetap tergenggam di tangan kanannya. Sekitar sepuluh menit berlalu,
masih tak ada tanda-tanda warga ingin membawanya ke rumah sakit. Mungkin mereka
takut dituduh sebagai tersangka dan masuk kedalam jerat jeruji besi. Mungkin!
“Angkat gadis kecil
itu ke mobil saya”!, bapak berbadan tegap dan kekar membuka mulut.
“Baik pak!”, balas
orang-orang ketakutan.
Bapak tersebut menancap
gas dan membawa Ira ke rumah sakit terdekat.
“Dokter…! Dokter..!
ada korban tabrak lari.. , bantu saya, bantu saya!!”, teriak si bapak tubuh
kekar itu merintih. Ia sangat panik karena dari tadi, darah dari kening gadis
itu tak hentinya bercucuran bersama dengan airmata yang menahan sakit.
Dengan cepat bantuan
pun datang. Dan membawa gadis itu keruang UGD ( Unit Gawat Darurat). Bapak
tersebut tetap mengikuti darimana kemanapun roda tandu itu berputar.
“Maaf pak, bapak
tidak boleh masuk! Bapak menunggu disini saja”, ia mengarahkan ke tempat duduk.
Entah kenapa? Walaupun gadis tersebut tak dikenalnya tapi ia sangat khawatir
kepada nya.
Beberapa menit
kemudian, Ira sudah terbaring lemas di atas kasur berseprei biru muda dengan
satu suntikan disalah satu tangannya untuk media masuknya cairan dari kantong
infus. Dia di opname dan mungkin akan dirawat inap disana untuk beberapa hari.
Karena dokter mengatakan ia kekurangan banyak darah dan tangan kirinya patah.
Sampai saat ini, ia masih tak sadarkan diri. Itu akibat terlalu lama gadis itu
dibawa untuk segera ditangani para medis.
“Bagaimana keadaan
gadis itu, dokter?”,
“Ia membutuhkan donor darah,pak!”,
“Ambil darah saya
saja, golongan darah saya A,dok?”
“Golongan darah
gadis itu AB,kebetulan pasokan darah AB rumah sakit ini sedang habis , pak!”
“Bagaimana ini,
dok?”
“ Jika sampai 1x24 jam ke depan kita tak mendapatkan darah AB,
saya khawatir keadaannya semakin parah,pak!”, gelisah dokter.
“kami akan mencoba
menghubungi beberapa rumah sakit, pak!”
“ iya pak, saya tunggu kabar baik dari pihak rumah sakit ini!,
terimakasih, dokter!”.
“Kalau hanya menunggu pihak rumah sakit keadaannya semakin parah
nanti!”, terdengar suara hati Bapak bertubuh kekar. Kemudian bapak tersebut
mengambil sesuatu dari saku nya, dan sepertinya ia mencoba mencari-cari nomor
ponsel seseorang.
“Haloo, Assalamualaikum, Ma!”
“ Iya,pa! Waalaikumsalam,ada
apa? Papa kenapa belum pulang? Udah larut malam ini,pa”,jawab seseorang dari
seberang sana.
“Iya ma, papa
sebentar lagi pulang tapi sekarang papa lagi di rumah sakit, ma!”
“Apa,pa? di rumah
sakit? Papa sakit apa? Mama langsung nyusul kesana ya, papa sms-in alamatnya!”,
isteri bapak tubuh kekar itu takut terjadi sesuatu dengan suaminya.
“Iya, Ma!”,mengakhiri
pembicaraan.
Isteri dari Bapak bertubuh kekar tersebut bersama anak perempuanya
setengah jam kemudian datang ke rumah sakit “Kasih Bunda”. Ternyata ia melihat
suaminya itu baik-baik saja.
“Jadi siapa yang
sakit, pa? Tanya isterinya heran.
“ Seorang gadis
kecil, korban tabrak lari, ma!”
“He to the low!! Hellow…”, dengan gaya
yang agak centil, anak perempuan mereka menengahi percakapan.
“ Jadi ma, kita kesini Cuma buat hal yang enggak penting ini,buang-buang waktu banget,ma”.
“ Iya pa, lebih
baik tadi mama langsung tidur lagi”, isterinya menimpali.
“ Apa salah nya sih kita membantu gadis itu, dia sedang
membutuhkan donor darah AB, ma!”
“ So, papa minta mama untuk donorin darah
sama gadis yang kita tidak ketahui asal-usulnya itu?”
“Iya ma, mama mau kan?”
“ enggak ah, kayak gak ada orang lain
aja..”
“ Papa minta tolong
sekali sama mama, pasokan darah AB beberapa rumah sakit sedang habis ma, dokter
baru memberitahu tadi, nanti papa
beliin berlian buat mama”
“Janji ya pa,
yasudah!,”
“Kapan?”,Tanya
isterinya itu.
“ Besok saja ma, kalau sekarang dokter nya sudah
pulang”.
Bapak bertubuh tegap
dan kekar itu adalah kepala di polsek setempat. Mahdi begitu ia disebut para
anggotanya. Pak Mahdi adalah orang yang sangat baik sekali. Ia memiliki seorang
isteri yang cerewet tapi sebenarnya baik kalau kita memberikan apa yang ia
inginkan. Dan seorang putri yang sifatnya tak jauh dari ibunya itu. Mereka
warga asli Jakarta. Lingkungan yang membentuk karakter mereka dengan penuh
kemewahan, bahasa-bahasa yang mereka gunakan juga bahasa gaul tren masa kini.
Pak Mahdi masih
tetap di Rumah Sakit menemani Ira, si gadis kecil yang malang. Jarang bisa di
temukan seseorang yang begitu ikhlas seperti
pak Mahdi. Entah terbuat dari apa hati bapak bertubuh kekar tersebut. Sementara
isteri dan anaknya pulang ke rumah. Dan tak ada keinginan sedikit pun tercuil
di hati mereka untuk bersama suami nya di rumah sakit.
Paradoks 11
Bunda Sinar
Matanya masih terpejam sayu, jari-jari
tangannya dingin dan penutup hidung nya
, penambah oksigen untuk ia bernafas masih kembang kempis. Badan nya
juga masih hangat. Namun sel-sel syarafnya masih bisa berproses,masih bisa
mendengar suara-suara dari luar. Otaknya berfungsi dengan baik memompa oksigen
ke seluruh tubuhnya. Di alam bawah sadar nya, memori nya jauh menerawang di
alam bawah sadar nya. Sebuah cahaya, seberkas sinar dan secerca kebahagiaan
datang dari raut muka makhluk imut
itu, ia berkerudung putih yang panjang dan memakai jubah putih yang panjang
pula dan memakai mahkota yang teramat indahnya melingkar di atas kepala
bulatnya.
Tapi ia sama sekali
tak membawa tongkat kecil dengan bintang emas di bagian ujungnya di tangan kanannya.
Seperti sailormoon, sang pembasmi kejahatan seperti yang di tokoh-tokoh kartun.
Atau pula yang membantu seseorang yang ia anggap majikannya yang sedang
kesusahan. Ia hanya duduk menatap nya terbang melayang-layang mengelilingi
tubuhnya. Ira pun ikut berputar-putar mengikuti gerak gerik makhluk itu.
Heran. Bingung.
Menyelinap di ketidaktahuannya. Ia membawa Alquran kecil berwarna putih persis
seperti Alquran yang dimiliki Ira di tangan kanannya. Mungkinkah ia malaikat?
Ahh,, rasanya tak mungkin. Lalu siapa dia?
Tanpa Ira bertanya
langsung ia mungkin sudah memiliki keinginan sendiri untuk memperkenalkan
dirinya.
“Assalamualaikum
gadis kecil..”
“ Walaikumsalam bu”,
jawabnya masih bingung.
“ Aku adalah seorang
bidadari yang Allah kirim untuk menasehati dan mengarahkanmu..”
“ Apa, bu?”, Ira
semakin bingung.
“ Ia, gadis kecil, aku
akan selalu ada bersama mu, menemanimu disini!”
“ Apa aku sedang bermimpi??”Gumamnya. Ira mencubit tangannya
keras. Tetapi ia sangat kesakitan. Ira berlari ketakutan.
“ Jangan lari, nak!,
aku orang baik”,makhluk itu berteriak memanggil. Dan melayang mengikuti Ira.
“ Ira capek, Ira capek, jangan kejar-kejar Ira, bu”,
“ Ya sudah, istirahat lah nak”.
Makhluk itu pun semakin mendekati Ira, ia
tersenyum melayang di depan mata Ira. Ira sudah tidak bisa berlari lagi,
tubuhnya sudah lemah. Tak ada lagi kekuatan yang ia miliki.
“Gadis kecil,
yakinlah aku ini orang baik, tidak ada maksud jahatku untukmu”,ulangnya lagi.
“ Apa benar engkau
di kirimkan Allah untuk ku?”,
“ Ya, itu benar,
gadis kecil. Kamu cerdas sekali seperti ibu mu”.
“Umak?”, tiba si
gadis kecil, Ira teringat akan sosok mak Idah.
“Kamu disini hidup sendirian, tak ada yang kau kenal maupun mengenalimu!
Kamu kemari, mau mencari ayahmu bukan?”
“ Iya, mengapa ibu
bisa tahu?”
“ Dan kamu tidak
mengetahui dimana ia sekarang bukan?”, di tanya nya lagi.
“Iya!”, Ira hanya
mengangguk dengan suara lemah.
“Aku akan menjadi
ibu kedua mu, disini. Kamu mau?”
“…….”, gadis kecil itu diam seribu bahasa.
“ Aku hanya akan
mengingatkan mu , jika kau salah! Aku yang akan menyemangatimu jika kau sedih!,
aku akan datang di waktu bahagia dan duka mu, anakku!, aku yang akan
menasehatimu dengan kalamullah yang terjilid
rapi dalam Alquran, itu sebabnya aku akan selalu membawa Alquran ini di
genggaman tangan kananku”.
“Apakah aku harus
percaya padamu,bu?”
“Semua tergantung
pada dirimu, keputusan ada padamu”,
“Tetapi bagaimana
pun itu keputusanmu, aku akan ada bersamamu, sampai kau tak membutuhkanku
lagi”,
“Hatiku, mengatakan
kamu orang yang baik, bu!, aku percaya padamu, bombing aku dalam ketidak
tahuanku”,
“ Panggil aku bunda
Sinar, gadis kecil”
“ Baik, bu!”
“ Bunda Sinar”, ia
menutup mulut gadis kecil itu dengan jari telunjuknya, pertanda ia tak ingin
dipanggil ibu lagi.
“ Namaku Humaira,
Bunda Sinar”, jawab nya riang.
“Nama yang bagus!
Ibu mu tak salah memberikanmu nama itu. Pipi mu kemerah-merahan bak Aisyah,
isteri termuda Rosulullah Saw”.
“ Terimakasih, bunda
”.
Paradoks 12
Mujahid/mujahidah Islam
Gerimis air mata sedu sedan seakan-seakan bumi Allah ikut merasakan
apa yang dirasakan oleh si gadis kecil, Humaira . Simaklah, bunyinya semakin
bergemuruh. Malaikat telah mencatat segala macam indeks yang di alami gadis
malang itu. Matahari yang biasanya akan naik sepenggalahan pada jam 09.00
menandakan waktu dhuha sudah ada , tak tampak hari ini. Jum’at , hari terbaik
dari hari lainnya. Hari yang tepat untuk melantunkan sholawat kepada Baginda
Rosulullah. Hari yang ada padanya suatu waktu Allah akan mengabulkan do’a-do’a
yang dilantunkan hambaNya untukNya. Waktu Ashar adalah waktu yang baik itu.
Selain itu adalah do’a yang menghampiri Allah ketika hambanya sedang bersujud,
tersungkur berserah diri,merendah hati kepadaNya dan juga dikala sepertiga
malam yang mulia.Mendung.Mentari tak menyapa hari ini.
Humaira masih meruyak tak tersembuhkan sebelum pendonor ikhlas mentransfer darahnya.Pak Mahdi baru saja
terbangun dari tidur pulasnya. Dan ternyata di depan pintu ruang rawat Ira
sudah menunggu isteri beserta anaknya.
“Ternyata mama menepati janjinya. Syukurlah!”, sambut hati pak Mahdi
gembira.
Proses transfer darah pun dilakukan. Dan tak selang beberapa jam
kemudian, jari-jari tangan gadis itu menyapa. Rona kegembiraan semakin
menjadi-jadi di wajah pak Mahdi dan keluarganya. Alhamdulillah, ia sudah sadar.
“Siapa namamu nak?”,
“Humaira, pak!
Keluarga bapak yang menolong saya? Terimakasih banyak pak, buk dan kak!”, ia
mengabsen orang-orang baik yang ada disekelilingnya dengan sopan,suaranya
pelan.
Butuh dua hari lagi menunggu keadaannya membaik.
Humaira sudah ikhlas dengan tangan kirinya yang patah. Masalah biaya rawat di
rumah sakit sudah di tanggung oleh rumah sakit. Karena ia hanya korban.
Sementara tentang siapa yang menabraknya beberapa hari lalu sudah di
serahkannya kepada pak Mahdi selaku polsek setempat, biarlah Allah yang
membalasnya, mudah-mudahan Allah memaafkan dosanya.
Dua hari surut, ia
sudah diperbolehkan meninggalkan tempat tidur bersprei biru itu, setiap orang
tak ada keinginan untuk tubuhnya berdempetan dengan kulitnya. Siapa yang ingin
penyakit singgah di tubuhnya? Tak ada. Ia menolak tawaran keluarga pak Mahdi
untuk ikut tinggal dirumah mereka karena sepertinya isteri dan anak perempuan
pak Mahdi tersebut tak senang melihatnya. Humaira, tak apa!.
07.00 Di sandang nya
lagi ransel nya itu dengan tetap menggenggam Alquran orens di tangan kanannya.
Ia telusuri tepi jalan tol,harapannya belum pudar untuk mencari sosok ayah yang
ia rindukan. Ayah yang datang untuk menggopohnya dengan sepeda motor butut ke
puskesmas ketika ia sakit. Seorang ayah yang sabar dan telaten mengajarinya
mengayuh sepeda angin dengan dua roda bantu. Sepeda angin berwarna merah dengan
stiker upin-ipin yang dia sukai. Ayah yang membelikannya boneka Barbie pink ketika ia merengek-rengek
karena umak tak mau membeli itu
untuknya. Ayah yang memandikannya ketika umak
sibuk dengan segala pekerjaan dapur. Ayah ??
Makhluk kecil yang
imut dan berpakaian serba putih datang tiba-tiba. Humaira hampir lupa dengan
mimpinya itu. Ia mengira itu hanya bunga tidur belaka. Tapi , hari ini, ia
hadir tepat di depan kening Ira.
“MasyaAllah, bunda Sinar, apakah itu kau?”,
“ Ya, ini aku Humaira, sedang apa bunda disitu?, nanti orang-orang
lihat bunda?”
“ Tenang saja Humaira hanya kau yang dapat melihat bunda”.
“Bunda… Ira rindu ayah. Ira ingin bertemu dengan ayah!”, ia mengadu
kesedihannya.
“ Iya Ira, Bunda tahu hal itu,nak!”
Bunda membuka Alquran putih nya dan menyampaikan untaian firmanNya Innallaaha ma’as sobiriin, sesungguhnya
Allah bersama dengan orang-orang yang sabar. Dan sebuah hadist man
sobaro zhopiro.Barang siapa yang sabar akan meraih kesuksesan.
“Sabar Ra, cepat atau lambat kau akan bertemu dengan ayahmu”, ucap
bunda tenang dan pergi meninggalkannya.
Panas nya terik
matahari hampir melepuhkan kulit siapa pun yang berada dibawah naungannya.
Syukurlah, Ira memakai baju lengan panjang. Matahari berada tepat di atas
kepala membentuk bayangan hitam yang utuh. Sangat nikmat mungkin jikalau
kerongkongan dilewati semacam cendol dengan satu sendok es batu bercampur
dengannya. Berrrrrr!!! Segarrr!. Ahh,, Ira sampai ingin ngences membayangkan itu.
“Harus hemat, Ra!”,
ia mengingatkan dirinya sendiri.
Entah kenapa
jejaknya berhenti di depan sebuah mesjid yang dilapisi cat hijau yang
memancarkan kedamaian . Kaligrafi-kaligrafi terukir indah mengelilingi
dinding-dinding mesjid. Walau tak semegah mesjid Istiqlal yang sering Ira lihat
di siaran Tvri dalam acara sholat
jum’at. Ira suka menonton acara tersebut karena presiden , wakil presiden,
menteri agama dan pemuka agama lainnya sering sholat disana.
Dan suatu saat nanti, Ira juga ingin sekali bersungkur, bermunajat
kepadaNya disana,salah satu mesjid terbesar di Indonesia. Tapi keinginan
pertama nya tetap sama seperti cita-citanya dengan umaknya, tersungkur, merendahkan hati di masjidil haram dan mencium
kakbah yang ditutup oleh kiswah suci berwarna hitam.
Mungkin Allah mamanggil Ira untuk segera menghadapkan diri
kepadaNya. “ Ira rindu sama Allah, sudah beberapa hari ini tak singgah ke bait-Nya!”. Sesungguhnya pada suatu tempat Allah sangat mencintai mesjid-mesjidnya
maka kunjungilah mesjid itu dan Ia benci dengan pasar-pasarnya.
Ternyata waktu zuhur sudah tiba.
Akhirnya , Humaira memilih untuk sholat dulu di mesjid itu sekaligus
beristirahat disana.
Selang satu jam, ia
kembali lagi berjalan. Ia mencoba mencari ayahnya dengan meyodorkan kertas foto
yang sudah usang berbentuk persegi panjang model landscape pada setiap orang yang ia jumpai. Tapi sudah banyak orang
yang jumpai tak satupun yang mengenalnya.
“ Apa wajah ayah
sudah sedikit berubah?, dulu wajahnya yang bersih tanpa kumis ataupun jenggot
kini sudah di penuhi kumis, jenggot bahkan jambang yang tumbuh liar mengikuti
bentuk wajah ayah?, Ahh!! Rasanya tak mungkin!, ayah Ira orang nya bersih,
pasti satu kali satu minggu ia sempatkan untuk mencukur itu”, ia berbicara
sendiri.
Bintang sudah mulai
menampakkan diri kepada malam ditemani bulan
ia datang dengan kasih sayang. Humaira membuka balutan kantong kusam
yang diberi umaknya. Ia membagi-bagi
dan mengalikan angka-angka nominal uang dengan hari-hari yang akan dilaluinya.
Untuk mengantisipasi, malam ini ia menawarkan diri untuk mencuci mangkok-mangkok
kotor yang sudah tersusun bertingkat di sebuah tempat penjualan bakso. Walaupun
hanya dengan menggunakan tangan kanan, ia tetap berusaha membersihkan mangkok
itu. Mungkin, karena malam ini malam minggu itu sebabnya banyak pelanggan nya
yang didominasi oleh kalangan remaja perempuan maupun laki-laki mencicipi baksa
uwak Rusdi untuk menghabiskan waktu malam mereka. Ira
tak meminta apa-apa dari pekerjaan itu. Ia hanya meminta untuk diberi sepiring nasi
untuk mengganjal kekosongan yang melanda perutnya. Hanya itu saja.
“Kerjaan Ira sudah
selesai uwak,Ira pergi dulu,,”
“Heyyy… tunggu dulu
, nak”, uwak menarik tangan Ira.
“Ini untukmu...”,
uwak memberikan satu bungkus bakso beserta satu helai uang sepuluh ribuan.
“ Jika kamu masih
berkenan, datang lah kemari setiap malam!, uwak hanya buka setiap malam saja,
uwak dengan senang hati menyambutmu, nak!”.
“ InsyaAllah wak, terimakasih untuk semuanya”.
Humaira pergi meninggalkan
uwak bakso dan mencari tempatnya untuk memakan bakso tersebut. Ia duduk
bersandar di depan toko buku yang berada di tepi jalan raya bersama-sama dengan
beberapa orang yang sudah tertidur nyenyak terbawa mengalun bersama mimpinya.
Ia terlelap di atas lapisan koran-koran.Mungkin sebentar lagi Ira juga akan
mengikuti tindakan mereka. Itu memang betul. Sesaat setelah ia melalap bakso uwak Rusdi yang rasanya mantap di mulut
tak kalah dengan bakso-bakso di Mandailing. Ia langsung mengeluarkan sehelai
kain, bau badan umak nya masih melekat
di kain itu karena kain tersebut adalah selimut yang menutup badannya setiap
malam.
Malam ini, ia dekat
sekali dengan bumi dan terlelap di bawah naungan dengan beratapkan langit
secara langsung. Mata nya perlahan terpejam. Ia sangat kelelahan melalui warna
hidup hari ini. Dari kejauhan terlihat bunda Sinar semakin mendekat. Ia
mengawasi Humaira dari kejauhan.
Bunda
mengelus-elus kepala Ira yang masih
ditutupi jilbab putihnya. Nasehat bunda Sinar untukmu hari ini Ira, Man
saaro a’laddar bi washola. Orang yang menempuh jalan yang benar akan sampai
ke tujuan. Jangan pernah putus asa singgah di hatimu,nak! Jika itu jalan yang
benar , konsisten, jangan berubah lagi sampai kau dapat apa yang kau inginkan.
Tapi jika itu jalan yang salah, jangan pertahanan ia. Menjauhlah,nak! Buang
saja, jangan hiraukan. Sekarang
tidurlah, semoga besok harimu lebih baik.
“ Bangun, bangunn….!!! Pergilah nak, hari sudah siang! Saya ingin
membuka toko saya”, seorang ibu-ibu yang berbody
gendut, wajah nya tembem dan matanya sipit membangunkan Ira.
“Iya bu, terimakasih bu”, Ira langsung berdiri bangkit dari
tidurnya. Ia lihat sekelilingnya tak ada satu orang pun lagi, mungkin mereka
sudah pergi dari tadi dan tak berniat membangunkannya.
Ia lagi dan lagi bertanya kesana kemari tentang ayah nya, pak
Habibi. Lagi dan lagi ia tak menemukannya. Memang susah mencari orang di
Jakarta yang luas nya sebenarnyan Ira sendiri tak tau, yang jelas besar sekali bagian dari pulau Jawa.
Ada Jakarta bagian barat, selatan dan juga timur.
“Jakarta bagian
barat daya, ada tidak yah? He.. he.. he..he ”, ia menghibur diri.
Tanpa sadar, nikmat alam tak akan habis sampai akhir perjalanan ini.
Jauh disana pandangan Ira menerobos ke seberang jalan melewati hilir mudik
benda mati tetap bergerak mengisi kepadatan kota ini. Mereka bermain dan
terseyum bahagia disana.Ia semakin penasaran akan apa yang mereka kerjakan
disana.
