Layung-layung senja melambung hilang Dalam hitam malam menjulur tergesa Gugur mega kemabali ke peraduan Membawa taburan gugus awan merah saga yang menawan Di tepi danau, Rinai tetes-tetes air menemani aku dan dia Aku bertanya, Dia memandang gerimis titik-titik di empang tenang Dan pelan berkata “bedebah”!
Bedebah? Suara itu membentur dinding pohon dan susut dalam dingin Langkah-langkah kaki imajiku menerawang Membawa derai ombak menyeberang samudera Menanyakan pada sang rumput yang bergoyang Senyap! Tak berkutik! Tak ada jawaban yang terhantar angin, Kami duduk berdampingan, Bagai dua merpati putih Yang bertengger di tali kabel listrik, sore hari Ya , Merenungi hidup, Yang hidup dalam kehidupan Melratapi pulau ratapan mati Yang mati dalam kematian Sekedar menatap keping-keping alumina Nama-nama yang dipahat elok Mengusap-usap lukisan-lukisan Dan potret tugu para pahlawan nan disanjung
Desir hari lari berenang Mengeja rangkakan bujuk secercah usungan yang masih pengap harap Gelak bayang telah pudar, Pada qalbu gempita guruh yang menyiksa Kilau kilat membelah gelap Di tangan hanya ada secarik origami warna-warni dan pena mimpi Pada terik tengah hari Garis perahu timbul di danau Segar angin terasa mencubit-cubit pori-pori, Insting kabarkan,
Pemuda dan pemudi Tonggak perisai tapak jejak firdaus Indonesia Kita yang dibalik topeng-topeng Lika-liku tantangan cita dan cinta zaman Tuk sejemput harapan kejayaan Dari puing-puing keberagaman yang menyala
1000 perahu kertas asa Telah berlayar serentak mengelucak ria di permukaan danau Menyelinap diantara teratai dan ejeng gondok nakal Menerobos jembatan yang memancar pencar ke penjuru segala kota negeri ini Keadaan hati menengadah Sekali tiba ditangan ramah kencana peduli Mewarisi darah kafilah penyongsong kemerdekaan Melihat cuplikan sinetron fantasi Terbang ke surga penuh bidadari Langit biru, langit biru! Corak sambutan yang kini di nanti
Bedebah? Gema galak dari mana itu ? Kepada kawan, Aku tak suka kata bedebah Meski aku ini binatang jalang dari kumpulannya yang terbuang Seperti rintihan chairil anwar Tapi aku dan teman-temanku Akan mendobrak beton penghalang kami datang sekuat raksasa Demi Indonesia
Hidup seperti puisi Saat si penyair menuliskan sebuah syair Di setiap sajak Suatu keputusan menunggu kita
Meliar Mengembara Petik keindahan langit dan laut dengan leluasa Lekaslah , hawa tengik perlahan terganti Kala generasi muda luluhkan keberagaman Menjadi satu ikatan bertatah indah Meletup-letup bak pop corn manis
17/04/16
|