17-8-1945 ( Puisi Kemerdekaan)
17-8-1945
Terdengar sholawat putih
Yang indah bersahaja
Merengek- rengek mendamba,
Harapan dan impian lembar kenyerian hati
Matahari melukai wajah
Awan kirimkan hujan duri
Yang merampas setiap urat nadi
Batu dan aspal berbaju merah
Jalan-jalan raya adalah coretan hitam
Potret-potret spiral sejarah
Kawanan serigala sengit bangsa ini
Jurang-jurang membujuk maut
Di dendangkan sepanjang langit senjakala
Tak tercatat oleh peta sinyal
Gemuruh jerit keramaian itu,
Masalah-masalah kelaparan dan kemiskinan
Melambaikan relung
jiwa yang retak
Menyusur cemara saniter hospital
Cucuran tangis mengulum hanyut,
Terbentur keras
Terbang senada melodi
Arwah mawah merah
Dan melati putih menyosong pagi
Di temani hantu kupu-kupu bianglala
Garuda gagah mengepak kelopaknya ke angkasa
Makin melayang curam
Jagad semesta memilih diam
Gigir gunung megah,
Pohon menentang badai
Front kebangsaan dan aliansi taktis
Melangkah ke gugus hasil akhir
Rak-rak panjang
jangkar tipu daya, negeri ini
Samar-samar merembes
Tiga dara merpati putih
Melantunkan harmoni bakti
Untuk semua berikade pehlawan nusantara
“Indonesia raya merdeka, merdeka..”
“Tanahku, negeri ku yang kucinta,.”
“Indonesia raya merdeka, merdeka..”
“Hiduplah Indonesia raya..”
Sorak sorai hiruk pikuk dunia menghiasi
Ada yang murung dan adapula yang bersyukur
Sungkuran sujud datang berbaris-baris
Gumaman mereka menembus kabut hitam
Kepulan api-api kobaran kenistaan
Keserakahan penjajah memakan kerupuk emas
Sulam-sulaman nikmat Tuhan untuk tanah ini,
Soekarno,
Sang pelopor garapan risau
Berpijak tegak di podium singa nan eksotis
Tendangan injakan penindasan
Lampu pijar berjuta-juta hitungan
Terangkan salam pada sibusur waktu
Sebuah telunjuk usang,
Dengan kuku berwarna biru
Ia topangkan
Tegak dan luruskan ,
Empat puluh lima derajat
Ia biarkan mengambang di patuk burung
Di pantai alam bebas
Mengarah ke garuda gagah di angkasa tadi..
Rahang meriam buncahkan antero negeri
Pekikan sukma, insafkan diri
Sayap keemasan melintang tujuh belas deret
Muda mudi menari kelojoran
Bola mata berjalan setapak
“Hei... lihat itu!!” jerit rakyat kegirangan
Lapangan luas lautan insan yang bernama manusia
Menengadahkan kepala ke atas
Garuda mengangkat delapan bilah ekornya
Mereka tertawa lebar
Menengok kekanan dan kekiri
Tebaran ranah dan ratapan ini
Mengantar raba
guratan peristiwa
Tersorot jelas di kamera
Puluhan juta pasang mata
Bulu keamanan di bawah perisainya
Sembilan belas almamaternya
Bulu kebebasan bergerak menghidupi desa demi desa
Kemudian menjalar semakin menjadi-jadi
Kota per kota kampung indonesia
Amboi..
Bulu leher garuda itu
“Lihatlah!!”, jerit rakyat lagi
Bawakan cendramata permai ,
Angka empat puluh lima , saudaraku!!
Hari ini,
17-8-1945!



Silahkan tinggalkan komentar dan terimakasih sudah meninggalkan komentar.