Humaira berlari kecil menuju tempat tersebut. Tetapi , ia takut. Ia
hanya menatap mereka dari balik tembok besar yang memiliki fungsi ganda selain
untuk menopang jembatan layang juga sebagai tempat anak-anak jalanan
belajar,bermain dan merajut sulaman asa yang tak mungkin mereka biarkan begitu
saja di timbun segala macam kekurangan yang melemahkan mereka.
Seorang laki-laki kecil, ia mengingatkan Ira pada Abdullah, sedang
apa ia disana?, ia datang mendekati Humaira.
“ Ayo kak? Ikut bersama kami disana..”, ia menarik tangan Ira
perlahan.
Ira hanya diam dan mengikut.
“ Mari ucapkan salam kepada kakak berjilbab putih itu, adek-adek!!”,
perintah kakak muslimah yang pernah berjumpa dengannya di bus, dulu ia duduk
disampingku. Tak pernah ia sangka bisa berjumpa lagi dengan kakak muslimah itu.
“Assalamualaikum kakak”, sorak mereka semangat.
“Waalaikumsalam, adek-adek!!”,jawab Ira Semangat pula tapi hamper ia
meneteskan airmata. Mereka begitu bahagia.
Harus nya Ira yang lebih
memperbanyak bersyukur.
“Bersyukur Ira, bersyukur!”, teriaknya memarahi jiwanya.
“Yang mereka rasakan tak sebanding dengan apa yang ku rasakan. Tak sebanding
sama sekali,Ra”.
“Kau masih bisa mengenyam pendidikan dasar, sementara mereka jangankan
pendidikan dasar untuk mengecap rasa ayam panggang saja jarang,tahu dan tempe
merupakan makanan kesukaan mereka dan untuk itu juga harus mengaisnya sendiri dengan
beragam cara. Mereka semua yatim piatu, tak lagi memiliki kesempatan mendapat
kasih sayang ayah dan ibu bahkan ada diantara mereka yang sudah tak dianggap
anak lagi. Itu semua karena beberapa kekurangan yang hinggap di tubuh mereka
sehingga mereka di telantarkan. Tetapi
hakikat yatim bukanlah mereka yang ditinggal mati ayahnya, tetapi yatim adalah
mereka yang tidak memiliki ilmu dan akhlak.
Ada yang hanya memiliki satu kaki, satu tangan saja, ada pula yang
mempunyai mata, tapi tak bisa melihat segala kemewahan yang ditawarkan dunia
dengan segala kekejamannya masing-masing ataupun telinganya yang tak bisa
mendengar suara-suara rayuan dunia ini”. Tapi mereka mempunyai Semangat yang
sungguh luar biasa. Tak pernah mereka anggap semua itu suatu yang mengerikan
namun beranggapan semuanya suatu permainan yang menyenangkan hati. Mereka masih
gerombolan anak-anak delapan hingga sepuluh tahun.
Ira teringat Gurindam Dua (kesatu), bapak Taufik Ismail, seperti ini
liriknya:
Ada 100 orang termat kaya
betapa boros di negeri ini
Najisnya berlian berlumuran
mengalir tiap hari
Ada 100 juta orang miskin
luarbiasa di negeri saya
Minum mimpi,makan
angan-angan, sudah sangat lama
“Adek-adek!! nama kakak ini
kak Humaira”, kakak muslimah itu merangkul bahu ira sambil tersenyum
memperkenalkan Ira.Kakak muslimah masih ingat namanya.
“Ayo.. kita minta kak Humaira untuk bernyanyi,menghibur kita
semua!!”
“Nyanyii… nyanyii.. nyanyiii…”, sorak mereka dengan tepuk tangan
yang keras.
“Kakak tak begitu pandai bernyanyi adek-adek,kalian saja yang
menyanyi untuk kakak yah?”, bujuk Ira mengelak.
“Enggak mau kak!! Nyanyi, nyanyii, nyanyiii,,..”, sorak mereka lagi
penuh antusias.
Humaira tak bisa lagi menolak, ia pinjam salah satu gitar kecil yang
dimiliki anak kecil yang mirip dengan Abdullah tadi seperti benda yang dimiliki
penyanyi cilik, Tegar yang tenar lewat kelihaian nya menjadi pengamen jalanan.
Ia ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka.
“Kakak mulai yah.. tapi jangan ribut, okehhh??”, pintanya senang.
“ Liujarihim, qoldat tu zohiru ma fihim, fabadautu syakhsan akhaar, kai atafaa khar”,
“Wa zonan tu ana, anni bizalika huztu ghina,
fawajad tu anni kha-sir fatilka mazohir”,
“La la , la nahtajul ma la, kai nazdada jama
la, jauharna huna , fi qalbi ta lala”,
“La ,la nurdhin nasi bima la, nardhohu la na
ha la,za ka jamaluna, yasmu yata’ala”,
“Ayo semua nya adek-adek,sama-sama nyanyi!!”, ia bersorak sambil
mengangkat tangan dan mengayunkannya ke kanan dan ke kiri. Gerakannya pun di
ikuti adik-adik itu, mereka bernyanyi
riang bersama.
Ternyata mereka hafal lagu
tersebut. Nama kakak muslimah itu adalah Mimi Nazrina. Ira belum sempat
menanyakan nama nya kemarin sewaktu di bus. Mungkin kak Mimi yang mengajarkan
mereka lagu ini. Ira suka sekali lagu ini. Kun anta-Humood AlKudher. Melodi
yang riang membangkitkan semangat hati yang sendu untuk tetap menjadi diri
sendiri dan jangan pernah mencoba menjadi orang lain.
“Oh wo oh.., oh wo oohh……,
“Oh wo oh.., oh wo oohh……”
“Oh
wo oh.., oh wo oohh……”
“Kun anta tazdada jamala…”
“Yeiiiiii….”, tepukan riang pun bergemuruh memeriahkan tempat yang
beratap tembok beton kokoh itu.
Kak Mimi adalah seorang sukarelawan. Ia sangat menyukai anak-anak
apalagi jika mereka memiliki semangat hidup yang tinggi. Makin bertambah
keinginannya untuk selalu bersama-sama dengan mereka sepanjang hari. Tetapi itu
tak mungkin, kak Mimi masih berstatus sebagai mahasiswa di UIN Jakarta. Ia
hanya dua kali seminggu berkunjung ke kolong
jembatan untuk menghibur sekaligus mengajari membaca, menulis dan
mengaji puluhan anak-anak kecil yang
terkumpul dalam satu ukhuawah yang ia beri nama “MUJAHID/MUJAHIDAH ISLAM”. Bagi
nya para anak kecil itu adalah seorang pejuang yang berkibrah di jalan Allah.
Dosa-dosa mereka belum dibebankan kepada mereka seutuhnya. Humaira juga sangat
ingin sekali ikut berbagi ilmu kepada mereka. Hari ini, menghabiskan waktu
bersama mereka. Ia ikut mengamen dengan Amir, cowok kecil tampan mirip
Abdullah, adiknya. Kak Mimi pamit untuk pulang karena ia ada jadwal kampus sore
ini.
“Kakak yakin mau ikut sama Amir?”, Amir memastikan Ira.
“Ia, Amir. Kakak yakin seratus persen, eh! untuk Amir seribu persen saja
biar yang seratus persen nya dapat. Kalau kita punya mimpi itu jangan
setengah-setengah adek, harus yakin, kita pasti bisa meraihnya, takhlukkan
dunia”, jawab nya menyemangati.
“Oh,ia!! Amir punya mimpi kan? Boleh kakak tau apa itu”, Tanya nya
menimpali.
“Amir ingin jadi ustazd kak tapi tetap bawa gitar kak! Keren kan
kak?”,
“Ia dekk!! Tapi kenapa harus bawa gitar?”
“Amir juga ingin mengembangkan bakat Amir. Jadi nanti sambil
berdakwah bisa menghibur jama’ah juga kak!!”, bangga sekali ia mengutarakan
mimpinya itu.
