Saturday, 10 March 2018




Sahabat hati

Diantara gejolak hati yang aneh
Ku mencari, bertanya tuk bersua
Dimana dirimu?

Cakarannya mencengkram urat leher erat
Seperti ada yang mencabik hati
Dicabiknya dengan kobaran api
Ahh..
Diriku saja bingung!
Semburannya meluap begitu tiba-tiba
Keras dan penuh ambisius
Menggedor-gedor pintu bathin kosong
Linglung...
Mengapa pintu itu terdorong, tergeser perlahan?

Diantara senyuman bibir merah yang lusuh
Kutanya hendak apa gerangan?
Datang begitu saja?
Pergi begitu saja?



Lihatlah, matahari merangkai perputaran semu
Lihatlah, ia disingkirkan oleh gumpalan balutan kelam
Lihatlah, gumpalan itu melapisi bumi, kelam!
Perputaran itu kulewati tanpa makna
Apakah hanya tuk menitip empedu pahit?
Ataukah..
Segores coretan kenangan ingin singgah?
Kenangan yang hanya mengembara di senja cuaca hatiku
Tuk mengembalikan setitik demonstran,
Kumpulan klakson yang dulu menetap dimasa silammu?
Tak harapku diberi bubur
Santapan orang yang berada di kota-kota...
Hidup disela ilalang kemelaratan saudaranya
Tak ingin arakan buah kasihmu
Tak jua zamrud permata milikmu
Jangan berpikir begitu!

Ketika itu langit pucat
Tak sungkan mengguyur kami
Ia juga bercerita
Selembar kertas putih polos
Seenaknya kau kutuk ia


Dengan hirupan udara yang menyesakkan
Resah menggeliat ,menggerutu
Oper-operan kisah kulempar
Tangkai rem begitu adanya
Merpati menyampaikan bunyi
Ikhtiar tuk curahan solusi
Garis-garis fana sandiwara
Untuk hilangkan testamen
Yang tiba-tiba tergelincir, meluncur, melesat singgah di hati
Namun,
Aku mencangkung , kaku dan canggung
Tanah itu bergoyang ke kanan, kiri
Menggelengkan keinginan
Tak ada yang bisa dipercaya
Garis tipis macam gerakan air di pasir,
Ingin ku kubur di dasar lautan hindia
Di dasar lautan relung sebaris rasa
Sampai mikro detik,
Menating diri sendiri kelubang kuburan





Aku makhluk sosial
Takkan bisa termangu,
Berdiri gagah di tanah khatulistiwa
Pertaruhan ilusi,
Tak ada yang memberi sinar,
Tuk kubanggakan ,
Selain rindu rasa ketulusanmu

Belum selesai menjadi novel
Sudah robek dihalaman pertama
Tragis ataukah romantis?
Entahlah..
Habis kikis diambangn kebingungan..

Engkau cemburu,
Engkau ganas,
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas

Kubuka tirai pelik
Kuingin rindu rupa belaka di telan
Dan ia melambai pulang perlahan


Meratap menangis bersuka raya
Ku ingin memintanya untuk meniti waktu
Mencari nada piano medan hati, sehati untuk sebuah mimpi`

Kuharap,
Dalam rindu sendu mengharu kalbu,
Dia ada untukku,
Aku ada untuknya,
Kubaca halaman demi halaman
Taufan ditarik kenyataan
Menyentak merentak-rentak
Hingga kini,
Ruang-ruang batinku
Masih mara mewaja
Menanti seorang sahabat hati,
Yang mendengar curahan yang mengurai hati

26/10/15

Silahkan tinggalkan komentar dan terimakasih sudah meninggalkan komentar.

NANDA SRI WAHYUNI PULUNGAN . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates