Setangkai kenanga imajikan syahdu Memetik angin selingga jingga Yang tampak hampa dirumpun taman Fajar menyemburkan aneka rama-rama Menjemput lendir kuning di remang pagi
Aku pernah bersamamu Merasakan sedih dan semangat yang sama Aku seorang cendikia, bercita rasa luar biasa
Diamlah, Dan lihat itu...! Kumpulan awan kerap mengundangku bermimpi Tentang cita-cita lusuh Yang kulesatkan noda tinta di catatan tuaku Berbekal warisan pemberian ayah! Catatan tua itu berselimut debu tebal Menganga di bufet dadaku
Bagai mengusung beribu laba-laba yang menggantung Aku ingin Indonesia tetap sebagai objek Objek dalam album-album sejarah dunia Tak ada lagi angan selain itu
Aku tahu bahwa ddia tahu Belantara antero ini sedang kritis Aku tahu bahwa dia tahu Penopang tiang-tiang seringkali goyah Terbuai kilauan dan naungan pepohonan Hingga cabng-cabang nya masih dipertanyakan? Daunan hijau pun kering dan berguguran Bunga apalagi ? Wanti-wanti tuk mekar di jagad sengit yang penuh dengan bunyi Kehebohan ego di sepanjang pesisir jalan Aku tahu bahwa dia tahu Sudah tiba momen tuk membuka lembaran langit Membaca dan menghayati halaman-halaman terlipat Aku tahu bahwa dia tahu Kurajut benang hidup waktu yang ku lalui Bilamana keragaman suguhkan kebersamaan
Sekali lagi, Aku tahu bahwa dia tahu Ketika sawah ladang menuai cerita Langit dan bumi menjalin cinta Untuk kejayaan Indonesia!
Rumusan silsilah permainan bisu Dongengkan lakon-lakon perbedaan baru yang menyebar Savana! Savana! Savana! Savana lukiskan pengertian Indonesia yang kumaksud
Kau tahu? Sebenarnya aku bingung Acapkali ku membakar pucuk-pucuk rindu Menggulung segala peta buram perjalanan Namun, Aku belum bisa Sudahlah, Hangus warna sekelam sekam Kaldera itu lupakan saja
Merancang kencana akhir Aku akan bercerita bahwa Indonesia menampung jutaan kantong berlapis emas Yang berpendar dan berserak binak Dipunggung angkasa luas antero ini
Dijaga seribu gunung, Mengurai seribu pantai Tergenang seribu markas kota Terkubur seribu mimpi yang belia
Kisah dari buku-buku Setiap detik terus bergoyang Sejuta kata yang tersimpan disaku hatiku Kumuntahkan melalui puisi-puisiku Tak cukup ilustrasikan bermap-map Lengkungan ragam bukit ini
Kala mentari menyerukan perasaannya Mengorbit gundukan-gundukan tempat kita Ragam bahasa! Ragam suku! Ragam seni merah kuning hijau warna warni Lantunan lalala-lilili-tralatrali Melodi hitam putih menghirup damai Itu dentingan yang amat kusukai Siluet yang kubayangkan dicatatan tuaku Meski kucari kian kesana , kemari Pendorong perang api, pertempuran besi itu tak ada ! Sebab , Kuputar kota ini padaku Aku tertembak pita garuda kebanggaan negeri , “Bhinneka Tunggal Ika” Kebahagiaan singgah tuk bersua dan berseru Catat, susun, rampungkan Terus menembus surya cahaya Kita bangkit dengan kesadaran Kita benua pelangi!
07/04/16
|
Silahkan tinggalkan komentar dan terimakasih sudah meninggalkan komentar.