“Wahh… MasyaAllah , adik, citamu mulia, Semangatt terus adik kakak,
!!”, Ira mendekap tubuh Amir yang kurus dengan penuh haru.
“Umur Amir sekarang berapa?”
“sepuluh tahun kak”
“Lima belas tahun lagi, kakak udah harus lihat Amir berceramah di
mimbar khutbah,
sambil pakai gitar juga ya! Janji?”, mereka menyatukan kedua
kelingking mereka. Tanda menyetujui hal itu.
Mereka pun berjalan menyusuri sepanjang tol jika lampu merah
terpampang hampir di setiap persimpangan. Anak-anak akan berlarian mendekati
para pengendara. Ada yang menawarkan koran, air minum maupun makanan-makanan
ringan dan Amir beserta Ira mengamen, sebenarnya kata mengamen itu tak cukup
bagus di ucapkan lebih baik diartikan ke menghibur dan jika ia terhibur ia
berikan segocek rupiah yang dimilikinya dengan ikhlas.
Hari ini ada yang sedikit berbeda, Ira menyanyikan lagu-lagu islami
dan Amir mengiringi denga harmoni merdu petikan gitarnya.
Sesekali Ira mencoba untuk memperdengarka hafalan surah-surah pendek
nya kepada para pengendara yang mereka temui. Alhasil, mereka lebih berantusias
akan itu walaupun ada juga sebagian kecil yang tak memperdulikan. Mungkin
mereka berpikir, jarang sekali anak jalanan bisa menghafal Alquran seperti Ira.
Sebenarnya, anak-anak kecil tersebut masih bisa diarahkan untuk
menghafal Alquran tentunya setelah mereka bisa dengan lancar membaca Alquran. Alah bisa karena biasa. Seharusnya ada suatu waktu yang di khususkan misalnya ketika waktu maghrib tiba mereka di
kumpulkan di mesjid untuk sholat berjamaah dan dilanjutkan belajar mengaji.
Jika di ajar dengan lemah lembut mereka pasti masih menurut. Untuk mengatasi
ini tak dapat hanya dilakukan sendiri harus dengan peran aktif masyarakat dan pemerintahan itu sendiri. Jika hanya satu lidi, ia sangat mudah di patahkan. Tapi jika lidi-lidi
tersebut disatukan dalam satu ikatan akan sangat sulit mematahkannya.
Semuanya perlu kerja sama dan saling percaya.
Hal ini tak lain juga sebagai ajang untuk mencapai tujuan utamanya,
mencari ayah. Hari mulai sore, mereka beristirahat bersender di bawah pohon
beringin besar meminum satu botol aqua gelas per dua orang dan Amir mulai
menghitung recehan yang mereka dapatkan setelah setengah hari berkeliaran.
Sementara bola mata Ira bergerak pelan dari kanan ke kiri melantunkan
ayat-ayatNya.Sambil membaca ayat demi ayat, hatinya juga memanjatkan do’a agar
Allah mempermudah jalannya. Suara khas nya saat membaca huruf-huruf membuat
Amir jatuh cinta. Subhanallah, cengkok-cengkok
iramanya, makhroj hurufnya, ia
lafalkan dengan baik.
“ Kak Ira,. Kemarin Amir baca
selembaran yang tergeletak di jalan. Disana tertulis ada perlombaan MTQ
(Musabaqah tilawatil Quran) umur 12 sampai 15 tahun, kakak ikut yah!!”,
“Serius dek?”
“ Iya kak, kalau menang dapat lima ratus ribu,kak! Lumayan kan?”
“Iya dek, kakak ingin ikut”, jawab Ira senang karena uang nya sudah
habis tinggal lima ribu,hanya cukup untuk membeli makan hari ini.
“Kapan dek?”
“Malam ini, kak! Nanti Amir yang antar kakak ke tempat lomba yah?”
“Ia dek, terimakasih”.
Malam pun menjelma. Humaira bersiap-siap untuk mengikuti lomba
tersebut. Ia memakai pakaian seadanya. Ia mendapat giliran terakhir karena ia
adalah peserta yang terakhir mendaftar.
Sekitar lima belas menit ia tampil, pengumuman juara pun segera di
bacakan. Namun ia mendapat juara ketiga karena baju yang di pakainya sederhana
sekali tak sepadan dengan pakaian muslim yang dikenakan peserta lainnya. Tapi
kalau dari segi suara Humaira adalah yang nomor satu. Ia mendapat hadiah
seratus lima puluh ribu dengan satu buah piala. Uang itu sangat membantu
sekali.
Bunda Sinar mendatangi Humaira lagi yang masih
saja tidur beratap langit.
“Hari ini, pelajaran untukmu nak!, jangan pernah melihat ke atas
tapi lihat lah kebawah. Ia buka lagi Alquran putihnya itu, dalam Q.S.
Ibrahim/14:7 Allah mengatakan dan
(ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “ Sesungguhnya jika kamu bersyukur,
niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari
(nikmat-Ku), maka pasti azab sangat berat. Kemudian dalam ayat 34 Ia
menegaskan kembali dan Dia telah
memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu
menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh,
manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).Sebenarnya
bunda Sinar lebih sering datang ke dalam mimpi-mimpi Humaira. Dan ketika ia
terbangun di pagi hari, ia akan mencatat pesan-pesan bunda Sinar di buku
hariannya.
Paradoks 13
Ayah
Terdengar shalawat putih yang ikhlas bersahaja, berkibar bendera
kita langit biru dibelakangnya, dan perahu retak bagaimana cara mengayuhnya.
Detikan merah yang terus berputar di
setiap jam tak dapat dihentikan serta merta begitu saja. Jika berjalan
kebelakang tanda nya kita orang yang merugi. Jiwa raga cuma pada Tuhan diberi.
Hidup berganti nyeri dan ngeri. Meminjam langit untuk menemani di kala malam
menyambut dan meminjam angin lagi untuk membawa diri menari-nari di
ketidaktahuan.
Berlalu satu bulan makan, minum,
beribadah , mencari dan mencari mengalur hanya untuk bersua dengan ayah
tersayang tapi tak kunjung bertatap wajah. Satu bulan adalah waktu yang singkat
untuk kuantitas Jakarta yang padat. Tergolek di kejamnya dunia jauh dari ibu
memberi banyak nuansa bening pengalaman baru untuk Ira. Hari panas dan hujan,
hari garang dan topan, hari kemarau dan badai,hari riang dan senang.
Hati itu ada empat macam:
1.
Hatinya bersih yang didalamnya
ada lampu bersinar, itulah hati orang yang beriman.
2.
Hati yang hitam terbalik,itulah
hati orang kafir.
3.
Hati yang terbungkus,yang erat
dengan bungkusannya, itulah hati orang munafik.
4.
Hati yang dicampur aduk yang di
dalamnya ada iman dan munafik.
Generasi muda yang diharapkan untuk memperbaiki segalanya ke arah
yang lebih baik. Semua ada di tangan kita bersama. Pemuda yang berasaskan IMTAQ (iman dan taqwa) dan IPTEK (ilmu pengetahuan dan tekhnologi)
untuk suatu perubahan Indonesia dan Islam. Acting
By Heart. Lakukan semuanya dengan hati. Insyaallah, hasilnya akan baik.
Sudah satu bulan pula Humaira
tinggal bersama Amir beserta anak jalanan lainnya di kolong jembatan. Lengkap
sudah menumbuhkan rasa sehati diantara mereka. Berbagi ilmu dan kebahagiaan
dengan mereka adalah suatu hal yang tak akan mungkin bisa dilupakan. Tetap
berusaha bersedekah dan berbagi di ketidakmampuan. Menolong sesama yang
kesusahan. Bersyukur dalam segala situasi dan kondisi. Berbuat kebajikan demi kebajikan.
