Menggigil angin memanggil malam yang kelam gulita
Nafas zaman yang busuk
Melekat dengan kebosanan aliran cakaran kefanaan
Nafas zaman yang busuk
Mengamuk , mencabik dengan amarah badai
Nafas zaman yang busuk
Mengubah kolam susu menjadi tetes demi tetes darah
Peradaban?
Akhir zaman?
Dunia dengan seratus juta sandiwara yang gemertak
Menggigit lidah
Menggeliat jari dengan ilusi
Moral bak nyanyian puisi lusuh berbau basi
Di irama bumi tanah tercinta
Moral mencelma menjadi segelintir
Pekik dan tempik yang mengerang
Ada diatas ilmu?
Manusia yang berakhlak?
Itu yang sering melintasi pita pendengaranku
Sewaktu aku belajar mengaji di lorong sempit, kampungku
Umurku masih tujuh tahun
Mimpi yang nikmat
Bercelup dengan serdadu-serdadu peluru rucing
Semua hati tertembak
Tertumbuk-tumbuk halus
Hancur...!!
Dipuncak
pengharapan tertinggi
Hanya uang, uang dan uang saja
Sekedar ego, ego dan ego yang merasuk
Berontak hati ingin bebas
Dari marak yang mengorak corak
Dimabuk berarak-arak
Gusti?
Yang mengetahui perihal baik dan buruk
Di sepertiga malam yang mulia
Aku tersungkur , bersujud di sajadah panjang ini
Airmata mengalir dan menenggelamkan pias wajahku
Memohon polesan kasih sayang dan ampunanMu
Nafas zaman yang busuk
Angin pagi berhembus ditaman naung
14 November 2015 |
Silahkan tinggalkan komentar dan terimakasih sudah meninggalkan komentar.