Walaupun hanya sekedar
menolong si nenek yang akan menyeberangi jalan sampai menyinggirkan duri dari
jalan sekalipun begitu juga memunguti sampah-sampah yang masih bisa di daur
ulang dan menghasilkan rupiah . Mendoakan sesama muslim. Dan intinya nikmat
ikhlas yang mendatangkan beribu rahmat tersebut. Hari ini, Humaira berpamitan
dengan mereka semua.
“Kak Ira pergi dulu yah, kapan-kapan kakak akan datang lagi
kesini,kakak minta maaf kalau punya salah dan terimakasih untuk semua
warna-warni nya,adek-adek kakak!!”
“ Kak? Kami sayang sama kakak.. Jangan pergi kak!”, anak-anak kecil
itu mendekap Humaira. Airmata tak terbendung sudah meleleh.
Keputusan Humaira memang sudah bulat. Setelah berpamitan dengan
anak-anak tidak lupa juga ia berpamitan dengan kakak muslimah, kak Mimi.
“ Semoga pertemuan kita memberikan keberkahan,Ira!”,kalimat terakhir
yang bermakna dari kak Mimi.
“Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh”, Ira pergi meninggalkan
mereka semua.
***
Humaira berjalan lagi menelusi jalan tol yang tak bertepi itu
ditemani oleh Bunda Sinar yang melayang-layang bebas di atas nya.
“Bunda?”, rintihnya.
“Jangan menyerah, nak!”,
“ Ia bunda”.
“Diujung sana akan kau temui penjual kaligrafi, cobalah bertanya
padanya, nak!”
“Apakah ia tahu tentang ayah, bunda?”
“Tanyakan saja!”,
Tanpa berpikir panjang gadis yang beranjak empat belas tahun itu
berlari kencang tak menghiraukan orang-orang yang ditabraknya ataupun yang
berlewatan di sekelilingnya.
“Ayahhhh!!!”, ia berteriak keras walaupun tak seorang pun yang
memperhatikannya. Hanya bunda yang geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh
gadis kecilnya itu.
“Pak? Bolehkah Ira bertanya?”
“ Ia nak?”
“ Bapak kenal dengan pak Habibi, beliau ayah saya, ayah yang sangat
ku rindukan!”,sambil menyodorkan kertas foto satu-satunya yang ia miliki.
“Pak Habibi? Ia, saya kenal dia”.
“Pak bawa Ira ketempat ayah?”
“Ayahmu sedang sakit keras sudah hampir satu bulan ini, dia tak bisa
ikut berjualan kaligrafi seperti saya”,mereka bercerita menelusuri jalan.
Humaira masih ingat sekali dengan jalan itu. Jalan yang
mereka lalui sekarang ini adalah jalan menuju mesjid yang berlapis cat hijau
itu. Ternyata ayahnya tinggal disana, selain sebagai penjual kaligrafi juga
sebagai marbot mesjid itu. Ayahnya sudah lama tak bekerja dengan pamannya
berdagang di toko. Karena pamannya gulung tikar, ia sering main judi, taruhan
disana sini dan mabuk-mabukan meminum khomar.35
Dan pamannya sekarang sudah menetap dibalik jeruji besi menatap hidup yang
suram. Karena tahun lalu toko tersebut sempat naik daun tetapi hal tersebut
malah membuat pamannya kufur nikmat dan sombong. Ia berfoya-foya dengan itu.
Bunda membuka
Alquran putih nya lagi Allah mengatakan
maka kami kirimkan kepada mereka topan,belalang, kutu,katak dan darah (air
minum berubah menjadi darah) sebagai bukti-bukti yang jelas,tetapi mereka tetap
menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.36
“Ayah terwabah
penyakit tifus bercampur dengan malaria, mungkin sudah sangat parah!”
“MasyaAllah,
bagaimana keadaan ayah sekarang, paman?”
“Keadaannya semakin
hari semakin memburuk, ia masih terbaring lemah di kamar marbot mesjid itu”,
paman itu menunjuk mesjid yang pernah Ira singgahi dulu.
“ Ayah?”, Ira
langsung menundukkan kepalanya di badan kurus ayah yang sudah dijalari
penyakit.
“Ayah, cepat sembuh
yah supaya kita pulang ke kampung, ngumpul bersama umak dan Abdullah lagi!!”
“Humaira,, anak ayah
sudah besar yah.., cantik sekali kau nak!”, di elusnya kepala Ira dengan
senyuman. Yang Ira tahu senyuman itu untuk menyembunyikan kesakitannya.
“Ayah?”, Humaira
menangis.
“ Hu..ma..ira…
Ahhhh…Ahhh!! Lailaha illallah, Muhammadar Rosulullah”, pak Habibi menghembuskan
nafas terakhirnya. Begitu mudahnya ia mengucap lafal itu. Mengalir begitu saja.
Tanpa diajari.
“Inna lillahi wa inna ilahi rojiun”, serentak kalimat itu
keluar dari mulut Ira,paman kaligrafi dan ustazd yang sering mengisi kuliah di
mesjid itu.
Wajah pak Habibi putih kelihatan sangat bersih, badannya kaku,
tangannya dingin, matanya sudah terpejam. Namun bibirnya tersungging sebuah
senyuman. Mungkin, ia tersebut saat melihat malaikal maut datang
menghampirinya.
“Semoga ia khusnul khotimah”, ucap pak ustazd.
“Aamiin”, jawab Humaira dalam hati. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi
saat itu.
Humaira berusaha mengikhlaskan kepergian ayah nya terlebih dahulu
menemui Sang Pencipta, Allah azza wa jalla. Walaupun sebenarnya kesedihan tak
dapat di sembunyikan. Tak bisa di sembunyikan sendiri.
Bunda Sinar hanya bisa menyaksikan dari kejauhan. Dan ikut berbela
sungkawa akan musibah yang menimpa gadis kecil itu. Lagi dan lagi bunda membacakan
sebuah ayat sebagai bentuk usaha menenangkan Humaira.
“ Dan kami pasti akan
menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan
buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillaahi
wa innaa ilaihi raajiuun” (sesungguhnya kami milik Allah dan pada-Nyalah kami
kembali).37
“Kita selalu dituntut untuk
tetap mempersiapkan diri menghadapi kematian, nak!”,
Sesungguhnya tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan yang
namanya mati. Setelah kepergian ayah Habibi,
Humaira tak tahu entah apa yang akan ia lakukan lagi di Jakarta. Tujuan
utamanya merantau ke kota itu telah hilang untuk selama-lamanya. Berita
meninggalnya ayah Humaira sampai hingga ke telinga pak Mahdi,bapak polisi
bertubuh kekar dan tegap yang dulu
menolongnya.
Entah apa yang menggerakkan hati nya. Ia berhati emas. Ia memiliki
keinginan untuk merawat dan menyekolahkan Humaira. Akhirnya, ia mengangkat
Humaira menjadi anaknya. Isteri dan anak perempuan nya tutup mulut tentang
rencana suaminya itu. Mungkin mereka juga beriba hati akan keadaan Humaira. “Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu
kea rah timur dan ke barat,tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang
beriman kepada Allah, hari akhir,malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi
dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang
miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta dan untuk
memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat,
orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam
kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang
yang benar, dan mereka itulah orang yang bertaqwa.”
Sebelum Humaira pergi bersama keluarga pak Mahdi, paman penjual
kaligrafi memberikan bingkisan berbentuk persegi panjang yang dibungkus dalam
sebuah kotak yang di alasi dengan kertas kado bercorak batik nusantara dengan
warna khas nya cokelat kehitam-hitaman.
“Ini ayahmu titipkan kepada paman, katanya bingkisan ini harus diberikan
secara langsung kepada Humaira, anaknya! Ini amanah!”, kata paman itu.
“ Ia paman, ku terima amanah ayah ini, termakasih paman!”,jawab Ira
menunduk.
Paradoks 14
Bersyukur
Sepeninggalan ayahnya, Humaira tinggal di Jakarta bersama dengan
keluarga pak Mahdi.Pak Mahdi sudah menganggap Ira sebagai anak kandungnya
sendiri tanpa membeda-bedakannya dengan anak perempuannya itu. Ia mendaftarkan
Ira ke sekolah menengah pertama yang sama dengan putrinya. Ia menjalin
persahabatan dengan Nadyah dan mereka sudah seperti saudara kandung. Ternyata chemistry38 antara
mereka dengan cepat terjalin. Tetapi setelah tamat smp, Nadyah memilih untuk
melanjutkan ke sekolah menengah atas dan Humaira memilih untuk berpondok di
pesantren karena ia ingin melanjutkan keinginannya untuk menjadi seorang
hafidzah. Karena ia ingin mempersembahkan mahkota kemuliaan bagi kedua orang
tuanya di hari pertanggung jawaban nanti. Tak ada kata terlambat dalam belajar
untuknya. Tuntutlah ilmu dari buaian
hingga ke liang lahat.
Tiga tahun berganti begitu cepatnya, kini ia bukan lagi seorang
pelajar tapi seorang mahasiswa. Di sepertiga malam ketiga, Humaira
terbangun dengan cepat mengambil air
wudu’. Bermunajat kepada Allah. Bersujud di keheningan malam. “Bacalah Alquran
dan menangislah. Apabila kamu tidak menangis maka usahakanlah seakan-akan
menangis(karena ayat yang kau baca). Ira ingat akan umaknya, Abdullah , Mandailing Godang, tanah tempat pertama ia
melihat terang. Lalu, ia mengirimkan do’a kepada kedua orangtua nya.
Bunda sinar ternyata masih ada bersama nya. Bunda melayang-layang di
udara.
“Secepatnya,kamu akan bertemu dengan ibumu, nak!”,
***
Kicauan kebahagiaan terdengar begitu nyatanya. Umak Ira, mak Idah
dan Abdullah yang ditinggal Ira dikampung mengakhiri luahan angin puting
beliungnya. Sakit yang diidap umak lebur seketika. Syair-syair cinta semakin
sering meluap , meledakkan diri ke permukaan langit maupun bumi. Manyebut
asmaNya setiap waktu. Getah mahal harganya begitu juga dengan karet. Sama-sama
memiliki nilai esensial tersendiri.Tetapi kebajikan mereka melampaui dari kata
mahal sekali ataupun sangat mahal sekali.
Kecupak air menyanyi, mengalunkan nada gendang tamborin berbeda tergantung
suasana hati yang memainkannya. Bermain musik dengan air sungguh menarik minat
setiap hamba. Unik dan berfantasi. Mengelus imajinasi tinggi. Berpikir
menggunakan logika yang sederhana namun istimewa dan luar biasa.
Hektar demi hektar tanah kuning, petak demi petak sawah, jengkal
demi jengkal sampah, baris demi baris keong ikut berkumpul dibalai desa
menyaksikan, beramai-ramai berdoa kepada mak Idah, Abdullah, Yusuf dan keluarga
ustazd Habiburrahman akan insyaallah akan segera mengunjungi baitullah,Makkah
Al Mukarramah. Dawai-dawai talbiyah terdengar semakin dekat.Keluarga ustazd
Habiburrahman yang membiayai biaya umrah mereka.
“Semoga Allah membalas kebaikan-kebaikana mereka!”,pinta Umak Ira.
“Dan semoga rezeki keluarga bang Yusuf di tambahkan, Ya Allah!”,
pinta jagoannya pula.
Ikan-ikan yang bertasbih disungai-sungai, belalang yang bersembunyi dibalik hijaunya
rerumputan, semua makhluk Allah, malaikat, bumi , langit dan seisinya beserta
ribuan malaikat ikut serta mengaamiinkan doa mereka.Sudah banyak sekali
keluarga Yusuf membantu segala kekurangan yang dibutuhahkan Umak nya Ira
misalnya ketika tak sebutir padi pun tak nampak ada di dandang penanak nasi
mereka, ketika ia maupun Abdullah sakit, segala pengobatan nya keluarga Yusuf
yang membayarnya.
Beberapa hari
kemudian dihitung dari hari ini. Tibalah mereka di Arab Saudi. Jutaan kaum
muslimin dari berbagai belahan dunia berdatangan memenuhi panggilan Allah. Jika
duduk terpaku menunggu giliran haji mungkin masih jauuuuhh sekali
gilirannya,sepuluh tahun ke depan mungkin. Jadi dua keluarga ini memilih untuk
umrah. Perbedaan umrah dengan haji hanyalah soal waktu dan niatnya.Umrah bisa
dilakukan sewaktu-waktu sesuai keinginan baik itu setiap hari, setiap bulan dan
pertahunnya. Sedangkan haji hanya dapat dilaksanakan pada beberapa waktu antara
tanggal 8 hingga 12 Zulhijjah. Berbeda dengan haji, wukuf di Arafah tidak
merupakan rukun umrah.
Untaian talbiyah menggema mengiringi langkah
mereka menjejak Tanah Suci Makkah. Berbagai atribut dan pakaian kebesaran yang
di pakai sehari-hari di lepaskan. Diganti dengan pakain suci,ihram.
Ketika pakaian ihram dikenakan,didalam lubuk hati paling dalam
tercetus pengakuan, “Sesungguhnya
kulitku,dagingku dan seluruh jiwa ragaku seluruhnya akan kejauhkan dari hal-hal
yang engkau haramkan”.Ihram membuat kita sadar, semua yang melekat dalam
diri kita bukan milik kita yang sesungguhnya.
Dalam keaadaan berihram, dari tempat miqat masing-masing kaum
muslimin bergerak memasuki masjidil Haram. Di awali dan di akhiri dari sisi
Hajar Aswad mereka mengitari Ka’bah,thawaf sebanyak tujuh kali putaran. Mereka
bagai diajak mengikuti perputaran waktu peredaran peristiwa namun tetap
berdekatan dengan Allah. Faktanya, jika kita meletakkan kompas di dekat Ka’bah
, ia takkan bergerak. Karena memang betul sekali pusat dunia adalah di Ka’bah.MasyaAllah.
Hari demi hari sudah meninggalkan mereka. Hampir satu bulan.
“Alhamdulillahirabbilalamin”,
ucapan syukur menguntai dari mulut dua keluarga tersebut.
Seluruh rangkaian rukun haji begitu juga sunnah nya sudah tertunaikan dengan lancar tak ada halangan
apapun. Abdullah , jagoan yang selalu
ada di samping mak Idah yang sudah berumur 19 tahun sudah banyak berubah. Dia
sudah beranjak dari kata dewasa. Lalu bagaimana dengan Humaira Zafratunnisa?
Anak sulungnya, putri kecil kesayangannya.
“ Bagaimana kabarmu, anakku?, dimanapun engkau berada mudah-mudahan
Allah melindungimu, nak!, semoga kita cepat bisa bertemu!”, mohonnya kepada
Ilahi ketika beberapa hari yang lalu berada di Jabal Rahmah.
Sebelum pulang ke Tanah Air, mereka menyempatkan diri untuk sholat
arbain. Sholat arbain merupakan sunnah Nabi Muhammad SAW. Pelaksanaannya
bukanlah termasuk rangkaian ibadah haji maupun umrah,baik sebagai rukun,wajin
maupun sunnah. Yang dimaksudkan adalah pelaksaan sholat wajib 40 kali
berturut-turut, di awal waktu dan tidak boleh terputus. Dan ibadah ini
dilakukan di masjid Nabawi.
Mereka memasuki Madinah menjelang isya. Suara yang azan begitu merdu
bak suara Daud as. Membuat setiap orang yang mendengarnya pasti tergugah lubuk
hatinya. Hati yang bergetar ,berzikir atas nama Allah diberi kesempatan
berkunjung ke mesjid yang Rosulullah sendiri ikut turun tangan dalam proses
pembangunannya. Mesjid ini mempunyai nilai spiritual tertinggi kedua dikalangan
umat islam sedunia. Mesjid yang dibangun pada 1 Hijriah dengan ukuran 2.475 m2 sekarang sudah mengalami perluasan menjadi
165.000 m2.
Mereka akan mabit disana selama 9 hari. Abdullah bersendar di
tiang-tiang penopang mesjid yang dilapisi dengan emas. Sejuk. Nyaman. Berbeda
dengan masjidil haram, lantai Nabawi di alasi karpet tebal dan bagus yang di
dominasi warna merah sehingga jamaah tidak perlu lagi membawa sajadah.
Tiang-tiang mesjid juga dilingkari dengan tempat penyimpanan sandal yang
disusun apik dan lihatlah kaki Abdullah tak pernah berhenti. Ia sama sekali tak
lelah,ia melihat ada gentong-gentong berisi air zamzam dilengkapi dengan gelas
platik. Kepala nya mendongak ke atas tak jemu ia dengan teliti menghitung kubah
mesjid.
“Bang Yusuf, semuanya ada 27 kubah”, teriaknya senang.
“Abdullah, kau tahu kubah tersebut dapat digeser-geser,lihatlah ia
mulai bergeser”,bang Yusuf menunjuk ke arah atas.
“Untuk apa dilakukan itu bang?” tanya Abdullah penasaran.
“ Kubah itu dibuat untuk sirkulasi udara, sehingga udara segar dapat
mengalir ke dalam mesjid”.
Seolah tak ada kata puas
melihat itu semua, Abdullah masih saja asyik untuk cuci mata mondar mandir
kesana kemari. Sementara yang lainnya lebih memilih untuk beristirahat dan
membaca Alquran. Yusuf mengikut saja dibelakang
Abdullah.
“Bang Yusuf, lihatlah perempuan itu.. dia sedang menangis!”, telunjuk Abdullah mengarah ke
gadis berkerudung panjang lembut berwarna putih yang bersunyi-sunyi di sudut
mesjid.
“……”,Yusuf terdiam. Ia melihat Alquran orens yang pernah diberikannya
kepada Humaira dulu ketika ia akan berangkat ke kota tergenggam di jari-jari
lentik wanita itu.
“Ayo,kita kesana bang?”, ajak Abdullah.
“Assalamualaikum..”, mulai Yusuf sopan.
“Walaikumsalam..”, wanita itu mengusap airmatanya dan perlahan
membalikkan badannya.
“Kak Ira…!!!”, teriak Abdullah.
“Humaira..” lirih Yusuf
kaget.
“Umakkk…. Umakkkk….!! Kak Humaira ada disini”
“Anakku..?”, tanpa berpikir panjang mak Idah langsung berlari dan tak
sabar mendekap putri kesayangannya erat.
Yusuf mencoba berbicara dengan Humaira.
“Kamu masih menyimpan Alquran orens pemberianku,Ira?”
“Ia Yusuf, aku sangat suka melihatnya sehingga jika tak ada
halangan, tak satu hari pun aku melewatkan untuk membacanya”
“Sungguh?”, Yusuf memastikan. Wajah nya menjalar warna kemerahan
seketika.
“Mungkin kah Humaira juga memendam perasaan kepadaku,seperti yang
kurasakan selama ini, entahlah!”,suara hatinya angkat suara.
“Ia, Yusuf”, jawab Ira memberikan senyuman ramah.
Kebagiaan hakiki membanjiri keluarga kecil itu. Tak di sangka doa umak
nya Ira begitu cepatnya di kabulkan Allah. Mereka bertiga saling berpelukan dan
melepas kerinduan. Anak mak Idah keduanya sudah besar, satu si cantik dan satu
lagi si tampan, sholeh dan sholehah. Keluarga ustad Habiburrahman melihat
mereka senang ditandai dengan senyum yang menghiasi wajah mereka.
Humaira pun menceritakan sebagian besar kisahnya sekitar sepuluh
tahun seiring dengan perputaran roda tanpa orangtua disisi. Ira mendarat di
Arab Saudi tepatnya di Kairo seminggu sebelum rombongan keluarganya tiba.
Setelah sebulan mengurus segala keperluan S2 nya,Ira memilih untuk berkeliling
disepanjang tempat gersang yang damai, berkunjung ke tempat-tempat bersejarah
Islam. Setelah kemarin dari mesjid Quba yang jika melaksanakan sholat disana
pahalanya sebanding dengan melaksanakan umrah, ia berpindah untuk beriktikaf di mesjid Nabawi hari ini.
Sebenarnya di bandara beberapa waktu silam ,sehabis mengurus visa dan segala
macamnya Yusuf mendengar kabar Humaira akan melanjutkan pendidikannya ke Kairo.
Yusuf sudah berusaha bertemu dengan Ira tetapi Marwah mengatakan bahwa Ira
sudah terbang beberapa menit setelah ia datang.
“Umak.. Ayah sudah meninggal 10 tahun yang lalu”
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun!, mengapa kamu tak memberitahu
umak dan keluarga yang di Mandailing,nak?”,
“Ira mau hubungin keluarga pakai apa mak? Kita tidak mempunyai handphone sama sekali.
Tak ada nomor yang bisa di hubungi. Ira juga ingin pulang dulu tapi Ira sudah
tak punya uang lagi,mak!”,
“Ia nak, umak mengerti..”
“ Ini bingkisan yang ayah berikan kepada kita, mak!”, Ira
mengeluarkan bingkisan berbentuk persegi panjang dari tas ranselnya.
“Ira sengaja belum membukanya, Ira ingin kita membukanya
bersama-sama,pasti ayah disana bahagia melihat kita akur seperti ini, mak!”
“ Ia nak, mari kita buka bersama”,
“ Ayo cepat buka mak”, Abdullah sudah tak sabar.
Robekan kertas bungkus kado bercorak batik cokelat bercampur hitam
itu yang membungkus hadiah itu rapi selama sepuluh tahun. Dan ternyata isi
bingkisan berbentuk persegi panjang itu adalah kaligrafi yang berukirkan
kalimat hamdalah, “Alhamdulillahirabbilalamin” di bawahnya d ikuti dengan syahadatain. Seolah-olah pak Habibi
mengetahui, keluarga kecilnya akan dipertemukan Allah ditempat yang agung. Dan
hanya deretan kata syukur yang mengalir bersamanya.
Bak kupu-kupu yang
berputar-putar jikalau ia mendapatkan nectar dari tumbuhan berbunga, Bunda
Sinar memunculkan eksperesi yang begitu sumringah, pipinya terangkat,matanya
berubah menjadi sedikit sipit, ia tersenyum lebar melihat keluarga kecil
Humaira dipersatukan lagi dalam satu ikatan menggapai pentas menuju ridho Allah
Swt. Perlahan ia melayang sehingga di langit hanya tertinggal seberkas busur
cahaya kebahagiaan.
Di bagian pinggir ujung garis bingkai ukiran kaligrafi
ayah, tersulam indah tulisan tali, yang jika dibaca akan membentuk sebuah
kalimat indah yaitu Untuk isteriku tercinta, Hamidah
az Zahra dan dua belahan jiwaku Humaira Zafratunnisa dan Abdullah al Ghifari.
Ayah sangat merindukan kalian semua, keluarga kecilku. Ukiran kaligrafi
bertuliskan Alhamdulillah itu agar kita selalu ingat untuk bersyukur.



Silahkan tinggalkan komentar dan terimakasih sudah meninggalkan komentar.